Selasa, 28 Februari 2012

Hati dan Akal Para KORUPTOR

By : Rijal Muhammad

Korupsi... ya budaya yang satu ini seakan tidak pernah hilang dan memang tidak akan bisa hilang. Korupsi hanya bisa ditekan namun sulit untuk dilenyapkan. Korupsi bagi bangsa Indonesia seolah telah menjelma menjadi budaya yang siapapun saat memiliki kesempatan sulit untuk tidak tergoda. Dalam sebuah banyolan dikatakan bahwa bangsa Indonesia telah mewarisi "gen korupsi" saat terlahir kedunia ini. Sudah bukan rahasia lagi ketika seseorang melakukan kampanye dan ingin meraih simpati publik untuk memilihnya, dia mengeluarkan dana besar untuk menggapai dukungan sehingga kemudian saat ia terpilih bukan tidak mungkin, yang rasional dihadapannya saat itu ialah mengembalikan semua uang yang telah ia keluarkan itu. Saat ada kesempatan korupsi pertama yang dilaluinya dengan sukses, maka kesempatan kedua dan seterusnya akan terus dicoba sehingga akhirnya menjadi kebiasaan bahkan menjadi watak. Demikianlah kedzoliman demi kedzoliman yang selalu dilakukan. Itulah sang KORUPTOR si pemakan duit rakyat.

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi yang sangat kontradiktif dengan prilaku koruptor tersebut. Penulis memang selalu mendedikasikan semua kiprah yang ada untuk kebaikan bersama. Karena pesan baginda Nabi bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat dan berguna untuk orang lain. Prinsip inilah yang penulis jadikan pijakan dalam berbuat apapun dan dimanapun. Tujuannya hanya satu agar Allah swt yang maha Rahman dan Rahim memberikan ridho dan rahmat-Nya pada perbuatan itu. Penulis tidak pernah merasa khawatir dengan materi yang didapat. Toh dalam sebuah Hadits juga dinyatakan bahwa Allah akan selalu membantu hamba-Nya selama sang hamba mau untuk membatu dan peduli dengan sesamanya. Prinsip idealis ini memang mengalir begitu saja bahkan terbersit kesadaran dalam hati dan pikiran bahwa melakoni gaya hidup seperti ini akan "menjauh" dari kekayaan materi. Lagi-lagi, prinsip ini terus bergulir sampai pengalaman-demi pengalaman menghampiri dan memberikan pelajaran tak terhingga.

Implementasi dari prinsip tersebut, penulis lakukan dalam semua aktifitas. Aktifitas mengajar misalnya, penulis pernah mengajar disebuah sekolah yang jaraknya dengan lokasi penulis hingga hampir 60 km untuk satu kali berangkat. Dengan kendaraan seadanya dan kebutuhan ongkos yang seadanya pula, penulis melakukan kegiatan mengajar dengan penuh keikhlasan tanpa berharap banyak dari sekolah yang notabene siswanya berasal dari keluarga menengah kebawah. Tapi semua dijalani dengan penuh keceriaan karena menjalankan prinsip diatas.

Pernah juga penulis bersama seorang kawan mengurus sebuah sekolah didaerah kepulauan. Motivasi membantu para siswa yang ingin melanjutkan sekolah, namun tidak disuplai dana yang cukup dari keluarganya karena alasan keluarga tak mampu. Hingga suatu saat, aktifitas penulis di apresisai oleh pemerintah setempat dengan memberikan dana tunjangan rutin untuk setiap tahunnya. Namun sayangnya, ada oknum yang tidak berkenan untuk memuluskan apresiasi tersebut sehingga akhirnya semua dibatalkan karena alasan yang mengada-ada. Penulis hanya berfikir santai dan tidak mengambil sikap apapun. Toh Allah kalau ingin mengasih rezeki kepada hamba-Nya juga tidak akan pernah tertukar. Bahkan yang terjadi adalah berlakunya sunnatullah yang pasti itu. Yang curang akan ditinggalkan, yang benci akan dijauhi, yang dzolim akan menuai perbuatannya karena berani untuk tidak menempatkan sesuatu pada yang semestinya.

Banyak sebetulnya pengalaman terkait dengan konsekwensi mencari atau mendapat materi dari sebuah prinsip yang bisa jadi hanya dimiliki oleh segelintir orang. Alasannya bisa jadi adalah anti kemapanan atau idealisme yang sudah tidak bersahabat dengan zaman sekarang atau juga bisa disbeut kemalasan atau ketidakmampuan yang terorganisir. Apapunlah kata mereka, tapi kalau jiwa mengabdi kepada-Nya sedemikian kuat akan dijalani dengan penuh keikhlasan.

Sebetulnya kesempatan untuk memanipulasi segala fakta bukan tidak tersedia. Mencari materi dengan mengatasnamakan tanggungjawab yang diembanpun pada dasarnya tidak sedikit. Namun niat untuk memanipulasi dan merekayasa itu terasa terkalahkan dengan kekuatan hati untuk berlaku jujur dan adil. Memberikan hak pada orang yang semestinya menerima adalah alasan untuk menjadi amanah disisi Allah. Sehingga semua tersalurkan dengan baik meski penulis tidak mendapatkan bagian yang pasti.

Inilah sebagian kecil yang bisa dilakukan penulis dalam menyikapi masalah materi atau uang. Penulis bukan tidak ingin memiliki kekayaan, tapi mencari kekayaanpun kalau mengorbankan amanah, kejujuran, keadilan dan tanggung jawab akan menjadi beban dosa tersendiri disisi Allah swt.

Tapi, beberapa waktu belakangan ini, kita nyaris setiap hari disuguhi berita tentang korupsi. Sebuah pemberitaan yang mempertontonkan sebuah sikap dan prilaku anak bangsa yang sangat bobrok dan tak beriman. Betapa sangat mencolok sekali saat dibayangkan seorang tukang beca yang sehari hanya terobsesi mendapat uang sepuluh hingga lima belas ribu. Seorang guru yang ada didaerah pelosok yang berjuang memajukan pendidikan anak bangsa namun tidak terbayar capai dan keringatnya dengan bantuan dari pemerintah. Seorang ibu tua yang ditinggal mati suami kemudian menarik beca demi mempertahankan hidup. Ratusan bahkan jutaan kisah yang kita belum tahu bahkan lebih parah dari kisah-kisah diatas tadi. Namun disisi lain, sang koruptor dengan begitu jahatnya mengambil, mengumpulkan, memperbanyak dan menikmati uang haram hasil kejahatannya itu untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Tanpa merasa dosa dan bersalah ia menggunakan dan memamerkan hasil korupsinya itu dengan dalih keberhasilan pribadi dan kesuksesannya sebagai orang hebat dan berpengaruh.

Naas sekali jika mereka satu persatu terungkap dan terdakwa sebagai tersangka. Jutaan sumpah serapah keluar dari mulut orang yang merasa terdzolimi akibat ulah mereka. Rasanya tidak terampuni sekali saat mengetahui modus dan jumlah uang haram yang telah terkumpul. Mungkin hukuman mati juga layak dilakukan. Sangat fantastis hingga ratusan miliar yang diperoleh padahal jika hanya mengandalkan gaji resminya saja perlu puluhan bahkan ratusan tahun untuk menjadi sekaya itu. Penullis pernah berkelakar, bagi sebagian guru ada yang menerima gaji dalam sebulan tidak lebih dari satu juta, baginya perlu 3 kali hidup bahkan lebih untuk mengumpulkan uang sampai milyaran seperti itu.

Sebagai orang Muslim yang beriman, maka perbuatan seperti itu tidak akan pernah dilakukan. jangankan hingga jumlah miliaran rupiah, seribu rupiahpun kalau memang bukan hak kita akan jadi haram saat kita menggunakannya. Saat menemukan uang dijalan dengan jumlah yang lumayan pun tidak akan dimanfaatkan untuk dirinya pribadi tapi akan dilakukan prosedur yang benar untuk mengembalikan uang itu. Kalau Anda ambil dan gunakan untuk keperluan pribadi dengan alasan sebagai rezeki nomplok misalnya, pernahkah Anda membayangkan orang yang kehilangan uang itu akan berkata "biar yang mengambil uang itu sama saja dengan memakan uang haram". Betapa kalau memang ucapan itu yang keluar dari orang yang kehilangan akan menjadi penyakit untuk kita.

Untuk urusan uang memang kita harus sangat hati-hati. Hati-hati itu kita lakukan dalam proses mencarinya pastikan dari cara dan pekerjaan yang halal. Dalam kejujuran akad yang kita lakukan, misalnya saat kita bilang bahwa kita meminjam uang maka kita harus mengembalikannya. Hati-hati juga dalam mendapatkan uang itu apakah benar sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati. Misalnya kita akan mendapat uang itu dengan ukuran waktu yang ditentukan, kemudian kita mengurangi waktu tersebut maka saat menerima uang itupun akan menjadi penyebab hilangnya berkah. Disamping itu juga, saat kita mendapatkan uang hasil usaha jangan pernah melupakan zakat dan shadaqahnya. Jangan pernah menumpuk uang-uang kotor yang mestinya kita keluarkan dan berikan kepada yang berhak. Masih banyak bentuk kehati-hatian yang perlu dijaga agar uang yang kita dapat dab gunakan benar-benar bisa dipastikan dari uang yang halal dan layak.

