By : Rijal Muhammad
Kita baru saja merayakan idul fitri 1432 H setelah selama sebulan menjalankan ibadah ramadhan. Sirkulasi tahunan yang dirancang Allah swt bagi kemaslahatan ummat manusia agar senantiasa berada pada fitrahnya. Permaslahan fitrah memang sangat mendasar bagi kehidupan ummat tidak hanya didunia namun yang lebih penting lagi setelah ia memasuki alam akhirat. Mengapa demikian? karena manusia - secara lintas batas- pada awalnya awalnya berada dalam keadaan yang fitrah sehingga ketika ia hidup harus mempertahankan nilai-nilai fitrahnya itu agar ketika kembali menuju Tuhan-nya sama ketika ia diciptakan pada awalnya.
Bukan tentang nilai-nilai fitrah yang ingin dikemukakan dalam tulisan ini, namun hanya berkenaan dengan istilah serta moment-moment yang sangat lazim disebut pada bulan ramadhan yaitu tentang pembagian ramadhan menjadi 3bagian yaitu 10 hari pertama berisi rahmat, sepuluh hari kedua berisi maghfirah dan sepuluh hari yang ketiga berisi itqun minannnar (pembebasan dari neraka). Hal ini memang sering disebut sementara orang sebagai hadits, tapi banyak juga ulama menyatakan bahwa ini hanyalah qaulny ulama tidak sampai kepada hadits Nabi. Terlepas dari itu, penulis ingin memngangkat substansinya karena sedikitpun tak ada yang menyalahi ajaran agama Islam.
Rahmat, sering kita menyebutnya dengan makna kasih sayang. Ia juga diartikan perasaan iba kepada makhluk sehingga kita ingin membuat mahkluk itu meraih kebahagiannya kalau memang ia merasakan masalah atau penderitaan. Rahmat memang salah satu sifat Allah yang Maha Agung yang akan dilimpahkan kepada siapa yang Ia kehendaki (liyudkhlilallahu fi rahmatihi man yasyaa).Rahmat adalah yang menjadi wasilah bagi seseorang untuk bisa meraih kebahagiaan atau kemenangan, tidak hanya didunia tapi yang lebih penting lagi di akhirat kelak. Lihat saja misalnya keberhasilan dan kesuksesan Nabi Muhammad dinyatakan oleh Allah karena mendapat rahmat-Nya (fabima rahmatin minallahi linta lahum..)kita juga bisa melihat kemenangan bangsa Indonesia yang menyatakan atas rahmat Allah swt. Jadi rahmat sedemikian penting bagi kita untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan.
Ada juga kasus lain yang menjadi i'tibar bagi kita tentang betapa urgennya rahmat bagi manusia dan nasib kehidupannya. Sebuah riwayat yang sangat masyhur bagi kita saat diceritakan bahwa ada seorang wanita tuna susila yang menuju pulang setalah melakukan aktifitas maksiatnya. Tiba-tiba pada saat menuju pulang, ia melihat seekor anjing yang sedang kehausan. Kemudian rasa ibanya mengantarkan ia untuk mengambil air dengan menggunakan sepatu yang dipakainya. Ia mengambil air dalam kubangan air agak dalam -semacam sumur- dengan menggunakan sepatunya kemudian ia meminumkannya kepada anjing tersebut. Masih dirasa belum cukup, wanita tersebut mengambil air untuk kali kedua, namun apa dinyana ternyata wanita tersebut terpeleset hingga masuk kedalam sumur dan akhirnya meninggal. Wanita tersebut dalam keterangannya telah mendapat rahmat dari Allah dan akan dijanjikan akan meraih surga-Nya. Kalau manusia menggunakan logika, maka akan terkesan tidak adil karena hanya menolong anjing kemudian Allah menjanjikannya surga. Tapi itu semua prerogatif Allah karena Ia berkehendak kepada siapapun bagi orang yang dengan tulus murni menerapkan sifat rahmat kepada semua makhluk-Nya.
