By : Rijal Muhammad
Silahkan Download beberapa buku yang saya muat untuk menjadi koleksi bacaan Anda :
1. AYAT-AYAT FITNA. Karya M. Quraish Shihab. Download
2. BUAT APA SHALAT. Karangan Haidar Bagir. Download
3. BERIMAN TANPA RASA TAKUT. Karya Irshad Manji. Download
4.
5.
6.
Selasa, 28 Agustus 2012
Rabu, 22 Agustus 2012
Jangan MENGANGGAP Allah Seperti Itu,,,
By : Rijal Muhammad
Pada prinsipnya, tak satupun seorang Muslim yang mengingkari kemahabesaran dan kemahakuasaan Allah SWT. Dari pemahaman itu, semuanya akan tunduk dan menjadikan-Nya sebagai penolong, pelindung dan tempat mengadukan semua hal yang dirasakannya. Namun, mungkin karena kekurangtahuannya, dia memperlakukan Allah, menganggap-Nya secara salah bahkan perlakuannya itu -tanpa disadari- hingga menjurus kepada kedangkalan aqidah. Akan menjadi sangat naif rasanya, jika pada dasarnya seseorang ingin memuliakan-Nya malah kemudian merendahkan-Nya. Wal iyadzu billah.
Jumat, 17 Agustus 2012
Merevisi Makna dan Tujuan IDUL FITRI
By : Rijal Muhammad
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan idul fitri, yang salah adalah cara pandang sebagian masyarakat Muslim, cara menyikapi dan memahaminya yang tidak tepat bahkan keliru sehingga idul fitri yang setiap tahun itu dirayakan menjadi kosong makna dan tujuan dan tidak berdampak apapun bagi perkembangan kepribadian dan spiritualnya.
Pada dasarnya semua ibadah yang dilakukan oleh kita itu bersifat pengulangan, termasuk moment-moment tertentu seperti hari raya idul fitri ini. Sesuatu yang bersifat pengulangan itu memiliki mkana pembiasaan, pelatihan hingga pemantapan. Puasa misalnya, perlu dibiasakan, dilatih dan dimantapkan. Begitu juga dengan ibadah yang lain. Hal itu dimaksudkan agar kita menjadi terbiasa dan mengetahui bahkan menguasainya. Bayangkan jika kita sudah berada dilevel menguasai -dalam hal apapun- pastinya segalanya akan berjalan dengan lancar, mudah dan mengena. Demikianlah sebetulnya yang diharapkan dari semua bentuk ibadah yang kita lakukan secara terus menerus itu.
Nah, idul fitri sudah kita lalui dan rayakan sepanjang umur kita berada. Pertanyaannya adalah membekaskah moment idul fitri tersebut bagi kepribadian, jiwa, mental, emosi dan spiritual kita yang semestinya bisa membawa kita pada keluhuran hidup. Jawabannya ada didalam diri kita semua. Karena itu memahami semua ibadah, bacaan, moment yang selalu kita lakukan mutlak diperlukan.
Kata idul fitri berarti kembali kepada fitrah. Fitrah adalah keadaan penciptaan kita yang suci, bersih dari segala noda dan kesalahan. Karenanya, setiap bayi yang terlahir dari siapapun -termasuk dari orang non-Muslim- hakikatnya adalah suci tanpa dosa tinggal bagaimana orang tua dan lingkungan yang akan membentuknya untuk bisa tetap fitri atau tidak. Penggunaan kata 'id yang berarti kembali mengindikasikan bahwa kita pernah beranjak dan meninggalkan keadaan fitri tersebut, tentunya dengan dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Semakin banyak dosa dan kesalahan tersebut, maka akan semakin banyak pula kita menodai nilai-nilai fitri itu. Inilah yang sudah dimaklumi oleh Allah sebagai Khaliq kita yang kemudian Ia mendesain sistem yang membuat makhluknya yang bernama manusia -sebagai makhluk yang banyak salah dan lupa- kembali pada jalurnya yang benar, yaitu suci dari segala kesalahan dan dosa dengan cara melakukan puasa.
Hal ini mudah diketahui, tapi sulit untuk disadari dan menimbulkan niat memperbaikinya. Kalau kesadaran untuk memperbaiki sudah hilang maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan sulit melakukan puasa dan menangkap makna dan rahasia puasa. Jika demikian, maka yang terjadi idul fitri dan ibadah yang dilakukan akan sama sekali tidak memberikan bekas apapun. Dan inilah yang terjadi.
Untuk itulah perlu direnungkan bahwa idul fitri bukanlah untuk mereka yang mempersiapkan segala hal-hal yang baru seperti baju baru, rumah, kendaraan bahkan istri baru. Tapi idul fitri itu diperuntukkan bagi mereka yang ketaatannya setelah Ramadhan semakin baik dan meningkat sesuai dengan bulan syawwal yang dihadapinya ketika itu yang memiliki arti peningkatan. Idul fitri juga akan salah dipahami sebagai hari kemenangan, jika kemenangan yang dimaksud hanya sebatas mampu berpuasa sebulan penuh, melakukan taraweh dan rutinitas yang lazim dilakukan saat Ramadhan kemudian dia berhenti total untuk melaksanakan setelah merayakan idul fitri tersebut.
Dalam rangka memahami dan memaknai idul fitri itu dengan baik, maka kita harus mengubah paradigma berfikir tentang puasa yang sebelumnya kita lakukan.
1. Memahami bahwa puasa itu adalah sebagai riyadhah
Puasa itu adalah sebagai riyadhah, latihan atau penggemblengan. Bulan puasa memang seharusnya bulan penggemblengan dan latihan bagi kita. Penggemblengan fisik supaya menjadi lebih sehat, penggemblengan jiwa sehingga mampu melahirkan sifat simpati, empati, kepedulian sosial, rasa kebersamaan dan lain-lain. Penggemblengan spiritual sehingga dalam kehidupan kita mampu -intinya- menghadirkan Allah dalam setiap ucapan dan perbuatan yang akan membuat kita menjadi mawas diri dalam segala hal. Hal ini mutlak dipahami demi menjaga keberlangsungan dan keseimbangan hidup kita yang lebih baik dunia dan akhirat.
Karena puasa sebagai riyadhah, maka setelah idul fitri itu berlalu kita mampu menjadi "orang-orang yang berpuasa". Artinya, puasa secara praktek jangan samapi ditinggalkan karena disana banyak puasa sunnah yang bisa kita lakukan. Dan yang lebih dari itu, meski kita bukan berada dalam bulan Ramadhan namun amaliyah Ramadhan hendaknya tetap dilakukan terus seperti kebiasaan membaca al-Qur'an, melakukan shalat witir -tanpa taraweh tentunya- berbagi kebahagiaan dengan sesama dengan harta atau apapun yang kita punya dan bisa diberikan, termasuk kebiasaan untuk bangun pagi sebagai persiapan melaksanakan ibadah subuh. Inilah tujuan dari riyadhah atau latihan tersebut.
2. Puasa sebagai ujian pengendalian diri
Puasa dalam bahasa Arab berarti "ashoum" atau "ashiyam" yang berrati "al-imsak" yaitu menahan. Hakikat puasa memang menahan atau bahasa yang lebih populer adalah upaya pengendalian diri. Pengenadalian diri yang dimaksud bukan hanya pada makan, minum dan hubungan intim saja, namun juga yang tak kalah penting mengendalikan nafsu yang berorientasi pada hal-hal yang terlalu berlebih atau negatif.