Terkait dengan kehati-hatian ini, marilah kita renungi pernyataan dan keterangan Allah menyangkut urusan harta. Tahukah Anda bahwa ayat terpanjang yang ada didalam al-Qur'an adalah membicarakan tentang hutang piutang, dan itu tentang uang. Dan tahukah Anda bahwa kajian yang paling detail didalam al-Qur'an adalah tentang mawarits atau harta warisan. Tidakkah Anda membayangkan sholat yang begitu penting tapi tidak dijelaskan bacaan ruku dan sujudnya serta gerakan yang lain. Tidakkah Anda juga merenung bahwa puasa Ramadhan yang kita lakukan tidak dijelaskan ketentuan dan kaifiatnya secara jelas. Ibadah haji, umroh, peristiwa Isra dan Mikrajnya Nabi Muhammad apalgi maulidnya beliau, sama sekali tidak disinggung secara jelas atau detail.

Allah swt pastinya mempunyai maksud dengan penetapan seperti itu. Kita bukan ingin mengatakan bahwa sholat, puasa dan ibadah lain yang tidak diperinci secara detail didalam al-Qur'an, akan kehilangan urgensi dan perhatiannya. Tidak, bukan demikian. Tapi yang perlu dicari tahu adalah hikmah tersebut. Rasanya dalam kenyataan hidup kita memang kita lebih menjumpai adanya orang yang saling bunuh membunuh hanya karena uang seribu rupiah. Ada seorang saudara yang tega membunuh saudaranya karena merasa didzolimi dalam pembagian harta waris. Tapi rasanya belum kita jumpai ada orang tua yang membunuh anaknya hanya karena tidak puasa atau sholat. Rupanya urusan uang memang lebih sensitif ketimbang yang lainnya. Allah yang telah menciptakan makhluk bernama manusia ini rupanya sudah sangat tahu bagaimana memberikan tuntunan yang terbaik untuk hambanya.

Kembali lagi kepada kasus para koruptor. Dimana akal dan pikirannya yang begitu berani dan bangganya mengambil dan memanfaatkan uang yang bukan haknya. Yang jelas akal dan pikirannya telah terselimuti nafsu sehingga cahaya keimanan tidak lagi bersinar menerangi jalannya. Mereka adalah orang yang tersesat jalan. Mereka adalah orang-orang yang menyeburkan keluarganya kedalam kobaran api dosa. Mereka adalah orang-orang yang sedang menabung murka Allah dan kesal manusia. Mereka butuh untuk disadarkan secepatnya, sebelum terlambat saat menjumpai Tuhannya yang penuh dengan siksa pedih-Nya. Untuk itu, Anda wahai para koruptor, lakukanlah hal berikut :

1. Kembalikan uang hasil korupsi Anda kepada negara.
2. Taubatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat
3. Terimalah dengan ikhlas konsekwensi terberat dari hasil kejahatan Anda
4. Sadarlah dengan kembali menjadi manusia yang wajar, yang mengikuti ajaran Allah yang memberikan kesalamatan
5. Carilah uang dengan cara yang halal dan wajar
6. Bergaul dengan masyarakat biasa karena Anda juga manusia biasa
7. Berbagilah dengan mereka. Rasakan kepedihan orang yang lebih kurang dari Anda.
8. Komitmenkan pada diri Anda untuk tidak mengulangi kesalah itu dan manfaatkan sisa umur Anda untuk memohon ampun dan memperbanyak amal mencari ridho dan rahmat dari Allah swt.

Beberapa saran diatas, intinya kembali menjadi diri yang fitrah yang melakukan sesuatu dengan selayaknya sesuai dengan tuntunan Allah yang Maha Pengadil lagi Maha Mengampuni. Semoga membantu menyadarkan kita.

Rabu, 15 Februari 2012

Menimbang-nimbang rasa RAHMAT pada diri kita

By : Rijal Muhammad

Kata rahmat yang sering diartikan kasih sayang sudah menjadi istilah yang sangat lazim bagi bangsa kita, tidak hanya istilah itu diapakai oleh ummat Muslim tapi yang non-muslimpun lazim menggunakannya. Kata rahmat memang selalu dikaitkan dengan bahasa agama. Misalnya, dalam UUD 45 saat kemenangan bangsa Indonesia dari para penjajah di tulis dalam muqaddimahnya bahwa kemenangan tersebut atas dasar rahmat Allah swt. Keberhasilan dan kesuksesan Rosulullah dalam berdakwah pun dinyatakan oleh Allah atas rahmat-Nya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh terjadinya sesuatu atas berkat rahmat Allah swt. Kalau memang terjadinya sesuatu keberhasilan yang besar dan agung itu atas dasar rahmat, maka mari kita telusuri tentang apa dan bagaimana rahmat itu bisa diperoleh dari Sang Pemberi rahmat, Allah swt.

Dalam al-Qur'an, Allah di gambarkan sebagai Arrahman dan Arrahim. Kedua kata tersebut berasal dari kata rahmat. Kata rahman berasal dari wazan fa'lan yang memiliki makna kesementaraan, sehingga rahmatnya Arrahman bersifat sementara karena hanya akan diberi untuk seluruh makhluknya didunia tanpa mengenal latar belakang. Sedangkan Arrahim terambil dari wazan fa'iil yang memiliki arti kemantapan dan kesinambungan, sehingga rahmatnya Arrahim baru akan tercurah pada hamba-hamba-Nya diakhirat kelak yang berprediket taat dan taqwa.

Rahmat yang dimiliki Allah berbeda dengan rahmat yang dimiliki manusia. Perbedaan itu jelas dan pasti karena rahmat Allah itu berifat menyeluruh, tidak terbatas dan diterima oleh yang berhak maupun yang tidak berhak, juga mencakup aneka aneka macam rahmat yang tidak bisa dinilai atau dihitung.


Dalam literatur kelasik, rahmat didefinisikan sebagai kelemahlembutan dalam hati sanubari yang melahirkan sifat untuk memberi kebaikan dan keutamaan pada sesama.

Minggu, 12 Februari 2012

Maulid : Menyelami sirah Rosulullah lebih dalam

By : Rijal Muhammad

Maulid, saya tidak ingin berpolemik tentang pro kontra perayaan yang satu ini. Bagi saya maulid adalah semacam ta'lim biasa, bukan ritual wajib yang mesti, harus dilakukan oleh ummat Islam. Maulid memang bisa menjadi bermanfaat atau tidak tergantung bagaimana kita menyikapi dan menyelenggarakan perayaan tersebut.

Sejarah maulidpun memang banyak sekali riwayatnya. Namun satu yang bisa diungkap adalah bahwa Sultan Solahuddin Al-ayyubi yang memerintah pada tahun 570-590 M pernah berpesan kepada ummat Islam untuk melakukan maulid setiap tahunnya. Alasan dasarnya jelas, bahwa dengan maulid diharapkan ummat Islam bisa menghadirkan semangatnya Rosulullah dalam berjihad sehingga senantiasa timbul semangatnya untuk menghadapi serangan musuh yang pada waktu itu dikenal dengan perang salib. Dan untuk saat ini bukan motivasi jihad -berperang- ketika kita mengadakan maulid, namun untuk menyelami sosok beliau lebih jauh yang menjadi teladan kita dalam setiap ucapan, gerakan, perbuatan, sikap yang akan kita wujudkan dalam kehidupan nyata kita.

Maulid dan maulud, 2 kata yang sering digunakan pada saat-saat bulan Robiul Awwal. Maulid kalau dalam tatanan bahasa Arab merupakan "masdar mim" yang menunjukkan waktu serta tempat dilahirkannya Rosulullah. Sedangkan maulud merupakan "isim maf'ul" yang berarti sosok Nabi Muhammad itu sendiri. Semuanya tidak ada yang salah tinggal tergantung konteksnya penggunaan kedua kata tersebut.