Namun ada juga sebuah kasus yang terjadi pada zaman Nabi, bahwa diceritakan ada seorang wanita yang ahli ibadah namun ia akhirnya dimasukkan kedalam neraka hanya karena ia telah memenjarakan seekor kucing, tidak memberinya makan dan akhirnya mati. Dua kisah penuh makna ini mestinya menjadi renungan bagi kita semua dalam membenahi prilaku dan sikap kita dalam kehidupan. Jangan-jangan segenap ibadah yang kita lakukan tidak mendapat rahmat dari Allah karena di hati kita penuh dengan jiwa dendam, hasud dan prilaku kasar lainnya yang sangat bertentangan dengan penerapan rahmat pada alam dan makhluk. Nah, sepuluh hari pertama dalam bulan ramadhan itu, yang dinyatakan sebagai waktu dimana Allah akan “mengumbar” rahmat-Nya akan menjadi kesempatan bagi kita untuk melaksanakan amal dan ibadah dengan rasa penuh harap semoga ibadah yang dikerjakan itu akan menjadi wasilah bagi Allah untuk menurunkan rahmat-Nya pada kita. Itu artinya tidak semua amal dan ibadah akan mendapatkan rahmat-Nya. Allah menyebut orang-orang yang dikehendaki-Nya, maka tugas kita sebagai hamba-Nya berusaha mengetahui siapa dan apa saja ciri-ciri orang yang akan mendapatkan rahmat-Nya itu. Rasanya, berusaha belajar menerapkan rahmat pada makhluk Allah –manusia, binatang, pohon, hewan juga benda mati lainnya- akan menjadi pintu masuk bagi kita agar amal yang kita lakukan senantiasa akan dirahmati oleh-Nya. Hal yang tidak kalah pentingnya menyangkut rahasia Allah ini adalah, membenahi qalbu kita dari segala bentuk kekasaran dan ketidakpedulian sehingga yang selalu diperbuat kita adalah berdasarkan pada kelemahlembutan serta perasaan memiliki untuk senantiasa peduli pada kemakmuran makhluk.
Setelah selesai malam-malam rahmat, maka sepuluh hari yang kedua berisi maghfirah atau ampunan dari Allah swt. Maghfirah diberikan karena Allah memberikan kesempatan kepada hambanya yang dhoif untuk memperbaiki kesalahan atau dosa yang diperbuatnya. Allah juga dalam hadits qudsi-Nya menjelaskan bahwa seberapa besar pun dosa yang dilakukan hamba-Nya, kalau sang hamba datang kepada-Nya dengan tulus memohon ampun atas segala dosa yang diperbuat maka dengan rahmat-Nya Ia akan mengampuni, terkecuali dosa syirik atau menyekutukan-Nya.
Bicara tentang dosa memang bukan sebuah kemustahilan bagi prilaku manusia. Sadar atau tidak sadar manusia sangat rentan sekali untuk melakukan dosa-dosa. Allah tentunya sangat memaklumi dan mengetahui proporsinalitas kita sebagai manusia. Karena itulah, sebagai Dzat yang maha pengampun ia memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri, tentunya dengan komitmen yang tegas bahwa apa yang dilakukannya sebagai dosa, menyadari sepenuhnya dosa tersebut dan yang terpenting tidak akan pernah mengulangi perbuatan yang sama. Sebagai pemakluman Allah atas dosa manusia, Ia menyapa kita dengan firman-Nya ألا تحبون أن يغفر الله لكم Tidakkah kamu menyukai diampuni oleh Allah. Dalam ayat itu Allah memang benar-benar menampakkan sifatnya yang tidak pendendam dalam arti sangat membuka lebar pintu maaf bagi hamba-Nya yang pernah melakukan khilaf dan dosa. Tahukah kita bahwa dosa yang diampuni itu, karena Allah merupakan Arrahman dan Arrahim yang memiliki sifat rahmat pada makhluknya.