Pengendalian diri itu mutlak diperlukan oleh makhluk yang bernama manusia. Kemutlakan itu diperlukan karena pada dasarnya manusia memiliki kebebasan penuh untuk berbuat dan menjadi. Manusia bisa menjadi baik bahkan menjadi sangat baik. Manusia pun bisa menjadi jahat bahkan bisa menjadi sangat jahat. Manusia bisa saja kalau mau makan dan minum sepuasnya tanpa larangan. Manusia bebas melakukan ini itu sesuai dengan nafsu dan nalurinya. Tapi yakinlah, bahwa disetiap perbuatan itu berlaku konsekwensinya. Allah menjadikan puasa itu sebagai suatu sistem pengendalian keinginan manusia yang paling efektif dan efisien. Allah mendesain itu karena manusia memiliki kebebasan untuk berbuat hanya saja Dia merangsang otaknya untuk berusaha mengendalikan diri demi terwujudnya keseimbangan tubuh sehingga mampu berbuat lebih baik dan maksimal. Hal semacam ini tidak berlaku pada binatang dan tumbuhan, karena Allah sudah menetapkan sistem dan waktu yang khusus baginya untuk tumbuh dan berkembang.
Maka barang siapa yang mampu mengelola dan mengendalikan dari dari segala nafsu negatif, akan merasakan keseimbangan dan kenyamanan dalam hidupnya.
3. Puasa adalah upaya menghadirkan Tuhan dalam kehidupan
Inilah inti dari segala ibadah yang dilakukan yaitu mampu menghadirkan Allah dalam segenap kehidupannya. Hanya saja puasa memiliki dimensi vertikal yang lebih kuat dari yang lain. Bayangkan saja misalnya semua ibadah mampu dengan menonjolkan dengan kuat sisi lahirnya sehingga timbul rasa pamrih (baca:riya) kepada lingkungan sekitarnya, namun puasa lebih kepada ibadah bathiniyah yang nyaris hanya dia dan Allah yang mengetahui kalau seseorang berpuasa.
Puasa yang dilakukan dengan segenap pemahaman dan penghayatan yang benar mampu menghadirkan sebuah kondisi dimana seseorang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Keadaan seperti ini akan membuat seseorang akan selalu mawas diri dalam berbuat dan senantiasa berorientaasi kepada-Nya.
4. Puasa adalah pengembaraan
Dalam istilah Agamanya disebut sebagai "assaihun". Yaitu orang-orang yang melakukan pengembaraan. Orang yang melakukan pengembaraan harus memiliki niat dan tujuan yang jelas kemana dia akan melangkah dan menuju. Orang yang mengembara pun harus menghilangkan segala gangguan dan godaan yang bisa menghalangi perjalanannya.
Maka puasa pun demikian. Karena puasa adalah bagian dari hidup ini. Saat kita berpuasa maka niat dan orientasi kita melaksanakannya sudah harus jelas untuk apa dan siapa kita melakukannya. Puasa pun bukan tidak memiliki halangan untuk dilakukan, maka seyogyanya seseorang mampu menyingkirkan segala godaan untuk tidak berpuas demi meraih tujuan hidup yang sejati yaitu menggapai rahmat dan ridho dari Allah SWT.
5. Puasa membentuk manusia taqwa, syukur dan rasyiid.
Pada akhir ayat QS. Albaqarah : 183 dinyatakan bahwa orang yang berpuasa tujuan akhirnya adalah taqwa. Sejatinya kabar tersebut berupa kepastian bukan pengharapan -jika dilihat dari redaksi penggalan ayat tersebut-, karena tidak mungkin Allah memiliki keraguan dalam menyampaikan informasi. Kalau kita terjemahkan secara bebas ayat tersebut akan berbunyi " hai orang yang beriman, kamu perlu puasa seperti orang dahulu juga perlu pada puasa itu, pasti kamu akan bertaqwa. Kata diwajibkan mengindikasikan perlunya puasa itu untuk dilakukan sedangkan kata "pasti" sebagai pengganti kata "agar/supaya" seperti yang sering diterjemahkan.
Taqwa menurut pengertian yang lebih mudah dipahami adalah upaya untuk menjaga diri pada tatanan kehidupan yang benar. Orang yang taqwa akan selalu berada pada hukum yang ditetapkan Allah baik yang tersurat dalam al-Qur'an maupun tersirat yang terdapat dalam alam ini (baca: sunnatullah). Tidak keluar dari hukum Allah yang tersurat berarti melaksanakan seluruh hukum yang dijelaskan al-Qur'an. Dan tidak melanggar hukum Allah di alam berarti melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan petunjuk dan proporsionalitasnya. Misalnya, makan yang tidak berlebihan karena jika berlebihan konsekwensinya akan mendatangkan penyakit gula atau diabetes. Belajarlah dengan tekun karena segala sesuatu akan mudah diraih dengan kerajinan dan ketekunan, sehingga bagi yang malas akan sulit menggapai harapan, begitulah seterusnya.
Puasa yang benar akan menghantarkan orang pada level taqwa itu. Namun dalam QS. al-Baqarah : 185 penggalan akhir ayat tersebut adalah menjelaskan tentang kelanjutan level yang harus dicapai bagi orang yang taqwa yaitu yang bersyukur. Bisa jadi ada orang yang taqwa namun syukurnya kurang. Syukur yang dimaksud tidak hanya menerima segala pemberian dengan perasaan senang namun pribadi yang bersyukur juga adalah yang mampu menciptakan atau memberikan nilai tambah dalam kehidupannya. Kehadirannya dengan segala apa yang dimiliki mampu memberikan nilai dan manfaat bagi lingkungannya. Karena itu orang yang bersyukkur akan selalu membawa manfaat bagi yang lain karena ia bukan hanya memunculkan nimat Allah yang diberikan tapi, juga sekaligus berguna bagi lingkungannya.
Kalau dalam taqwa orang berusaha untuk selalu berada pada tatanan hidup yang benar, maka rasyid adalah orang yang telah berada pada lingkaran kebenaran tersebut (to be on the right way). Demikian yang bisa dianalisa dari penggalan ayat terakhir QS. Albaqarah : 186) yang berbunyi "la'allahum yarsyudun". Orang yang mencapai level rasyid saat melakukan segala hal telah mendasarinya pada ajaran dan hukum Allah sehingga saat ia berkata dan berbuat seolah telah berada dalam petunjuk Allah SWT. Dan sekali lagi bahwa keadaan dan kondisi seperti itu bukanlah tanpa usaha, namun melalui tahapan yang panjang dan butuh kesabaran, ketekunan serta kearifan terutama terkait dengan keragaman yang ada.
Demikianlah beberapa upaya dan penafsiran untuk menjadikan hari idul fitri yang kita rayakan setiap tahunnya akan membawa arti bagi kita setelah melaluinya dan mengena bagi kepribadian diri yang lebih baik.
Minal 'aidin wal faizin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Kullu 'amin wa nahnu bikhairin. Selamat hari raya IDUL FITRI 1433 H, Mohon maaf lahir bathin.
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan idul fitri, yang salah adalah cara pandang sebagian masyarakat Muslim, cara menyikapi dan memahaminya yang tidak tepat bahkan keliru sehingga idul fitri yang setiap tahun itu dirayakan menjadi kosong makna dan tujuan dan tidak berdampak apapun bagi perkembangan kepribadian dan spiritualnya.