Rosulullah saw adalah sosok manusia mulia pilihan Allah swt. Beliau terlahir juga dari manusia-manusia pilihan yang ditaqdirkan Allah. Dalam silsilahnya, bisa terlihat jelas bahwa beliau adalah keturunan dari para nabi hingga nabi Adam. Adapun silsilahnya adalah sebagai berikut :
1. Muhammad SAW
2. Abdullah
3. Abdul Muthallib
4. Hasyim
5. Abdu Manaf
6. Qusoy
7. Kilab
8. Murroh
9. Ka'ab
10. Luay
11. Ghalib
12. Fihr
13. Malik
14. Nadhr
15. Kinanah
16. Khuzaimah
17. Mudrikah
18. Ilyas
19. Mudhar
20. Nizar
21. Ma'ad
22. Adnan
23. Ad
24. Udad
25. Hamaisya'
26. Salaman
27. Banath
28. Haml
29. Qidrah
30. Ismail
31. Ibrahim
32. Tharah
33. Nahur
34. Syarukh
35. Arghu
36. Falikh
37. Abir
38. Syalikh
39. Arfakhsyid
40. Sam
41. Nuh
42. Lamak
43. Matusyalah
44. Akhnuh
45. Alyard
46. Mahlayil
47. Kinan
48. Anusy
49. Syits
50. Adam wa Hawa (alaihimasaalam)

Salah satu yang sepakat untuk tidak dilakukan adalah mendeskripsikan Rosulullah dalam bentuk gambar atau lukisan tentang beliau, termasuk juga mempersonifikasikan beliau dengan figur lain. Namun demikian, penjelasan tentang deskripsi fisik, prilaku serta mentalnya sering diuraikan dalam berbagai riwayat dan tulisan.

Secara fisik beliau memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu pendek. Rambutnya tidak keriting tergulung tapi juga tidak lurus kaku melainkan ikal bergelombang seperti riaknya ombak dilautan. Kulitnya putih kemerahan tapi tidak merah seperti kulit orang barat atau sawo matang seperti orang Indonesia. Badanya tidak besar namun memiliki bahu yang bidang menandakan bahwa ia sangat aktif bergerak dan bekerja. Dagunya tidak lancip dan memiliki wajah yang bersinar seperti terangnya fajar. Matanya hitam pekat dan memiliki bulu mata yang lentik dan terlihat seperti memakai celak. Hidungnya bak huruf alif yang mancung, senyumnya tersimpul seperti huruf mim dan alsinya membentuk seperti huruf nun.

Kalau ia dipanggil menoleh dengan seluruh badannya. Kalau ia berbicara maka terkadang hingga diulangi 3 kali pertanda pentingnya ucapan itu. Kalau ia menunjuk maka menjulurkan semua jari-jarinya. kalau ia berjalan, berjalan dengan tegap dan gagah seperti seseorang yang berjalan diturunan. Dan sepanjang hidupnya ia cuma memiliki 20 lembar uban, itupun karena Nabi pernah mendapatkan wahyu yang menceritakan tentang adzab. Walhasil, siapapun yang melihatnya akan merasa senang karenanya, dan siapapun yang mengenalnya lebih jauh akan jatuh cinta kepadanya, karena beliau adalah "ahsanunnnasi khalqan wa khuluqan" yaitu sebeaik-baik makhluk baik dari sisi fisik maupun pernagainya.

Rosulullah terlahir sebagai anak yatim dan tidak punya apa-apa. Namun karena kejujuran, ketekunan dan keuletannya dalam mengelola perdagangan yang diamanhkannya, ia mampu menjadi seorang pemuda yang kaya. Bukti kekayaannya adalah terlihat saat ia memberikan mahar perkawinannya dengan Siti Khadijah berupa 20 ekor unta dan 12 ons emas. Kalau kita mencoba untuk mengkalkulasi jumlah mahar tersebut, seperti 1 ekor unta dengan harga 10 juta misalnya, maka 20 ekor akan mencapai jumlah 200 juta. 12 ons emas kalau dibuat dalam ukuran gram maka akan menjadi 340 gram, kalau 1 gram emas misalnya seharga 300 ribu maka 340 gram akan berjumlah 102 juta. Maka total mahar Rosulullah jika dikalkulasikan dengan keadaan uang sekarang kurang lebih 302 juta rupiah. Jumlah yang sangat besar dan mahal untuk ukuran mahar pernikahan. Maka pertanyaannya, anak muda yang manakah yang bisa membayar mahar nikahnya sebesar itu?.

Dalam al-Qur'an QS. Al-ahzab Allah menyatakan bahwa ia terlahir sebagai uswah atau teladan. teladan bagi seluruh ummat dengan level dan profesi apapun. Dan ini bukan sesuatu yang mustahil bagi Rosul pilihan Allah ini. Dalam buku Abqariyyatu Muhammad, Abbas Mahmud Al-Aqqad menjelaskan ada 4 tipe manusia secara keseluruhan, yaitu : 1. Tipe pemikir 2. Tipe pekerja 3. Tipe seniman 4. Tipe Ahli ibadah. Sulit rasanya menjumpai orang yang memiliki sekaligus 2 dari 4 tipe tersebut, apalagi memiliki hingga 4 tipe. Sebagai contoh misalnya, Anda adalah tipe pekerja, sanggupkan Anda bangun malam untuk sholat tahajjud setiap malam, atau puasa senin kamis setiap minggunya. meskipun ada tapi akan terasa jarang sekali. Namun Rosulullah memiliki 4 sekaligus tipe tersebut, karena memang ia dipersiapkan Allah menjadi teladan bagi setiap insan yang terlahir tidak sama.

Teladan bagi si miskin

Rosulullah terlahir sebagai seorang yang yatim bahkan yatim piatu saat berusia 6 tahun. Terlahir dari orang tua yang tidak mewarisi harta berharga untuknya. Masa kecilnya diasuh oleh kakek dan pamannya tak pernah merasakan pendidikan langsung dari orang tuanya. Dalam QS. Adhuha Allah menyatakan bahwa dia Muhammad pernah didapatinya berkekurangan kemudian Allah cukupkan kebutuhannya. Dan perintah untuk tidak mengahrdik anak yatim dan para peminta karena ia sepenuhnya menghayati bahwa ia terlahir sudah menjadi yatim.

Kehidupan dalam rumahnya tak pernah didapati istilah glamour atau berlebihan. Rumahnya kecil berdua dengan Ali bin Abi Thalib. Tiang rumahnya terbuat dari pohon palem yang terbalut lumpur. Alas tidurnya kadang menggunakan pelepah kurma, separuh jadi alas dan separuhnya lagi dijadikan selimut sehingga saat bangun tidur terlihat berbekas pada pipinya yang mulia itu. Kalau mengaca pada kacamata orang sekarang, Rosulullah hidup dalam suasana miskin. Tapi yang luar biasa dalam keadaan seperi itu ia mampu berkata “ BAITI JANNATI” rumah ku laksana surge bagiku. Artinya bahwa untuk merasakan kebahagian tak selalu melalui kekayaan karena kekayaan sebetulnya terletak dihati dan kemampuan mengelola hati itu bukan yang lain. Bagi mereka yang tidak bergelimang harta tidak perlu merasa tak punya figure karena Rosulullah adalah contoh terbaik dalam hal ini.

Namun demikian, bukan berarti bahwa kisah tersebut untuk melegitimasi hidup miskin dan berkekurangan. Karena dalam sabdanya yang lain juga Nabi mengatakan bahwa nyaris kefaqiran mengantarkan pada kekufuran maka setiap muslim mestinya berlindung dari keadaan seperti itu dengan memiliki kecukupan materi.

Teladan bagi si kaya

Muhammad saw memang membuktikan hidupnya yang kita bilang sekarang dengan istilah "kaya" saat beliau memberikan mahar pada Khadijah. Namun bukan jumlah seperti yang disebutkan diatas yang penting, tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana beliau bisa mengumpulkan harta sebanyak itu. Pastinya dengan keuletan, kejujuran dan kedisiplinannya bekerja hingga ia bisa meraih sukses.

Sebagai orang yang memiliki harta, Rosulullah menjadi teladan dalam hal bagaimana ia mencari harta yang halal itu, bagaimana ia menyukuri harta itu, dan bagaimana kemudian ia menggunakan atau membelanjakan harta itu. jawabannya adalah bahwa semua harta yang dimilkinya digunakan sebagian besarnya untuk kebutuhan ummatnya.Teladan yang nyaris sulit dilakukan oleh ummatnya saat ini. Sangat bertolak belakang disaat Islam menganjurkan ummatnya mencari dan membelanjakan hartanya demi tegaknya dakwah Islam, sebagian ummatnya asyik mengumpulkan harta dengan jalan pintas yaitu korupsi. Hasil dari harta korupsi dikumpulkan dan digunakan untuk mengurusi kebutuhannya dan keluarganya tanpa merasa ada salah dan sesal malah menjadi kebanggaan dirinya.


Teladan bagi pemimpin

Banyak juga ilmuwan non-Muslim yang memberikan pernyataan objektif tentang keberhasilan Rosulullah sebagai pemimpin ummat dan menyebarkan Islam. Michael Hart yang jelas memposisikan Rosulullah diurutan pertama karena dia menyatakan bahwa Muhammad adalah orang yang paling berpengaruh dalam sejarah karena memang pengaruh ajaran dan sosoknya begitu kental dan nyata terlihat pada ummatnya hingga saat ini. Ada lagi Sir George Bernard Shaw yang mengandaikan jika Muhammad ada saat ini dan diberikan tampuk kepemimpinan untuk seluruh negara maka dia akan sanggup membuat segala permasalahan menjadi terselesaikan dan membuat kemakmuran bagi setiap rakyatnya.