Pada dasarnya semua ibadah yang dilakukan oleh kita itu bersifat pengulangan, termasuk moment-moment tertentu seperti hari raya idul fitri ini. Sesuatu yang bersifat pengulangan itu memiliki mkana pembiasaan, pelatihan hingga pemantapan. Puasa misalnya, perlu dibiasakan, dilatih dan dimantapkan. Begitu juga dengan ibadah yang lain. Hal itu dimaksudkan agar kita menjadi terbiasa dan mengetahui bahkan menguasainya. Bayangkan jika kita sudah berada dilevel menguasai -dalam hal apapun- pastinya segalanya akan berjalan dengan lancar, mudah dan mengena. Demikianlah sebetulnya yang diharapkan dari semua bentuk ibadah yang kita lakukan secara terus menerus itu.
Nah, idul fitri sudah kita lalui dan rayakan sepanjang umur kita berada. Pertanyaannya adalah membekaskah moment idul fitri tersebut bagi kepribadian, jiwa, mental, emosi dan spiritual kita yang semestinya bisa membawa kita pada keluhuran hidup. Jawabannya ada didalam diri kita semua. Karena itu memahami semua ibadah, bacaan, moment yang selalu kita lakukan mutlak diperlukan.
Kata idul fitri berarti kembali kepada fitrah. Fitrah adalah keadaan penciptaan kita yang suci, bersih dari segala noda dan kesalahan. Karenanya, setiap bayi yang terlahir dari siapapun -termasuk dari orang non-Muslim- hakikatnya adalah suci tanpa dosa tinggal bagaimana orang tua dan lingkungan yang akan membentuknya untuk bisa tetap fitri atau tidak. Penggunaan kata 'id yang berarti kembali mengindikasikan bahwa kita pernah beranjak dan meninggalkan keadaan fitri tersebut, tentunya dengan dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Semakin banyak dosa dan kesalahan tersebut, maka akan semakin banyak pula kita menodai nilai-nilai fitri itu. Inilah yang sudah dimaklumi oleh Allah sebagai Khaliq kita yang kemudian Ia mendesain sistem yang membuat makhluknya yang bernama manusia -sebagai makhluk yang banyak salah dan lupa- kembali pada jalurnya yang benar, yaitu suci dari segala kesalahan dan dosa dengan cara melakukan puasa.
Hal ini mudah diketahui, tapi sulit untuk disadari dan menimbulkan niat memperbaikinya. Kalau kesadaran untuk memperbaiki sudah hilang maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan sulit melakukan puasa dan menangkap makna dan rahasia puasa. Jika demikian, maka yang terjadi idul fitri dan ibadah yang dilakukan akan sama sekali tidak memberikan bekas apapun. Dan inilah yang terjadi.
Untuk itulah perlu direnungkan bahwa idul fitri bukanlah untuk mereka yang mempersiapkan segala hal-hal yang baru seperti baju baru, rumah, kendaraan bahkan istri baru. Tapi idul fitri itu diperuntukkan bagi mereka yang ketaatannya setelah Ramadhan semakin baik dan meningkat sesuai dengan bulan syawwal yang dihadapinya ketika itu yang memiliki arti peningkatan. Idul fitri juga akan salah dipahami sebagai hari kemenangan, jika kemenangan yang dimaksud hanya sebatas mampu berpuasa sebulan penuh, melakukan taraweh dan rutinitas yang lazim dilakukan saat Ramadhan kemudian dia berhenti total untuk melaksanakan setelah merayakan idul fitri tersebut.
Dalam rangka memahami dan memaknai idul fitri itu dengan baik, maka kita harus mengubah paradigma berfikir tentang puasa yang sebelumnya kita lakukan.
1. Memahami bahwa puasa itu adalah sebagai riyadhah
Puasa itu adalah sebagai riyadhah, latihan atau penggemblengan. Bulan puasa memang seharusnya bulan penggemblengan dan latihan bagi kita. Penggemblengan fisik supaya menjadi lebih sehat, penggemblengan jiwa sehingga mampu melahirkan sifat simpati, empati, kepedulian sosial, rasa kebersamaan dan lain-lain. Penggemblengan spiritual sehingga dalam kehidupan kita mampu -intinya- menghadirkan Allah dalam setiap ucapan dan perbuatan yang akan membuat kita menjadi mawas diri dalam segala hal. Hal ini mutlak dipahami demi menjaga keberlangsungan dan keseimbangan hidup kita yang lebih baik dunia dan akhirat.
Karena puasa sebagai riyadhah, maka setelah idul fitri itu berlalu kita mampu menjadi "orang-orang yang berpuasa". Artinya, puasa secara praktek jangan samapi ditinggalkan karena disana banyak puasa sunnah yang bisa kita lakukan. Dan yang lebih dari itu, meski kita bukan berada dalam bulan Ramadhan namun amaliyah Ramadhan hendaknya tetap dilakukan terus seperti kebiasaan membaca al-Qur'an, melakukan shalat witir -tanpa taraweh tentunya- berbagi kebahagiaan dengan sesama dengan harta atau apapun yang kita punya dan bisa diberikan, termasuk kebiasaan untuk bangun pagi sebagai persiapan melaksanakan ibadah subuh. Inilah tujuan dari riyadhah atau latihan tersebut.
2. Puasa sebagai ujian pengendalian diri
Puasa dalam bahasa Arab berarti "ashoum" atau "ashiyam" yang berrati "al-imsak" yaitu menahan. Hakikat puasa memang menahan atau bahasa yang lebih populer adalah upaya pengendalian diri. Pengenadalian diri yang dimaksud bukan hanya pada makan, minum dan hubungan intim saja, namun juga yang tak kalah penting mengendalikan nafsu yang berorientasi pada hal-hal yang terlalu berlebih atau negatif.
Pengendalian diri itu mutlak diperlukan oleh makhluk yang bernama manusia. Kemutlakan itu diperlukan karena pada dasarnya manusia memiliki kebebasan penuh untuk berbuat dan menjadi. Manusia bisa menjadi baik bahkan menjadi sangat baik. Manusia pun bisa menjadi jahat bahkan bisa menjadi sangat jahat. Manusia bisa saja kalau mau makan dan minum sepuasnya tanpa larangan. Manusia bebas melakukan ini itu sesuai dengan nafsu dan nalurinya. Tapi yakinlah, bahwa disetiap perbuatan itu berlaku konsekwensinya. Allah menjadikan puasa itu sebagai suatu sistem pengendalian keinginan manusia yang paling efektif dan efisien. Allah mendesain itu karena manusia memiliki kebebasan untuk berbuat hanya saja Dia merangsang otaknya untuk berusaha mengendalikan diri demi terwujudnya keseimbangan tubuh sehingga mampu berbuat lebih baik dan maksimal. Hal semacam ini tidak berlaku pada binatang dan tumbuhan, karena Allah sudah menetapkan sistem dan waktu yang khusus baginya untuk tumbuh dan berkembang.
Maka barang siapa yang mampu mengelola dan mengendalikan dari dari segala nafsu negatif, akan merasakan keseimbangan dan kenyamanan dalam hidupnya.
3. Puasa adalah upaya menghadirkan Tuhan dalam kehidupan
Inilah inti dari segala ibadah yang dilakukan yaitu mampu menghadirkan Allah dalam segenap kehidupannya. Hanya saja puasa memiliki dimensi vertikal yang lebih kuat dari yang lain. Bayangkan saja misalnya semua ibadah mampu dengan menonjolkan dengan kuat sisi lahirnya sehingga timbul rasa pamrih (baca:riya) kepada lingkungan sekitarnya, namun puasa lebih kepada ibadah bathiniyah yang nyaris hanya dia dan Allah yang mengetahui kalau seseorang berpuasa.
Puasa yang dilakukan dengan segenap pemahaman dan penghayatan yang benar mampu menghadirkan sebuah kondisi dimana seseorang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Keadaan seperti ini akan membuat seseorang akan selalu mawas diri dalam berbuat dan senantiasa berorientaasi kepada-Nya.
4. Puasa adalah pengembaraan
Dalam istilah Agamanya disebut sebagai "assaihun". Yaitu orang-orang yang melakukan pengembaraan. Orang yang melakukan pengembaraan harus memiliki niat dan tujuan yang jelas kemana dia akan melangkah dan menuju. Orang yang mengembara pun harus menghilangkan segala gangguan dan godaan yang bisa menghalangi perjalanannya.
Maka puasa pun demikian. Karena puasa adalah bagian dari hidup ini. Saat kita berpuasa maka niat dan orientasi kita melaksanakannya sudah harus jelas untuk apa dan siapa kita melakukannya. Puasa pun bukan tidak memiliki halangan untuk dilakukan, maka seyogyanya seseorang mampu menyingkirkan segala godaan untuk tidak berpuas demi meraih tujuan hidup yang sejati yaitu menggapai rahmat dan ridho dari Allah SWT.
5. Puasa membentuk manusia taqwa, syukur dan rasyiid.
Pada akhir ayat QS. Albaqarah : 183 dinyatakan bahwa orang yang berpuasa tujuan akhirnya adalah taqwa. Sejatinya kabar tersebut berupa kepastian bukan pengharapan -jika dilihat dari redaksi penggalan ayat tersebut-, karena tidak mungkin Allah memiliki keraguan dalam menyampaikan informasi. Kalau kita terjemahkan secara bebas ayat tersebut akan berbunyi " hai orang yang beriman, kamu perlu puasa seperti orang dahulu juga perlu pada puasa itu, pasti kamu akan bertaqwa. Kata diwajibkan mengindikasikan perlunya puasa itu untuk dilakukan sedangkan kata "pasti" sebagai pengganti kata "agar/supaya" seperti yang sering diterjemahkan.
Taqwa menurut pengertian yang lebih mudah dipahami adalah upaya untuk menjaga diri pada tatanan kehidupan yang benar. Orang yang taqwa akan selalu berada pada hukum yang ditetapkan Allah baik yang tersurat dalam al-Qur'an maupun tersirat yang terdapat dalam alam ini (baca: sunnatullah). Tidak keluar dari hukum Allah yang tersurat berarti melaksanakan seluruh hukum yang dijelaskan al-Qur'an. Dan tidak melanggar hukum Allah di alam berarti melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan petunjuk dan proporsionalitasnya. Misalnya, makan yang tidak berlebihan karena jika berlebihan konsekwensinya akan mendatangkan penyakit gula atau diabetes. Belajarlah dengan tekun karena segala sesuatu akan mudah diraih dengan kerajinan dan ketekunan, sehingga bagi yang malas akan sulit menggapai harapan, begitulah seterusnya.
Puasa yang benar akan menghantarkan orang pada level taqwa itu. Namun dalam QS. al-Baqarah : 185 penggalan akhir ayat tersebut adalah menjelaskan tentang kelanjutan level yang harus dicapai bagi orang yang taqwa yaitu yang bersyukur. Bisa jadi ada orang yang taqwa namun syukurnya kurang. Syukur yang dimaksud tidak hanya menerima segala pemberian dengan perasaan senang namun pribadi yang bersyukur juga adalah yang mampu menciptakan atau memberikan nilai tambah dalam kehidupannya. Kehadirannya dengan segala apa yang dimiliki mampu memberikan nilai dan manfaat bagi lingkungannya. Karena itu orang yang bersyukkur akan selalu membawa manfaat bagi yang lain karena ia bukan hanya memunculkan nimat Allah yang diberikan tapi, juga sekaligus berguna bagi lingkungannya.
Kalau dalam taqwa orang berusaha untuk selalu berada pada tatanan hidup yang benar, maka rasyid adalah orang yang telah berada pada lingkaran kebenaran tersebut (to be on the right way). Demikian yang bisa dianalisa dari penggalan ayat terakhir QS. Albaqarah : 186) yang berbunyi "la'allahum yarsyudun". Orang yang mencapai level rasyid saat melakukan segala hal telah mendasarinya pada ajaran dan hukum Allah sehingga saat ia berkata dan berbuat seolah telah berada dalam petunjuk Allah SWT. Dan sekali lagi bahwa keadaan dan kondisi seperti itu bukanlah tanpa usaha, namun melalui tahapan yang panjang dan butuh kesabaran, ketekunan serta kearifan terutama terkait dengan keragaman yang ada.
Demikianlah beberapa upaya dan penafsiran untuk menjadikan hari idul fitri yang kita rayakan setiap tahunnya akan membawa arti bagi kita setelah melaluinya dan mengena bagi kepribadian diri yang lebih baik.
Minal 'aidin wal faizin. Taqabbalallahu minna wa minkum. Kullu 'amin wa nahnu bikhairin. Selamat hari raya IDUL FITRI 1433 H, Mohon maaf lahir bathin.
Sabtu, 11 Agustus 2012
Sabtu, 14 Juli 2012
Ucapan Orang Yang Tidak Percaya Adanya Hari KEBANGKITAN
By : Rijal Muhammad
Jumat, 13 Juli 2012
Uniknya Ibadah PUASA
By : Rijal Muhammad
Puasa adalah satu dari sekian ibadah lain yang diperintahkan Allah swt untuk kita laksanakan. Ibadah yang satu ini memang termasuk ibadah yang paling tua, karena secara praktek pernah dilakukan oleh manusia pertama Adam as dan istrinya sebagai penebus kesalahan yang pernah dibuatnya. Berlanjut ke zaman berikutnya bahkan hingga kini, praktek puasa masih tetap dilaksanakan meskipun dalam rincian teknis pelaksanaannya tidak sama persis dengan puasa yang dilakukan oleh ummat Islam di bulan Ramadhan.
Salah satu yang membuat puasa menjadi sangat penting untuk dilakukan adalah termasuknya ibadah ini sebagai salah satu rukun Islam yang harus dijalankan. Sebagian orang ada yang menganalogikan puasa seperti genteng bagi sebuah rumah. Jika syahadat adalah seperti pondasi, sholat sebagai tiangnya, zakat sebagai kamar kecilnya (baca : WC), haji sebagai aksesoris atau pelengkap rumah seperti televisi, kendaraan dan lain sebagainya, maka puasa adalah ibarat gentengnya. Dalam salah hadits hadits juga dikatakan bahwa puasa itu ibarat prisai atau tameng yang berfungsi untuk melindungi. Maka, kalau kondisi ruangan dalam rumah bisa terlindungi oleh adanya genteng baik karena terik matahari atau air hujan, puasa adalah ibarat perisai bagi pelakunya dari melakukan keburukan apapun karena kesadaran ke-Tuhanan yang mendalam bagi orang yang menghayati ibadah puasa itu.
Berikut ini adalah beberapa analisa terkait dengan keunikan dan spesialnya ibadah puasa dibanding yang lain.