Cuma ada dua hal penting sebetulnya yang dibutuhkan pemimpin dalam memerintah. Kemakamuran atau kesejahteraan rakyat dan penegakan keadilan yang setinggi-tingginya. Kalau komitmen tinggi dalam melakukan dua hal tadi, maka siapapun yang akan menjadi pemimpin akan meraih kesuksesan dan akan dikenang karena jasa dan kiprahnya oleh rakyatnya.

Sebagai penutup dari peringatan maulid yang setiap tahun sering diperingati, marilah kita resapi cerita seorang nenek-nenek penjual alat-alat dapur yang selalu memungut sampah setelah ia seselai berjualan. Saat ketika ia selesai menjual dagangannya, selalu menyempatkan pergi ke masjid dan memungut semua daun sampah yang berserakan. Hal itu ia lakukan setiap hari sehingga membuat pengurus masjid tersebut merasa iba dan mencari petugas khusus pembersih masjid sebagai pengganti nenek tersebut. Tahu bahwa ada petugas kebersihan yang menggantikan dirinya, ia kemudian menangis sambil memohon kepada pengurus masjid agar dia diizinkan untuk melakukan tugasnya. Kalau ia ditanya apa alasannya ia tidak pernah menjawab. Ia hanya mau menceritakan perbuatannya tersebut kepada seorang Kiai yang ada didaerah tersebut. Dia berpesan pada kiai agar tidak menceritakan alasannya kecuali setelah ia meninggal. Dan setelah meninggal, kiai itu bilang bahwa alasan nenek-nenek itu selalu membuang sampah masjid adalah karena cuma itu yang dia bisa dalam mengejawantahkan rasa cintanya kepada Rosulullah Muhammad saw. Setiap ia memungut satu daun sampah ia memungutnya sambil membaca sholawat atas Nabi Muhammad, dan begitu seterusnya ia lakukan hingga maut menjemputnya. Dia cuma bisa lakukan itu karena dia tidak memiliki yang bisa diandalkan seperti uang misalnya untuk meniru dan meneladani Roslulullah dalam bersedekah. Hanya itu yang dia bisa lakukan.


Rasanya bukan kuantitasnya saja yang perlu diperhatikan saat kita mau mengejawantahkan cinta kita pada Rosulullah, tapi kualitas keikhlasan juga akan sangat menentukan bagi kebenaran cinta tersebut seperti yang pernah ditunjukkan nenek tersebut. Semoga menjadi pelajaran dan renungan bagi kita yang dianugerahi banyak kelebihan dan kesempatan untuk mencintai Rosulullah Muhammad saw.

ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALIHI WA SAHBIH

Minggu, 05 Februari 2012

Mati itu Pulang, Pulang itu Indah dan Menyenangkan

By : Rijal Muhammad

Judul tulisan ini adalah analogi antara kematian dengan pulang. Mudah saja kita membayangkan saat kita selesai bekerja atau sudah lama tidak berjumpa dengan keluarga anak-anak dan istri kita, betapa indah dan menyenangkannya pulang menjumpai mereka dan kembali merasakan kebahagian dan kehangatan bersama mereka. Ada penyemangat bagi kita sehingga saat kita akan pulang selalu ada alasan rindu kepada mereka.

Karena pulang, maka tidak lengkap kalau kita tidak membawa oleh-oleh sebagai bukti bahwa kita pernah pergi meninggalkan keluarga. Maka demikian juga, mati akan menjadi soal serius kalau kita tidak membawa oleh-oleh berupa amal kebaikan yang menjadi wasilah bagi Allah untuk menurunkan rahmat dan ridho-Nya sehingga pulangnya kita menuju Allah benar-benar menjadi sesuatu yang membahagiakan. Karenanya, bekal yang harus kita persiapkan menuju "pulang yang hakiki" itu adalah taqwa.

Dalam QS. Almulk :2, Allah menjelaskan pada kita bahwa kematian dan kehidupan itu merupakan wahana ujian bagi kita untuk melihat kualitas ihsan kita dalam beramal. Rupanya kata ihsan yang dipilih Allah dalam mengukur kualitas kehidupan kita sebelum mati. Memang ada orang yang tidak berbuat sesuatu setalah dia mendapatkan perlakukan baik dari orang lain. Ada juga yang berbuat sesuatu sebatas membalas jasa bahwa dia pernah diperlakukan baik dengan orang lain, namun ada juga orang yang tidak pernah tidak berbuat baik kepada orang lain, baik ia pernah berbuat baik kepadanya ataupun tidak karena motivasi berbuatnya melebihi dari sekedar sisi kemanusiaan. Tipe yang terakhir inilah yang termasuk kedalam kualitas ihsan.

Berbuat ihsan kepada orang lain mestinya diimplementasikan oleh kita karena Allah juga memperlakukan ihsan kepada kita. Allah senantiasa memberikan kebaikan kepada kita meskipun diantara kita tidak tahu berterima kasih atas semua kebaikan itu. Maka wajar jika Dia menyatakan bahwa yang terbaik diantara kita adalah yang kualitas amalnya paling ihsan.

Mati itu ibarat pintu yang setiap orang akan memasukinya. Tidak usah terlalu takut mati karena mati mau atau tidak mau, siap atau tidak siap tetap akan menjemput kita. Sama halnya juga kita tidak usah terlalu berani mati, karena apapun usahanya menuju mati kalau saatnya belum tiba tak akan berhasil. Bukan takut atau beraninya yang penting tapi persiapan dan bekal menuju matilah yang setiap insan mesti memikirkannya. Karenanya penting bagi kita memahami pernyataan Agama tentang semua yang berkaitan dengan kematian.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan satu hadits Nabi yang shohih dan sangat masyhur yaitu bahwa, "orang yang mati akan terputus amalnya kecuali 3 hal ; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendoakan orang tuanya.

Hadits diatas memang sudah kita ma'lum. Namun dalam tulisan ini patut kiranya diungkap juga dari sisi kebahasaannya karena terkait dengan makna yang dikandung. Pertama, kata "Ibnu Adam" yang sering diartikan manusia. Pertanyaannya adalah yang disebut ibnu Adam atau manusia itu berarti mencakup juga non-Muslim bahkan hingga yang kafir, karena bagaimanapun semua manusia berasal darinya. Yang bisa diterangkan dari sisi kebahasaannya adalah bahwa kata "ibnu" merupakan isim nakirah (bersifat luas dan umum) digabung dengan kata "Adam" yang merupakan isim makrifat (bersifat khusus dan terbatas) sehingga dalam kaidah kebahasaan bahwa jika isim nakirah diidhafahkan -disandarkan- pada isim makrifat maka kata tersebut terhukumi makrifat atau bersifat khusus. Oleh karena itu, penyebutan ibnu Adam merujuk kepada keturunan nabi Adam yang muslim dan beriman.

Kedua, penyebutan kata shadaqah juga menggunakan bentuk isim nakirah sehingga shadaqah yang dimaksud tidak hanya tertentu kepada uang yang dishadaqahkan itu. Bukankah tersenyum kepada orang lain adalah shadaqah, bukankah membuang duri yang bisa menghalangi jalannya seseorang juga bisa menjadi shadaqah bahkan kesombongan yang dicounter dengan kesombongan pula dengan tujuan mengobati kesombongan pertama juga bisa menjadi shadaqah. Walhasil banyak ragam shadaqah yang bisa kita sumbangsihkan demi membina dan mengejawantahkan sifat jujur dengan bersedakah itu, karena sesuai dengan dasar kata shadaqah itu yang seakar dengan kata shidiq yang berarti kejujuran.

Ketiga, kata ilmu pada hadits tersebut juga menggunakan isim nakirah. Itu berarti tidak hanya tertuju pada jenis ilmu tertentu tapi mencakup semua ilmu yang tentu saja kita sepakati bahwa ilmu itu bisa membawa manfaat bagi banyak hal dan siapapun. Memang dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa orang yang menunjukkan pada seseorang tentang suatu kebaikan maka ia seolah orang yang melakukan kebaikan itu. Dalam keadaan seseorang tidak memiliki harta untuk disedekahkan maka dengan ilmu yang dia miliki menjadi "harta" juga yang ia bisa sedekahkan atau ajarkan karena zakatnya ilmu adalah mengajarkannya.