1. Keunikan puasa dilihat dari segi redaksi perintahnya
Seluruh perintah ibadah biasanya dilakukan dengan penyebutan bentuk perintah itu sendiri. Allah dengan tegas menyebut diri-Nya sebagai Tokoh yang memerintahkan ibadah kepada hamba-Nya. Seperti shalat misalnya, bentuk perintahnya langsung seperti yang sering dijumpai dalam al-Qur'an, "aqimus shalata" lakukanlah shlat. Demikan juga seperti zakat, "wa aatuz zakaata" tunaikanlah zakat atau juga haji "wa atimmul hajja wal umrata lillah" sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah SWT. Jadi, nyaris semua ibadah yang disebut Allah untuk kita lakukan dengan melakukan perintah secara langsung dan jelas bahwa Allah SWT yang menyebut Dzatnya sebagai Yang Memerintah. Kecuali puasa.
Lantas bagaimana dengan puasa?. Perintah puasa termasuk ibadah yang tidak dinyatakan oleh Allah secara tegas dan aktif tentang keberadaannya sebagai ibadah yang harus kita lakukan. Lihat saja misalnya QS. Albaqarah ayat 183 itu, "Hai orang yang beriman diwajibkan -diperlukan- atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan -diperlukan- atas orang lain sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa". Kata diwajibkan yang maksudnya adalah diperlukan mengindikasikan bahwa perintah tersebut dilakukan secara pasif karena tidak menyebutkan tokoh yang memerintahkannya. Meskipun kalau kita bilang bahwa Allah SWT lah yang memerintahkannya juga tidak salah jawabannya, tapi tentunya Allah pun memiliki maksud dengan pemilihan redaksi semacam itu. Salah satu yang bisa kita petik hikmahnya adalah bahwa seandainya puasa itu tidak diwajibkan oleh Allah secara langsung, maka kitalah sebagai makhluk atau manusia yang mewajibkan diri kita untuk melakukan puasa itu, karena pertimbangan manfaatnya bahkan kebutuhannya yang begitu penting.
Dan ternyata, menurut riwayatnya orang-orang terdahulu pun melakukan puasa bukan berdasarkan perintah dari tuhannya tapi dari tokoh atau pemukanya ketika itu. Karena itu, bisa kita lihat saat ini kebutuhan orang untuk melakukan puasa tidak hanya dilihat dari segi ibadah yang dilakukan karena perintah agama, namun ada motivasi dan niat yang lain dalam melakukannya seperti diet untuk kesehatan dan lain-lain.
2. Puasa dan kesehatan
Salah satu pentingya ibadah puasa seperti yang dijelaskan pada point pertama adalah tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Rasanya tidak ada yang menyangkal lagi bahwa puasa sangat baik untuk kesehatan. Nabi Muhammad SAW pun menyatakan "berpuasalah maka kamu akan sehat". Kesehatan disini sebetulnya tidak hanya kepada fisik namun juga psikis, mental dan kejiwaan yang tak kalah perlu untuk menjadi sehat.
Dari segi manfaat kesehatan fisik, puasa bisa dilihat dari keterangan berikut. Pada keadaan normal energi yang kita gunakan untuk beraktifitas berasal dari makanan dan minuman yang kita konsumsi. Pada saat kita puasa, maka kita hanya mengandalkan yang kita konsumsi saat sahur. Karena itu, sunnahnya adalah kita mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka supaya lebih efektif saat kita berpuasa siangnya. Nah, saat puasa itu, kita tidak mendapat asupan makanan lagi yang membuat kita menjadi lapar dan haus. Disinilah sistem atau fitrah yang dibuat oleh Allah yang disebut sistem autolisis. Sistem ini bekerja saat otak memberi instruksi lapar yang kemudian tidak dilanjutkan dengan makan atau minum (puasa). Ketika itu, sistem autolisis ini akan mengambil energi dari glikogen yang ada dalam darah. Kalau glikogen ini sudah berkurang, maka akan dilanjutkan dengan mencari sel-sel yang mati atau rusak secara otomatis karena sistem autolisis ini dirancang Allah dengan mekanisme kerja yang sudah diketahui tentang apa dan bagaimana selanjutnya. Jika sel-sel dalam tubuh yang rusak dan mati sudah tidak ada, maka sistem ini akan melanjutkan kerjanya membakar timbunan lemak yang ada didalam tubuh yang merupakan penyumbang penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Selanjutnya, hasil sel-sel yang rusak dan mati itu serta hasil pembakaran lemak akan dibawa kehati kemudian racun-racun tersebut disaring secara aktif untuk kemudian dikeluarakan, itulah yang disebut dengan proses detoksifikasi. Demikian setidaknya yang bisa kita ketahui dari manfaat puasa untuk kesehatan.
3. Puasa dengan character building dan sisi spiritual
Disamping manfaat yang kita dapat dari segi fisik dan kesehatan, puasa juga tak kalah penting manfaat dan rahasianya terkait dengan pembentukan mental yang lebih baik. Rasa peduli terhadap sesama terutama dengan mereka yang lebih banyak laparnya dibanding kenyangnya, benar-benar kita rasakan dan lakukan selama sebulan penuh yang semestinya akan membekas dalam emosi dan perasaan kita. Kepedulian kita juga kita buktikan dengan membayar zakat dan jenis sedekah yang lain yang kita berikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Omnipresent, kesadaran akan ke-Tuhanan memang selayaknya benar-benar meresap dan membekas hingga kemudian akan mempengaruhi prilaku kita baik ucapan dan perbuatan. Karena memang saat berpuasa, kita betul-betul mempersembahkannya untuk Allah SWT. Terkait dengan ini, ada sebuah hadits qudsi yang cukup masyhur bahwa, "semua amal manusia itu untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya".
Hadits qudsi ini sempat memberikan beberapa petanyaan. Misalnya, mengapa cuma puasa?, bukankah shalat, zakat, haji, umrah, zikir, sedekah dan lain-lain juga kita lakukan untuk Allah? Lantas apa makna bahwa semua amal seseorang itu untuknya, padahal semua niat dilakukan demi dan karena Allah.
Untuk menjawab ini memang harus melakukan kajian dan penafsirannya. Diantara rahasia puasa sehingga menjadi spesial dan berbeda dengan ibadah yang lain antara lain yaitu :
a. Puasa tidak bisa dimasuki riya.
Bagaimana seseorang bisa berbuat riya pada saat puasa, karena hakikatnya cuma dia dan Allah yang tahu. Tidak bisa seseorang misalnya ingin membuktikan puasa dengan berkata, "aku sedang puasa lo..nih lihat bibirku pecah-pecah.. atau "aku sedang berpuasa lo.. berat badanku saja sudah turun..". Rasanya ucapan itu akan menjadi sia-sia dan tak berguna jika tujuannya untuk mencari simpatik orang. Berbanding terbalik misalnya dengan ibadah yang lain, seperti shalat yang mungkin saja termasuki oleh sifat riya. Zakat juga demikian apalagi haji yang sangat nampak sisi sosialnya sehingga membuat hati bisa jadi terkotori oleh niat yang salah. Puasa yang sejati tidak akan memiliki dampak seperti itu.
Karena amal ibadah selain puasa itu jika dilakukan tidak karena Allah tidak akan mendapatkan ganjarannya, maka ketiadaan ganjaran itu akan kembali untuk orang itu. Berbeda dengan puasa, karena puasa itu saat dilakukan demi dan karena Allah maka bentuk ganjarannya sepenuhnya ada dalam kuasa-Nya.
b. Puasa tidak pernah dijadikan alat syirik.
Dalam riwayat yang ada, bahwa sejak dahulu pun tidak pernah dijumpai bahwa puasa dijadikan sebagai wasilah atau sarana beribadah seseorang terhadap dewa atau tuhannya. Hanya dalam Islam yang menjadikan puasa sebagai sarana penghambaan yang hakiki antara hamba dengan Tuhannya, Allah SWT.
c. Pahala puasa tak terhingga.
Segala sesuatu berupa amal ibadah yang dilakukan seorang muslim pasti dengan sendirinya akan mendatangkan pahala atau ganjaran dari Allah SWT. Ganjaran tersebut boleh dibilang sebagai apresiasi Allah kepada hambanya yang istiqamah menjalankan ajaran-Nya, meskipun pahala itu tidak menjadi penentu utama seseorang meraih kebahagian hakiki berupa surga.
Terkait dengan ganjaran puasa, kalau ibadah yang lain sudah dijelaskan ganjarannya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Namun puasa, sama sekali tidak dijelaskan. Allah cuma menegaskan bahwa hanya Dialah yang akan mengganjarnya. Kenapa demikian? karena puasa sudah dinisbatkan hanya milik-Nya dan tentunya Dia yang mengetahui persis kualitas puasa yang dipersembahkan oleh hamba-Nya. Makanya kualitas puasa seseorang akan sangat berbeda disisi Allah yang juga akan mempengaruhi kualiats ganjaran puasa tersebut.
d. Puasa itu ibadah yang meniru dan meneladani sifat Allah
Sifat Allah yang ditiru dan diteladani pada saat orang berpuasa adalah dengan tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan intim. Paling tidak tiga sifat pokok dan utama yang menjadi kebutuhan dasar manusia ini yang dikekang pada saat puasa, meski ada banyak hal juga yang harus dikekang saat puasa.
Makan, minum dan berhubungan intim adalah perbuatan yang tidak dilakukan Allah SWT. Saat kita puasa kita berupaya untuk meneladani sifat tersebut bahkan kita dianjurkan untuk memberi makan kepada orang yang berpuasa yang merupakan kelanjutan dari sfat Allah yang lain. Jika puasa adalah meneladani-Nya, maka sudah seyogyanya Allah mengklaim bahwa puasa itu adalah milik-Nya dan Dialah yang mengetahui persis siapa yang paling terbaik dalam meneladani sifat-Nya tersebut.
e. Setiap amal memiliki kafarat kecuali puasa
Dalam sebuah hadits Nabi dikatakan bahwa setiap amal manusia itu memiliki kafarat. setiap amal seseorang itu akan berlaku qisas terhadapnya. Nanti, disaat hari kiamat ada seseorang yang membawa ganjaran pahala amal ibadahnya hingga sebesar gunung, kemudian ada yang datang mengadu kalau ia pernah disakiti, dizalimi, dan ambil hak-haknya. Ketika itu dia menuntut kepada orang yang membawa pahalanya yang sebesar gunung itu. Kemudian Allah akan memotong pahala kebaikannya itu sesuai dengan banyaknya dosa dan kesalahan kepada orang yang dizaliminya itu. Sehingga jikalau kebaikannya itu habis oleh dosa-dosanya, maka akan diambil dari keburukan orang yang pernah dizalimi dan akan dilemparkan kepadanya.
Kecuali puasa. Allah akan menyimpan ganjaran puasa itu sebagai investasi yang tidak bisa diganggu gugat. Allah akan berbuat dengan nilai puasa itu kepada orang yang pernah melakukannya.
f. Puasa adalah ibadah empati
Apa yang melatarbelakngi bahwa empati itu adalah sebuah alasan sehingga puasa menjadi ibadah yang spesial. Kiranya salah satu dialog antara Allah dan Nabi Musa ‘alayhis-salam bisa menjelaskan hal ini. Suatu kali Allah bertanya kepada Nabi Musa: “Wahai Musa, mana ibadahmu untuk-Ku?”. Maka dengan segera Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya semua ibadahku adalah untuk-Mu, Ya Allah.” “Tidak demikian halnya, Wahai Musa,” Allah menukas, “semua ibadahmu itu tak lain untukmu sendiri.” Dalam kebingungan, Nabi Musa bertanya, “Gerangan apakah ibadahku untuk-Mu?” Maka Allah menjawab: “Memasukkan rasa bahagia kepada orang yang hancur hatinya.”
Dialog Allah dengan Nabi Musa ini dengan gamblang menjelaskan alasan mengapa Allah menjadikan puasa sebagai satu-satunya ibadah manusia untuk-Nya. Yakni, adalah ibadah puasda yang hikmahnya mendorong pelakunya untuk memiliki empati kepada fakir-miskin dan, dengan demikian, berupaya untuk melakukan upaya-upaya mengatasi kemiskinan dan kefakiran mereka.
Sebuah hadis persis mengajarkan kepada kita mengenai hal ini:
“Hikmah yang terdapat dalam ibadah puasa adalah agar ... Allah memberikan persamaan antara hamba-Nya, agar orang kaya bisa merasakan kepedihan lapar dan rasa sakitnya, agar mereka dapat merendahkan hatinya di hadapan orang lemah, dan mengasihani yang fakir."
Dalam analisis selanjutnya, puasa dapat disebut sebagai bentuk atau manifestasi paling lengkap dari keberagamaan kita. Pernah ulama besar Nusantara, Syekh Yusuf Makassari, menjalin beberapa hadis untuk menunjukkan apa sebenarnya hakikat agama itu.
“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatul-lah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silatur¬ra¬him). Dan silaturrahim adalah ‘memasukkan rasa bahagia di hati saudara (sesama) kita (idkhalus-surur fi qalbil-ikhwan)’”.
Dari jalinan hadis tersebut di atas tampil dengan jelas betapa sesungguhnya hakikat-puncak keberagamaan adalah berbuat baik kepada sesama manusia, menghilangkan kesulitan dan mendatangkan kebahagiaan mereka.
Demikian beberapa kekhususan ibadah puasa jika dibanding dengan ibadah yang lain menyangkut keistimewaannya disisi Allah SWT. Sungguh beruntung orang-orang yang berpuasa atas dasar iman dan ihtisaban. Dan sungguh merugi serugi-ruginya yang tidak pernah megetahui, melakukan dan mengamalkan nilai-nilai puasa yang istimewa itu. Puasa yang benar akan menghantarkan orang menjadi taqwa. Orang yang bertaqwa tak ada ganjaran yang paling tepat selain surganya Allah SWT. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita semua.
Puasa adalah satu dari sekian ibadah lain yang diperintahkan Allah swt untuk kita laksanakan. Ibadah yang satu ini memang termasuk ibadah yang paling tua, karena secara praktek pernah dilakukan oleh manusia pertama Adam as dan istrinya sebagai penebus kesalahan yang pernah dibuatnya. Berlanjut ke zaman berikutnya bahkan hingga kini, praktek puasa masih tetap dilaksanakan meskipun dalam rincian teknis pelaksanaannya tidak sama persis dengan puasa yang dilakukan oleh ummat Islam di bulan Ramadhan.
Salah satu yang membuat puasa menjadi sangat penting untuk dilakukan adalah termasuknya ibadah ini sebagai salah satu rukun Islam yang harus dijalankan. Sebagian orang ada yang menganalogikan puasa seperti genteng bagi sebuah rumah. Jika syahadat adalah seperti pondasi, sholat sebagai tiangnya, zakat sebagai kamar kecilnya (baca : WC), haji sebagai aksesoris atau pelengkap rumah seperti televisi, kendaraan dan lain sebagainya, maka puasa adalah ibarat gentengnya. Dalam salah hadits hadits juga dikatakan bahwa puasa itu ibarat prisai atau tameng yang berfungsi untuk melindungi. Maka, kalau kondisi ruangan dalam rumah bisa terlindungi oleh adanya genteng baik karena terik matahari atau air hujan, puasa adalah ibarat perisai bagi pelakunya dari melakukan keburukan apapun karena kesadaran ke-Tuhanan yang mendalam bagi orang yang menghayati ibadah puasa itu.