Keempat, dalam hadits yang sama lagi-lagi penyebutan kata "walad" yang berarti anak menggunakan isim nakirah sehingga asumsinya adalah tidak hanya terbatas pada anak kandung saja yang bisa mendoakan orang tuanya namun orang lainpun yang bisa disebut anak bisa mendoakannya. Anak memang secara faktanya terbagi menjadi dua. Ada anak hakiki yaitu yang benar-benar terlahir dari orang tuanya atau anak kita sendiri dan ada juga anak ghairu hakiki yang bukan terlahir dari kita namun sudah kita anggap menjadi anak. Bukankah siswa atau santri yang belajar pada kita misalnya bisa kita anggap anak. Bukankah anak-anak yatim yang kita urus juga bisa kita anggap anak. Bukankah ada anak angkat atau anak orang lain yang kita nafkahi juga bisa disebut anak. Walhasil mereka adalah aset bagi kita untuk mendulang keikhlasan doanya kelak saat kita telah pulang menghadap-Nya.

Kelima, masih terkait dengan doa anak-anak yang sholeh, redaksi hadits tersebut menggunakan kata "yad'u" -selalu berdo'a- yang merupakan fiil mdhori'. penggunaan fiil mudhori' memiliki makna kontinyuitas sehingga doa anak-anak yang sholeh itu bukannya hanya diberikan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat belas, keseratus apalagi keseribu hari setelah meninggalnya saja, tapi diharapkan doa itu berkelanjutan terus kapanpun dipanjatkan yang tiada henti-hentinya. Inilah harapan bagi orang tua yang memilki anak sholeh yang selalu dan senantiasa mendoakannya agar senantiasa diampuni segala dosa dan kesalahnnya, diterima segala amal ibadahnya dan Allah meridhoinya dengan menurunkan rahmat kepadanya sehingga ia ditempatkan yang layak disisi-Nya.

Inilah beberapa pengecualian terkait dengan amal yang senantiasa mengalir pahalanya, disaat Allah swt menyatakan bahwa untuk manusia tak lain hanyalah amal yang diusahakannya. Artinya bahwa pada saat manusia meninggal maka yang dianggap adalah hanya yang ia pernah lakukan dan usahakan saat hidup. Ini juga sekaligus menjadi penegas bahwa usaha dan amal apapun dengan dalih mentransfer pahalanya bagi orang yang sudah meninggal tidak diperkenankan karena memang kesempatan orang yang meninggal itu sudah habis. Hanya saja, yang bisa dilakukan oleh orang yang hidup untuk orang yang telah mati adalah mendoakannya, memohonkannya ampun, memohonkannya agar Allah menghapus segala dosa dan kesalahannya, memohonkannya agar diberikan rahmat sehingga Allah -dengan penuh harap dari kita- akan memberikan kebahagiaan untuknya.

Inilah salah satu yang perlu kita tahu dalam memahami wawasan dan pengetahuan-pengetahuan menuju "pulang hakiki" karena semua orang akan pulang yang menyenangkan itu. Kenapa menyenangkan?, karena ruh itu berasal dari Allah swt yang telah mengalami perjanjian dengan-Nya bahwa Allah adalah sebagai Tuhannya. Kemudian pada saat terlahir kedunia mestinya ia menjaga perjanjian itu dengan sebaik-baiknya sehingga pada saat ruh itu kembali kepada-Nya masih tetap kepatuah terhadap Tuhannya. Maka ruh yang kembali dengan mempertahankan perjanjiannya itu akan merasa senang dan bahagia karena ia bisa sampai kepada Penciptanya dengan baik.

Sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa menjaga dan membawa diri ini untuk selalu istiqamah berada dijalan-Nya bukan sebuah perkara mudah namun perlu perjuangan untuk mempertahankannya. Tidak hanya itu, tuntutan untuk tidak melakukan sesuatu yang tdak benarpun sedemikian kuat sehingga yang dikerjakan oleh diri kita adalah hanya kebaikan atau fitrah yang telah Allah tentukan. Harapanya perbuatan baik itulah yang akan menjadi bekal bagi kita untuk menjumpai sang Khaliq yang telah menciptakan dan akan mengembalikan kita semua hanya kepada-Nya.

Senin, 16 Januari 2012

Menelaah bacaan dan makna ALHAMDU LILLAAH

By : Rijal Muhammad

Sebagian cara yang terdapat didalam al-Qur'an dalam penyusunan suratnya adalah metode induksi-deduksi, yaitu mengurutkan surat dari yang paling global dan umum kepada surat yang lebih khusus dan terperinci. Ini juga yang berlaku pada penerapan surat al-Fatihah yang berada diurutan pertama dalam al-Qur'an meskipun bukan yang pertama diturunkan.

Semua ayat-ayat yang ada dalam al-Fatihah menjadi "miniatur" al-Qur'an karena mencakup isi-isi pokok kandungan al-Qur'an semisal ibadah, aqidah, akhlak, sejarah dan lain-lain. Alfatihah sesuai dengan namanya berarti pembuka. Pembuka dari surat-surat yang ada dalam al-Qur'an. Pembuka dari segala kandungan yang terdapat didalam al-Qur'an. Dan pembukaan tersebut diawali dengan pernyataan segala puji bagi Allah setelah sebelumnya tentunya diawali dengan basmalah.

Alhamdulillahi, demikian kandungan pertama yang disampaikan Allah dalam surat al-Fatihah ini. Tentunya jumlah kata ini yang didahulukan bukan tanpa dasar dan rahasia, namun memiliki sejumlah implikasi makna yang akan memandu kita dalam memahami dan mengamalkan kandungan-kandungan yang lain dalam kehidupan kita.

Diantara telaah kebahasaan terhadap bacaan ALHAMDU LILLAHI ialah sebagai berikut :

1. Kata "Alhamdu" berasal dari fiil madhi "hamida" berarti memuji, sedangkan dalam kata yang lain ada juga kata "Almadhu" dari fiil madhi "madaha" yang juga berarti memuji.

Itulah uniknya bahasa Arab yang menandakan kekayaan kosa kata yang dimilikinya. Perbedaan dari kedua kata tersebut yang secara umum memiliki arti yang sama namun dalam detailnya tidaklah sama, misalnya :

Pertama, kata alhamdu itu memilki arti pujian dengan ucapan yang mengundang decak kagum pada suatu perbuatan atau keindahan, yang bersifat "ikhtiari", baik konteks pujiannya tentang nikmat atau selainnya. Sedangkan kata almadhu bersifat "idhtirary". Maksud dari ikhtiari adalah bahwa keindahan tersebut bersifat aktif dan diusahakan. Misalnya, si A dikenal sebagai orang miskin, namun karena ia tergerak untuk menjadi kaya ia pun berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kaya. Kemudian jadilah ia kaya. Dia dipuji oleh banyak orang karena upaya kerasnya dan kedermawanannya kepada sesama. Seangkan idhtirary bersifat pasif dan cenderung sudah menjadi bawaan. Misalnya, si B terlahir dengan memiliki hidung yang mancung. Saat besar dia terlihat gagah dan mancung hidungnya menjadikan wajahnya rupawan. Karenanya, penggunaan kata alhamdu bukan almadhu untuk menekankan bahwa segala pujian yang disandarkan kepada Allah berasal dari ketentuan-ketentuan yang bersifat aktif dan pilihan atau terusahakan.

Kedua, kata alhamdu berarti pujian dimana orang yang memuji itu kemudian mengalami perasaan kagum dan cinta bahkan berusaha mengikuti kebaikan dari orang yang dipujinya itu. Karena itu, kata alhamdu cuma disampaikan kepada makhluk yang berakal. Sedangkan kata almadhu hanya sebatas melontarkan pujian saja tanpa dia merasa mencintainya atau berusaha untuk mengikuti kepada siapa atau apa yang dia puji.Karena itu, cakupan objek pujian kata almadhu itu lebih luas karena mencakup juga benda mati atau makhluk tak berakal.

Ketiga, kata almadhu terkadang digunakan sebelum seseorang melakukan kebaikan, termasuk juga sesudahnya. jadi dalam penggunaan kata ini ada orang dipuji meskipun dia belum melakukan sesuatu apapun. Berbeda dengan kata alhamdu yang baru bisa terucap kalau seseorang telah melakukan kebaikan. Jika demikian apa bedanya dengan kata "syukur". Dalam hal ini syukur memiliki kesamaan dengan kata alhamdu, hanya bedanya kalau syukur itu jika seseorang telah menerima nikmat, hanya nikmat tidak untuk yang lain. Sedangkan kata alhamdu mencakup nikmat dan selainnya seperti sifat atau atau kelakuan baik.

Dari keterangan diatas, jelaslah kenapa kata alhamdu yang dipilih bukan kata almadhu. Disamping karena Allah adalah Dzat yang menciptakan makhluk yang berakal namun juga karena pujian kepada-Nya harus menghantarkan kita untuk mengagumi, mencintai dan kemudian meneladani kebaikan dari pujian itu. itulah pujian yang aktif.

2. Kata Alhamdu lillahi biasa kita terjemahkan dengan arti segala puji milik Allah swt. Dari terjemahan tersebut, terdapat kata "segala/semua" karena meskipun kata alhamdu berbentuk mufrad atau tunggal namun fungsi alif lam pada kata tersebut sebagai "lil istighraq" untuk menyatakan makna keseluruhan. Sehingga mafhumnya adalah segala bentuk pujian yang ada dan yang tersampaikan hakikatnya adalah milik Allah swt.

Sementara ulama memang melakukan penafsiran terhadap jenis pujian ini menjadi 4 macam.

Pertama, hamdu Qadimin liqadimin yaitu pujian Allah kepada dzatnya sendiri. Misalnya, saat Allah adalah Dzat yang telah menciptakan beberapa lapis langit dan bumi, Allah berfirman الحمد لله الذى خلق السموات والأرض segala puji bagi Allah yang telah menciptakan beberapa lapis langit dan bumi. Yang mencipta Allah dan yang menyatakan hal itu juga Dzatnya.

Kedua, hamdu Qadimin liHaadits yaitu pujian Allah kepada hamba-Nya. Misalnya saat menilai bahwa Nabi Sulaiman dan Ayyu adalah sebaik-baik hamba-Nya dalam hal kuantitasnya melakukan taubat dan ibadah kepada Allah, seperti pada firman-Nya نعم العبد إنه أواب. Dalam konteks Allah memuji hamba-Nya, bukan berari pujian itu tidak kembali kepada Allah, bahkan pujian itu layak dikembalikan karena Allah lah yang telah menganugerahkan kebaikan itu kepada kedua nabi tersebut.

Ketiga, hamdu haaditsin li Qadimin pujian makhluk kepada Penciptanya Allah swt. Inilah sejatinya pujian yang senantiasa kita lakukan, baik dalam ucapan kita dengan memperbanyak bacaan hamdalah tersebut juga dalam perbuatan kita, yang mencerminkan syukur atas segala anugerah dan nikmat yang kita dapat.

Keempat, hamdu haaditsin li haaditsin. Pujian dari makhluk untuk makhluk. Kita memuji makhluk Allah yang lain dalam hal kelebihannya memiliki sesuatu. Baik kita memuji karena keilmuannya, karena hartanya, karena kedermawanannya, karena perangainya yang mulia, karena kecantikannya dan hal lain yang bisa dimiliki manusia. Semua pujian-pujian yang kita terima itu haruslah disandarkan kepada-Nya, karena sesungguhnya semua itu berasal dari-Nya dan kapanpun Ia akan mengambilnya manusia harus siap melepasnya.

Karena itu, setiap insan harus menyadari sepenuhnya bahwa sekecil apapun celah pujian yang diterimanya mengharuskan ia mengembalikan pujian itu kepada Allah Sang Pemilik segala puji. Ini mengindikasikan bahwa manusia tidak layak untuk menyandang pujian itu karena mereka hanyalah sebagai wasilah atau sarana yang Allah ciptakan untuk menampung pujian yang berasal dari-Nya.

3. Lafad الحمد لله dalam bahasa Arab merupakan "jumlah ismiyah" atau dalam bentuk kalimat nominal lawan dari kalimat verbal. Penggunaan jumlah ismiyah atau kalimat nomina memiliki implikasi makna yang beragam pula.

Pertama, bentuk tersebut tidak mempunyai waktu khusus. Misalnya kalau dalam bahasa Arab ada waktu lampau, sekarang dan akan datang. Karena tidak ada waktu tertentu pada kata alhamdu tersebut maka waktu yang berlaku bagi kata tersebut adalah mutlak, artinya bahwa pujian itu tidak terbatas oleh adanya waktu sehingga pujian itu akan terus berlaku dari dahulu, sekarang bahkan hingga selamanya. Manusia yang memujinya pun tidak akan pernah luput, semenjak kehadiran manusia pertama hingga terakhir nanti.

Kedua, penggunaan jumlah ismiyah itu adalah bentuk penggunaan orang ketiga. Artinya bahwa, memuji itu memiliki etika dan cara yang ideal. Allah mengajarkan itu dalam bentuk redaksi seperti ini. Jadi kalau ingin memuji yang sebenarnya adalah disaat orang keduanya sebagai penerima objek pujian, tidak ada didepan kita. Itulah pujian yang tulus. Karena bisa jadi orang memuji didepan pelakunya karena motif lain, seperti mencari muka, merasa tidak enak atau karena terpaksa yang akan melunturkan ketulusan memujinya. Saat kita mengucap Alhamdulillah adalah sebagai pernyataan tulus memuji dengan sangat mantap dan khusus.

4. Dalam segi jumlah lafadz Alhamdulillah menggunakan jumlah khobariyah atau kalimat berita.

Penggunaan jumlah khabariyah menjelaskan informasi tentang tetapnya sifat pujian itu hanya milik Allah. Dalam bentuknya itu terdapat beberapa penjelasan :

Pertama, kalau menggunakan kata kerja maka pelakunya hanya terbatas pada orang tertentu misalnya saya memuji, kami memuji sedangkan pertanyaannya bagaimana dengan yang lain?.

Kedua, secara bentuk kata memang bukan berasal dari kata kerja, namun hakikatnya ini adalah bentuk perintah. Perintah yang mencakup semua orang untuk melakukannya. Semua orang wajib memuji Allah dan mengembalikan semua pujian hanya kepada-Nya. Pujian yang tidak dibatasi oleh waktu.

Karena itulah, dari kata الحمد لله ini, dengan susunan dan redaksional yang begitu sempurna mengajarkan kita banyak hal seperti yang telah dipaparkan diatas. Namun yang paling berkesan dari semuanya adalah Allah mengajarkan cara untuk memujinya dengan kata yang begitu singkat namun padat. Kita tidak bisa membayangkan jika tidak dipandu dengan redaksi semacam ini untuk memuji-Nya, padahal memujinya adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh para hamba-Nya. Kalau kita memuji Allah dengan kata yang sesingkat itu, maka pujian yang kita alamatkan kepada sesama mestinya tidak perlu bertele-tele karena menghindari pujian yang berlebihan yang bukan tidak mungkin menjadikan pujian itu tidak tulus dan racun bagi yang dipujinya.

Selanjutnya, karena pujian itu bersifat mutlak dan tidak terbatas waktu, maka marilah kita memuji-Nya sebanyak kita mendapatkan anugerah dari-Nya. Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali kita sudah diajarkan do'a yang menyertakan pujian kepada Allah. Jika seseorang telah menjiwai makna pujian ini maka saat mendapatkan musibah pun dia akan mampu berkata الحمد لله الذى لا يحمد على مكروه سواه (maha suci Allah, dimana tak ada yang bisa dipuji walau saat merasakan kesusahan, kecuali Dia).

Semoga pujian yang kita haturkan kepada-Nya, membuat kita mampu meneladani-Nya dan selalu menjadi hamba-Nya yang penuh syukur. Amin.

Rabu, 14 September 2011

Rahmat, Maghfirah dan Itqun Minannaar

By : Rijal Muhammad

Kita baru saja merayakan idul fitri 1432 H setelah selama sebulan menjalankan ibadah ramadhan. Sirkulasi tahunan yang dirancang Allah swt bagi kemaslahatan ummat manusia agar senantiasa berada pada fitrahnya. Permaslahan fitrah memang sangat mendasar bagi kehidupan ummat tidak hanya didunia namun yang lebih penting lagi setelah ia memasuki alam akhirat. Mengapa demikian? karena manusia - secara lintas batas- pada awalnya awalnya berada dalam keadaan yang fitrah sehingga ketika ia hidup harus mempertahankan nilai-nilai fitrahnya itu agar ketika kembali menuju Tuhan-nya sama ketika ia diciptakan pada awalnya.

Bukan tentang nilai-nilai fitrah yang ingin dikemukakan dalam tulisan ini, namun hanya berkenaan dengan istilah serta moment-moment yang sangat lazim disebut pada bulan ramadhan yaitu tentang pembagian ramadhan menjadi 3bagian yaitu 10 hari pertama berisi rahmat, sepuluh hari kedua berisi maghfirah dan sepuluh hari yang ketiga berisi itqun minannnar (pembebasan dari neraka). Hal ini memang sering disebut sementara orang sebagai hadits, tapi banyak juga ulama menyatakan bahwa ini hanyalah qaulny ulama tidak sampai kepada hadits Nabi. Terlepas dari itu, penulis ingin memngangkat substansinya karena sedikitpun tak ada yang menyalahi ajaran agama Islam.

Rahmat, sering kita menyebutnya dengan makna kasih sayang. Ia juga diartikan perasaan iba kepada makhluk sehingga kita ingin membuat mahkluk itu meraih kebahagiannya kalau memang ia merasakan masalah atau penderitaan. Rahmat memang salah satu sifat Allah yang Maha Agung yang akan dilimpahkan kepada siapa yang Ia kehendaki (liyudkhlilallahu fi rahmatihi man yasyaa).Rahmat adalah yang menjadi wasilah bagi seseorang untuk bisa meraih kebahagiaan atau kemenangan, tidak hanya didunia tapi yang lebih penting lagi di akhirat kelak. Lihat saja misalnya keberhasilan dan kesuksesan Nabi Muhammad dinyatakan oleh Allah karena mendapat rahmat-Nya (fabima rahmatin minallahi linta lahum..)kita juga bisa melihat kemenangan bangsa Indonesia yang menyatakan atas rahmat Allah swt. Jadi rahmat sedemikian penting bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan.