Berikut ini adalah beberapa analisa terkait dengan keunikan dan spesialnya ibadah puasa dibanding yang lain.
1. Keunikan puasa dilihat dari segi redaksi perintahnya
Seluruh perintah ibadah biasanya dilakukan dengan penyebutan bentuk perintah itu sendiri. Allah dengan tegas menyebut diri-Nya sebagai Tokoh yang memerintahkan ibadah kepada hamba-Nya. Seperti shalat misalnya, bentuk perintahnya langsung seperti yang sering dijumpai dalam al-Qur'an, "aqimus shalata" lakukanlah shlat. Demikan juga seperti zakat, "wa aatuz zakaata" tunaikanlah zakat atau juga haji "wa atimmul hajja wal umrata lillah" sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah SWT. Jadi, nyaris semua ibadah yang disebut Allah untuk kita lakukan dengan melakukan perintah secara langsung dan jelas bahwa Allah SWT yang menyebut Dzatnya sebagai Yang Memerintah. Kecuali puasa.
Lantas bagaimana dengan puasa?. Perintah puasa termasuk ibadah yang tidak dinyatakan oleh Allah secara tegas dan aktif tentang keberadaannya sebagai ibadah yang harus kita lakukan. Lihat saja misalnya QS. Albaqarah ayat 183 itu, "Hai orang yang beriman diwajibkan -diperlukan- atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan -diperlukan- atas orang lain sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa". Kata diwajibkan yang maksudnya adalah diperlukan mengindikasikan bahwa perintah tersebut dilakukan secara pasif karena tidak menyebutkan tokoh yang memerintahkannya. Meskipun kalau kita bilang bahwa Allah SWT lah yang memerintahkannya juga tidak salah jawabannya, tapi tentunya Allah pun memiliki maksud dengan pemilihan redaksi semacam itu. Salah satu yang bisa kita petik hikmahnya adalah bahwa seandainya puasa itu tidak diwajibkan oleh Allah secara langsung, maka kitalah sebagai makhluk atau manusia yang mewajibkan diri kita untuk melakukan puasa itu, karena pertimbangan manfaatnya bahkan kebutuhannya yang begitu penting.
Dan ternyata, menurut riwayatnya orang-orang terdahulu pun melakukan puasa bukan berdasarkan perintah dari tuhannya tapi dari tokoh atau pemukanya ketika itu. Karena itu, bisa kita lihat saat ini kebutuhan orang untuk melakukan puasa tidak hanya dilihat dari segi ibadah yang dilakukan karena perintah agama, namun ada motivasi dan niat yang lain dalam melakukannya seperti diet untuk kesehatan dan lain-lain.
2. Puasa dan kesehatan
Salah satu pentingya ibadah puasa seperti yang dijelaskan pada point pertama adalah tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Rasanya tidak ada yang menyangkal lagi bahwa puasa sangat baik untuk kesehatan. Nabi Muhammad SAW pun menyatakan "berpuasalah maka kamu akan sehat". Kesehatan disini sebetulnya tidak hanya kepada fisik namun juga psikis, mental dan kejiwaan yang tak kalah perlu untuk menjadi sehat.
Dari segi manfaat kesehatan fisik, puasa bisa dilihat dari keterangan berikut. Pada keadaan normal energi yang kita gunakan untuk beraktifitas berasal dari makanan dan minuman yang kita konsumsi. Pada saat kita puasa, maka kita hanya mengandalkan yang kita konsumsi saat sahur. Karena itu, sunnahnya adalah kita mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka supaya lebih efektif saat kita berpuasa siangnya. Nah, saat puasa itu, kita tidak mendapat asupan makanan lagi yang membuat kita menjadi lapar dan haus. Disinilah sistem atau fitrah yang dibuat oleh Allah yang disebut sistem autolisis. Sistem ini bekerja saat otak memberi instruksi lapar yang kemudian tidak dilanjutkan dengan makan atau minum (puasa). Ketika itu, sistem autolisis ini akan mengambil energi dari glikogen yang ada dalam darah. Kalau glikogen ini sudah berkurang, maka akan dilanjutkan dengan mencari sel-sel yang mati atau rusak secara otomatis karena sistem autolisis ini dirancang Allah dengan mekanisme kerja yang sudah diketahui tentang apa dan bagaimana selanjutnya. Jika sel-sel dalam tubuh yang rusak dan mati sudah tidak ada, maka sistem ini akan melanjutkan kerjanya membakar timbunan lemak yang ada didalam tubuh yang merupakan penyumbang penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Selanjutnya, hasil sel-sel yang rusak dan mati itu serta hasil pembakaran lemak akan dibawa kehati kemudian racun-racun tersebut disaring secara aktif untuk kemudian dikeluarakan, itulah yang disebut dengan proses detoksifikasi. Demikian setidaknya yang bisa kita ketahui dari manfaat puasa untuk kesehatan.
3. Puasa dengan character building dan sisi spiritual
Disamping manfaat yang kita dapat dari segi fisik dan kesehatan, puasa juga tak kalah penting manfaat dan rahasianya terkait dengan pembentukan mental yang lebih baik. Rasa peduli terhadap sesama terutama dengan mereka yang lebih banyak laparnya dibanding kenyangnya, benar-benar kita rasakan dan lakukan selama sebulan penuh yang semestinya akan membekas dalam emosi dan perasaan kita. Kepedulian kita juga kita buktikan dengan membayar zakat dan jenis sedekah yang lain yang kita berikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Omnipresent, kesadaran akan ke-Tuhanan memang selayaknya benar-benar meresap dan membekas hingga kemudian akan mempengaruhi prilaku kita baik ucapan dan perbuatan. Karena memang saat berpuasa, kita betul-betul mempersembahkannya untuk Allah SWT. Terkait dengan ini, ada sebuah hadits qudsi yang cukup masyhur bahwa, "semua amal manusia itu untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya".
Hadits qudsi ini sempat memberikan beberapa petanyaan. Misalnya, mengapa cuma puasa?, bukankah shalat, zakat, haji, umrah, zikir, sedekah dan lain-lain juga kita lakukan untuk Allah? Lantas apa makna bahwa semua amal seseorang itu untuknya, padahal semua niat dilakukan demi dan karena Allah.
Untuk menjawab ini memang harus melakukan kajian dan penafsirannya. Diantara rahasia puasa sehingga menjadi spesial dan berbeda dengan ibadah yang lain antara lain yaitu :
a. Puasa tidak bisa dimasuki riya.
Bagaimana seseorang bisa berbuat riya pada saat puasa, karena hakikatnya cuma dia dan Allah yang tahu. Tidak bisa seseorang misalnya ingin membuktikan puasa dengan berkata, "aku sedang puasa lo..nih lihat bibirku pecah-pecah.. atau "aku sedang berpuasa lo.. berat badanku saja sudah turun..". Rasanya ucapan itu akan menjadi sia-sia dan tak berguna jika tujuannya untuk mencari simpatik orang. Berbanding terbalik misalnya dengan ibadah yang lain, seperti shalat yang mungkin saja termasuki oleh sifat riya. Zakat juga demikian apalagi haji yang sangat nampak sisi sosialnya sehingga membuat hati bisa jadi terkotori oleh niat yang salah. Puasa yang sejati tidak akan memiliki dampak seperti itu.