Ada juga kasus lain yang menjadi i'tibar bagi kita tentang betapa urgennya rahmat bagi manusia dan nasib kehidupannya. Sebuah riwayat yang sangat masyhur bagi kita saat diceritakan bahwa ada seorang wanita tuna susila yang menuju pulang setalah melakukan aktifitas maksiatnya. Tiba-tiba pada saat menuju pulang, ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan. Kemudian rasa ibanya mengantarkan ia untuk mengambil air dengan menggunakan sepatu yang dipakainya. Ia mengambil air dalam kubangan air agak dalam -semacam sumur- dengan menggunakan sepatunya kemudian ia meminumkannya kepada anjing tersebut. Masih dirasa belum cukup, wanita tersebut mengambil air untuk kali kedua, namun apa dinyana ternyata wanita tersebut terpeleset hingga masuk kedalam sumur dan akhirnya meninggal. Wanita tersebut dalam keterangannya telah mendapat rahmat dari Allah dan akan dijanjikan akan meraih surga-Nya. Kalau manusia menggunakan logika, maka akan terkesan tidak adil karena hanya menolong anjing kemudian Allah menjanjikannya surga. Tapi itu semua prerogatif Allah karena Ia berkehendak kepada siapapun bagi orang yang dengan tulus murni menerapkan sifat rahmat kepada semua makhluk-Nya.

Namun ada juga sebuah kasus yang terjadi pada zaman Nabi, bahwa diceritakan ada seorang wanita yang ahli ibadah namun ia akhirnya dimasukkan kedalam neraka hanya karena ia telah memenjarakan seekor kucing, tidak memberinya makan dan akhirnya mati. Dua kisah penuh makna ini mestinya menjadi renungan bagi kita semua dalam membenahi prilaku dan sikap kita dalam kehidupan. Jangan-jangan segenap ibadah yang kita lakukan tidak mendapat rahmat dari Allah karena di hati kita penuh dengan jiwa dendam, hasud dan prilaku kasar lainnya yang sangat bertentangan dengan penerapan rahmat pada alam dan makhluk. Nah, sepuluh hari pertama dalam bulan ramadhan itu, yang dinyatakan sebagai waktu dimana Allah akan “mengumbar” rahmat-Nya akan menjadi kesempatan bagi kita untuk melaksanakan amal dan ibadah dengan rasa penuh harap semoga ibadah yang dikerjakan itu akan menjadi wasilah bagi Allah untuk menurunkan rahmat-Nya pada kita. Itu artinya tidak semua amal dan ibadah akan mendapatkan rahmat-Nya. Allah menyebut orang-orang yang dikehendaki-Nya, maka tugas kita sebagai hamba-Nya berusaha mengetahui siapa dan apa saja ciri-ciri orang yang akan mendapatkan rahmat-Nya itu. Rasanya, berusaha belajar menerapkan rahmat pada makhluk Allah –manusia, binatang, pohon, hewan juga benda mati lainnya- akan menjadi pintu masuk bagi kita agar amal yang kita lakukan senantiasa akan dirahmati oleh-Nya. Hal yang tidak kalah pentingnya menyangkut rahasia Allah ini adalah, membenahi qalbu kita dari segala bentuk kekasaran dan ketidakpedulian sehingga yang selalu diperbuat kita adalah berdasarkan pada kelemahlembutan serta perasaan memiliki untuk senantiasa peduli pada kemakmuran makhluk.

Setelah selesai malam-malam rahmat, maka sepuluh hari yang kedua berisi maghfirah atau ampunan dari Allah swt. Maghfirah diberikan karena Allah memberikan kesempatan kepada hambanya yang dhoif untuk memperbaiki kesalahan atau dosa yang diperbuatnya. Allah juga dalam hadits qudsi-Nya menjelaskan bahwa seberapa besar pun dosa yang dilakukan hamba-Nya, kalau sang hamba datang kepada-Nya dengan tulus memohon ampun atas segala dosa yang diperbuat maka dengan rahmat-Nya Ia akan mengampuni, terkecuali dosa syirik atau menyekutukan-Nya.

Bicara tentang dosa memang bukan sebuah kemustahilan bagi prilaku manusia. Sadar atau tidak sadar manusia sangat rentan sekali untuk melakukan dosa-dosa. Allah tentunya sangat memaklumi dan mengetahui proporsinalitas kita sebagai manusia. Karena itulah, sebagai Dzat yang maha pengampun ia memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri, tentunya dengan komitmen yang tegas bahwa apa yang dilakukannya sebagai dosa, menyadari sepenuhnya dosa tersebut dan yang terpenting tidak akan pernah mengulangi perbuatan yang sama. Sebagai pemakluman Allah atas dosa manusia, Ia menyapa kita dengan firman-Nya ألا تحبون أن يغفر الله لكم Tidakkah kamu menyukai diampuni oleh Allah. Dalam ayat itu Allah memang benar-benar menampakkan sifatnya yang tidak pendendam dalam arti sangat membuka lebar pintu maaf bagi hamba-Nya yang pernah melakukan khilaf dan dosa. Tahukah kita bahwa dosa yang diampuni itu, karena Allah merupakan Arrahman dan Arrahim yang memiliki sifat rahmat pada makhluknya.

Sepuluh hari yang ketiga dalam bulan ramadhan adalah itqun minannaar (bebas dari neraka). Kalau ini dipahami oleh orang awam maka melakukan puasa dan tarawih pada sepuluh hari itu akan mendapat garansi terhindar dari neraka. Inilah pentingnya memahami keterangan agama dengan cermat dan mendalam. Keterangan itu tidak serta merta akan terjadi pada orang yang melakukan ibadah di sepuluh hari terakhir itu, apalagi orientasi melaksanakannya hanya pada hari-hari itu saja tanpa melihat kualitas dan kuantitas ibadahnya setelah selesai ramadhan. Hemat penulis, ketiga istilah ini -rahmat, maghfirah dan itqun minannaar- merupakan sebuah rangkaian yang selalu berkaitan. Rahmat dengan maghfirah misalnya, bahwa dosa bisa terampuni karena sifat rahmat Allah yang penuh kasih dan maaf terhadap hamba-Nya. Sedangkan itqun minannaar adalah sebuah konsekwensi logis bagi sang hamba saat ia benar-benar mengorientasikan seluruh amalnya hanya karena ingin mendapat rahmat-Nya juga dengan komitmen yang sangat tegas untuk sebisa mungkin menghindari dosa dan prilaku tercela, maka pada saat demikian apalgi bagi Allah selain Ia ingin memberikan kenikmatan surga-Nya atau dengan kata lain menghindarkan sang hamba sejauh-jauhnya dari panasnya neraka.

Demikian, semoga ramadhan membentuk kita menjadi pribadi yang taqwa. Taqwa yang menjadi center prilaku baik kita sehingga segala yang terucap dan diperbuat selalu berdasarkan konsep taqwa itu.

Jumat, 22 April 2011

Yang selalu bergandengan dalam al-Qur'an

Al-qur'an memang sebuah kitab yang benar-benar sempurna. Sempurna bukan hanya ia berasal dari Almutakallim, Allah swt, namun juga karena tidak terdapat cela dan kesalahan baik dari segi substansi dan redaksinya. Al-qur'an terbentuk dari wazan fu'lan yang mengesankan kesempurnaan sehingga al-Qur'an berarti bacaan yang sempurna.

Kesempurnaan al-Qur'an bisa kita lihat dari aneka pengetahuan dan informasi yang di sampaikan. Bahkan yang membuat kagum banyak pembacanya adalah menyampaikan informasi yang baru terjadi setelah sekian lama al-Qur'an itu diturunkan. Al-qur'an -sebagai kitab pedoman ummat Islam- memang memiliki keunikan tersendiri terkait dengan penyampaian pesan, perintah dan larangan, penyusunan redaksi dan kata-kata yang saling berkesesuaian, misalnya kata yaum (hari) didalamnya terdapat 365 kata sebanyak hari dalam setahun atau juga misalnya kata sahr (bulan) yang terulang hingga 12 kali sama dengan jumlah bulan-bulan dalam setahun.