Karena amal ibadah selain puasa itu jika dilakukan tidak karena Allah tidak akan mendapatkan ganjarannya, maka ketiadaan ganjaran itu akan kembali untuk orang itu. Berbeda dengan puasa, karena puasa itu saat dilakukan demi dan karena Allah maka bentuk ganjarannya sepenuhnya ada dalam kuasa-Nya.
b. Puasa tidak pernah dijadikan alat syirik.
Dalam riwayat yang ada, bahwa sejak dahulu pun tidak pernah dijumpai bahwa puasa dijadikan sebagai wasilah atau sarana beribadah seseorang terhadap dewa atau tuhannya. Hanya dalam Islam yang menjadikan puasa sebagai sarana penghambaan yang hakiki antara hamba dengan Tuhannya, Allah SWT.
c. Pahala puasa tak terhingga.
Segala sesuatu berupa amal ibadah yang dilakukan seorang muslim pasti dengan sendirinya akan mendatangkan pahala atau ganjaran dari Allah SWT. Ganjaran tersebut boleh dibilang sebagai apresiasi Allah kepada hambanya yang istiqamah menjalankan ajaran-Nya, meskipun pahala itu tidak menjadi penentu utama seseorang meraih kebahagian hakiki berupa surga.
Terkait dengan ganjaran puasa, kalau ibadah yang lain sudah dijelaskan ganjarannya mulai dari 10 hingga 700 kali lipat. Namun puasa, sama sekali tidak dijelaskan. Allah cuma menegaskan bahwa hanya Dialah yang akan mengganjarnya. Kenapa demikian? karena puasa sudah dinisbatkan hanya milik-Nya dan tentunya Dia yang mengetahui persis kualitas puasa yang dipersembahkan oleh hamba-Nya. Makanya kualitas puasa seseorang akan sangat berbeda disisi Allah yang juga akan mempengaruhi kualiats ganjaran puasa tersebut.
d. Puasa itu ibadah yang meniru dan meneladani sifat Allah
Sifat Allah yang ditiru dan diteladani pada saat orang berpuasa adalah dengan tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan intim. Paling tidak tiga sifat pokok dan utama yang menjadi kebutuhan dasar manusia ini yang dikekang pada saat puasa, meski ada banyak hal juga yang harus dikekang saat puasa.
Makan, minum dan berhubungan intim adalah perbuatan yang tidak dilakukan Allah SWT. Saat kita puasa kita berupaya untuk meneladani sifat tersebut bahkan kita dianjurkan untuk memberi makan kepada orang yang berpuasa yang merupakan kelanjutan dari sfat Allah yang lain. Jika puasa adalah meneladani-Nya, maka sudah seyogyanya Allah mengklaim bahwa puasa itu adalah milik-Nya dan Dialah yang mengetahui persis siapa yang paling terbaik dalam meneladani sifat-Nya tersebut.
e. Setiap amal memiliki kafarat kecuali puasa
Dalam sebuah hadits Nabi dikatakan bahwa setiap amal manusia itu memiliki kafarat. setiap amal seseorang itu akan berlaku qisas terhadapnya. Nanti, disaat hari kiamat ada seseorang yang membawa ganjaran pahala amal ibadahnya hingga sebesar gunung, kemudian ada yang datang mengadu kalau ia pernah disakiti, dizalimi, dan ambil hak-haknya. Ketika itu dia menuntut kepada orang yang membawa pahalanya yang sebesar gunung itu. Kemudian Allah akan memotong pahala kebaikannya itu sesuai dengan banyaknya dosa dan kesalahan kepada orang yang dizaliminya itu. Sehingga jikalau kebaikannya itu habis oleh dosa-dosanya, maka akan diambil dari keburukan orang yang pernah dizalimi dan akan dilemparkan kepadanya.
Kecuali puasa. Allah akan menyimpan ganjaran puasa itu sebagai investasi yang tidak bisa diganggu gugat. Allah akan berbuat dengan nilai puasa itu kepada orang yang pernah melakukannya.
f. Puasa adalah ibadah empati
Apa yang melatarbelakngi bahwa empati itu adalah sebuah alasan sehingga puasa menjadi ibadah yang spesial. Kiranya salah satu dialog antara Allah dan Nabi Musa ‘alayhis-salam bisa menjelaskan hal ini. Suatu kali Allah bertanya kepada Nabi Musa: “Wahai Musa, mana ibadahmu untuk-Ku?”. Maka dengan segera Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya semua ibadahku adalah untuk-Mu, Ya Allah.” “Tidak demikian halnya, Wahai Musa,” Allah menukas, “semua ibadahmu itu tak lain untukmu sendiri.” Dalam kebingungan, Nabi Musa bertanya, “Gerangan apakah ibadahku untuk-Mu?” Maka Allah menjawab: “Memasukkan rasa bahagia kepada orang yang hancur hatinya.”
Dialog Allah dengan Nabi Musa ini dengan gamblang menjelaskan alasan mengapa Allah menjadikan puasa sebagai satu-satunya ibadah manusia untuk-Nya. Yakni, adalah ibadah puasda yang hikmahnya mendorong pelakunya untuk memiliki empati kepada fakir-miskin dan, dengan demikian, berupaya untuk melakukan upaya-upaya mengatasi kemiskinan dan kefakiran mereka.
Sebuah hadis persis mengajarkan kepada kita mengenai hal ini:
“Hikmah yang terdapat dalam ibadah puasa adalah agar ... Allah memberikan persamaan antara hamba-Nya, agar orang kaya bisa merasakan kepedihan lapar dan rasa sakitnya, agar mereka dapat merendahkan hatinya di hadapan orang lemah, dan mengasihani yang fakir."
Dalam analisis selanjutnya, puasa dapat disebut sebagai bentuk atau manifestasi paling lengkap dari keberagamaan kita. Pernah ulama besar Nusantara, Syekh Yusuf Makassari, menjalin beberapa hadis untuk menunjukkan apa sebenarnya hakikat agama itu.
“Agama adalah mengenal Allah (ma’rifatul-lah). Mengenal Allah adalah berlaku dengan akhlak (yang baik). Akhlak (yang baik) adalah menghubungkan tali kasih sayang (silatur¬ra¬him). Dan silaturrahim adalah ‘memasukkan rasa bahagia di hati saudara (sesama) kita (idkhalus-surur fi qalbil-ikhwan)’”.
Dari jalinan hadis tersebut di atas tampil dengan jelas betapa sesungguhnya hakikat-puncak keberagamaan adalah berbuat baik kepada sesama manusia, menghilangkan kesulitan dan mendatangkan kebahagiaan mereka.
Demikian beberapa kekhususan ibadah puasa jika dibanding dengan ibadah yang lain menyangkut keistimewaannya disisi Allah SWT. Sungguh beruntung orang-orang yang berpuasa atas dasar iman dan ihtisaban. Dan sungguh merugi serugi-ruginya yang tidak pernah megetahui, melakukan dan mengamalkan nilai-nilai puasa yang istimewa itu. Puasa yang benar akan menghantarkan orang menjadi taqwa. Orang yang bertaqwa tak ada ganjaran yang paling tepat selain surganya Allah SWT. Semoga Allah merahmati dan mengampuni kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)