Salah satu keunikan yang disampaikan oleh Allah swt dalam al-Qur'an adalah adanya penyebutan kata yang selalu bergandengan. Penyebutan kata yang bergandengan tersebut tentunya bukan hanya asal sebut, namun memiliki implikasi makna yang semestinya menjadi renungan bagi setiap muslim untuk menangkap makna tersirat yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Ini (penyebutan kata yang selalu bergandengan) juga bisa menjadi formula bagi kita, formula untuk berbuat berdasarkan petunjuk dan prioritas. Rasanya tak ada yang perlu disangsikan lagi bahwa cara Allah menyampaikan maksud-Nya dengan cara seperti ini karena sesuatu yang selalu digandengkan itu memiliki keterkaitan yang sangat erat untuk meraih kesempurnaan dan kebaikannya.

Diantara hal-hal yang selalu digandengkan oleh Allah dalam penyebutannya didalam al-Qura'an adalah :

1. Taat kepada Allah dan Taat kepada Rosulullah
Dalam beberapa redaksi ayat didalam al-Qur'an, ketika berbicara tentang ketaatan maka pernyataan Allah adalah taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosulullah (Muhammad saw). Sangat penting memang sehingga ALlah mengulang kata taat untuk Rosul-Nya itu. Penekanan kata taat itu bisa jadi mengindikasikan betapa urgennya -sebagai bentuk penguatan- untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rosul-Nya. Bisa juga mengandung pesan bahwa ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna tanpa taat kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kedudukan maknanya, maka sudah tidak bisa disangsikan lagi bahwa kesempurnaan dan keagungan Islam tidak bisa dipisahkan lagi antara ajaran Allah dan Rosulullah. Allah adalah sumber sedangkan Rosulullah adalah yang bertugas menyampaikan dan mengejawantahkan semua ajaran Allah hingga kita bisa melaksnakannya sampai saat ini. Rosulullah adalah yang memperinci yang global yang ada di al-Quran. Beliau juga yang menjelaskan yang samar menjadi jelas. Maka karena beliaulah yang diutus dan dipercaya untuk menjadi "kepanjangan" ajaran Allah, tidak bisa tidak bahwa ketaatan haruslah memadupadankan antara ajaran Allah dalam al-Qur'an serta ajaran Rosulullah sebagai penyampai dan penjelas ajaran al-Qur'an.

2. Iman dan Amal Sholeh
Dua istilah ini memang telah sangat lazim sekali bagi kita pada saat membaca al-Qur'an dan menghayati maknanya. Pembahasannya juga acap kali kita dapat dari berbagai sumber. Hal ini memang sangat mengesankan kepada kita bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kalau kita bilang teori tidak akan lengkap dan sempurna tanpa adanya praktek maka iman pun tidak akan sempurna tanpa ada implementasinya. Keimanan yang dimiliki seorang muslim menuntut adanya bukti dari apa yang dia imani itu. Bukti itulah yang kemudian akan menjadi penentu bahwa seseorang itu benar-benar memiliki iman yang sesungguhnya atau hanya hiasan bibir saja saat dengan mudahnya diucapkan kata iman itu. Bukti itu juga lah yang akan menentukan kwalitas iman seseorang dihadapan Allah swt. Allah swt menegaskan pada kita bahwa orang yang beriman jangan mengira tak akan diberikan aneka ujian sebagai bukti ketangguhan imannya. Pada saat kita menyatakan diri kita sebagai orang yang beriman maka bersiaplah dengan melakukan aneka amal sholeh yang dituntunkan oleh-Nya seraya memiliki mental yang kuat dan sabar dalam menghadapi ujian-Nya sebagai evaluasi bagi keimanan kita.

Karena itulah tidak ada iman tanpa melakukan amal sholeh dan amal sholeh yang dilakukan tanpa didasari iman kepada-Nya hanya akan menjadi debu berhamburan yang sia-sia.

3. Sholat dan Zakat

Yang bisa kita renungi untuk dijadikan pelajaran dari sholat dan zakat adalah bahwa sholat merupakan lambang hubungan vertikal kepada Allah swt sedangkan zakat urgensinya langsung berdampak pada hubungan kita dengan sesama. Rupanya dengan sholat dan zakat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa hubungan kita sebagai manusia itu hanya bisa akan lengkap dan sempurna saat kita mempraktekkan keduanya bahkan tidak hanya dalam ritualnya saja, namun pada implementasinya dari makna dan hikmah yang bisa diambil dari kedua istilah itu.

Sholat dalam arti bahasanya berarti doa. Memang pada saat sholat yang kita baca adalah rangkaian doa atau komunikasi kepada-Nya yang penuh dengan pujian, pengakuan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Komunikasi intensif yang akan membentuk jiwa yang tawadhu, sadar akan kelemahan dan ketidakberdayaan bahwa semuanya ditetapkan yang terbaik oleh Allah. Zakat menurut bahasanya berarti bersih, bersih dari kotoran ruhani tepatnya. Memang, saat zakat dikeluarkan, diawali dengan timbulnya perasaaan enggan mengeluarkan, terasa berat diberikan karena ia merasa betapa susahnya mencari uang dan seterusnya. Tapi ia berhasil juga dengan mengeluarkannya setelah dorongan akal, perasaan, terutama ajaran agama mendominasinya hingga hatinya luluh untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi untuk kemanusiaan dan karena Allah swt.

4. Iman kepada Allah dan hari akhir

Disejumlah ayat dalam al-Qur'an pada saat menyebutkan objek rukun iman maka mesti yang tidak pernah tidak disebut adalah iman kepada Allah dan hari akhir. Demikian juga didalam banyak hadits maka yang selalu disebut oleh Rosulullah adalah iman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat. Misalnya saja, من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت dan hadits-hadits yang lain.

Kalau kita cermati, memang penggandengan antara iman kepada Allah dengan hari akhir bisa dilihat dari penekanan Agama ini terhadap adanya kehidupan setelah alam dunia berakhir. Inti yang ingin disampaikan bahwa kehidupan yang hakiki dengan segala konsekwensinya, baik kebahagiaan atau kesengsaraan, akan datang setelah semua kehidupan dunia berakhir. Maka untuk menyadarkan manusia demi menghantarkannya pada kebaikan dan kebahagiaan yang sempurna hendaklah mereka mengetahui, mengikuti, menaati, dan menjalani semua yang dititahkan Allah dalam ajaran agama-Nya yaitu Islam. Dalam ajaran-Nya, Allah memang sangat menitikberatkan segala aktifitas yang dilakukan selama didunia tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia tapi lebih dari itu mereka mampu mengarahkan aktifitas duniawinya menjadi amalan yang bersifat ukhrowi.

Manusia yang sadar akan ajaran itu, maka pasti akan mendedikasikan seluruh amal dan perbuatannya demi karena Allah, karena karena ia akan menemui kebenaran janji-Nya tentang kebahagiaan yang hakiki dan sempurna setelah semua kehidupan ini berakhir.

5. Jihad dengan AMWAL dan ANFUS

Jihad, memang sementara orang mengartikannya menjadi pengertian yang sempit. Dalam pandangan sempit itu,jihad lebih identik dengan perang, bahkan saat ini pengertiannya menjadi lebih "kabur" karena ada yang menafsirkannya dengan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad.

Jihad dalam pandangan penulis adalah sebuah upaya keras dan maksimal dalam mewujudkan sebuah obsesi sampai benar-benar terwujud. Pengertian ini memang sangat umum sekali, karena apapun yang diupayakan secara maksimal atas nama obsesi akan dinamakan jihad. Memang, pengertian itu didasari pada firman Allah yang selalu menggandengkan jihad dengan kata amwal dan anfus. Allah selalu mengawali kata jihad mesti dengan kata amwal baru kemudian anfus. Amwal berarti harta dan anfus berarti jiwa raga.

Berjihad dengan menggunakan harta dan jiwa raga tidak hanya terorientasi pada satu bidang saja, perang misalnya. Tapi justru akan sangat beragam sekali bidang objek yang akan dimasuki oleh kata jihad itu. Dengan harta, kita bisa berjihad untuk kemajuan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, bahkan membantu mengurangi kemiskinan yang metode serta caranya banyak diusung oleh macam-macam lembaga baik pemerintah atau swasta yang ada. Sedangkan jihad dengan jiwa raga atau pribadi secara fisik banyak sekali kondisi dan keadaanya tergantung dari kesediaan orang yang akan berjihad itu.

Ada yang menarik dari pernyataan firman Allah yang selalu mendahulukan kata amwal yang berarti harta baru kemudian anfus (jiwa raga). Barangkali pesan tersirat yang ingin disampaikan adalah bahwa jihad dengan menggunakan amwal akan sangat berarti lebih signifikan dan luas ketimbang anfus. Maka makna yang bisa dipetik adalah bahwa orang Islam mesti memiliki keluasan harta baik secara pribadi ataupun kolektif. Kekuatan ekonomi akan sangat menunjang sekali demi terwujudnya jihad yang diharapkan.

Demikian beberapa istilah yang selalu digandengkan penyebutannya dalam al-Qur'an. Kita tentunya meyakini dan menyadari bahwa Allah sebagai Yang Empunya al-Qur'an, memiliki maksud serta tujuan yang tersirat yang ingin disampaikan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.