Sepuluh hari yang ketiga dalam bulan ramadhan adalah itqun minannaar (bebas dari neraka). Kalau ini dipahami oleh orang awam maka melakukan puasa dan tarawih pada sepuluh hari itu akan mendapat garansi terhindar dari neraka. Inilah pentingnya memahami keterangan agama dengan cermat dan mendalam. Keterangan itu tidak serta merta akan terjadi pada orang yang melakukan ibadah di sepuluh hari terakhir itu, apalagi orientasi melaksanakannya hanya pada hari-hari itu saja tanpa melihat kualitas dan kuantitas ibadahnya setelah selesai ramadhan. Hemat penulis, ketiga istilah ini -rahmat, maghfirah dan itqun minannaar- merupakan sebuah rangkaian yang selalu berkaitan. Rahmat dengan maghfirah misalnya, bahwa dosa bisa terampuni karena sifat rahmat Allah yang penuh kasih dan maaf terhadap hamba-Nya. Sedangkan itqun minannaar adalah sebuah konsekwensi logis bagi sang hamba saat ia benar-benar mengorientasikan seluruh amalnya hanya karena ingin mendapat rahmat-Nya juga dengan komitmen yang sangat tegas untuk sebisa mungkin menghindari dosa dan prilaku tercela, maka pada saat demikian apalgi bagi Allah selain Ia ingin memberikan kenikmatan surga-Nya atau dengan kata lain menghindarkan sang hamba sejauh-jauhnya dari panasnya neraka.
Demikian, semoga ramadhan membentuk kita menjadi pribadi yang taqwa. Taqwa yang menjadi center prilaku baik kita sehingga segala yang terucap dan diperbuat selalu berdasarkan konsep taqwa itu.
Rabu, 14 September 2011
Jumat, 22 April 2011
Yang selalu bergandengan dalam al-Qur'an
Al-qur'an memang sebuah kitab yang benar-benar sempurna. Sempurna bukan hanya ia berasal dari Almutakallim, Allah swt, namun juga karena tidak terdapat cela dan kesalahan baik dari segi substansi dan redaksinya. Al-qur'an terbentuk dari wazan fu'lan yang mengesankan kesempurnaan sehingga al-Qur'an berarti bacaan yang sempurna.
Kesempurnaan al-Qur'an bisa kita lihat dari aneka pengetahuan dan informasi yang di sampaikan. Bahkan yang membuat kagum banyak pembacanya adalah menyampaikan informasi yang baru terjadi setelah sekian lama al-Qur'an itu diturunkan. Al-qur'an -sebagai kitab pedoman ummat Islam- memang memiliki keunikan tersendiri terkait dengan penyampaian pesan, perintah dan larangan, penyusunan redaksi dan kata-kata yang saling berkesesuaian, misalnya kata yaum (hari) didalamnya terdapat 365 kata sebanyak hari dalam setahun atau juga misalnya kata sahr (bulan) yang terulang hingga 12 kali sama dengan jumlah bulan-bulan dalam setahun.
Salah satu keunikan yang disampaikan oleh Allah swt dalam al-Qur'an adalah adanya penyebutan kata yang selalu bergandengan. Penyebutan kata yang bergandengan tersebut tentunya bukan hanya asal sebut, namun memiliki implikasi makna yang semestinya menjadi renungan bagi setiap muslim untuk menangkap makna tersirat yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Ini (penyebutan kata yang selalu bergandengan) juga bisa menjadi formula bagi kita, formula untuk berbuat berdasarkan petunjuk dan prioritas. Rasanya tak ada yang perlu disangsikan lagi bahwa cara Allah menyampaikan maksud-Nya dengan cara seperti ini karena sesuatu yang selalu digandengkan itu memiliki keterkaitan yang sangat erat untuk meraih kesempurnaan dan kebaikannya.
Diantara hal-hal yang selalu digandengkan oleh Allah dalam penyebutannya didalam al-Qura'an adalah :
1. Taat kepada Allah dan Taat kepada Rosulullah
Dalam beberapa redaksi ayat didalam al-Qur'an, ketika berbicara tentang ketaatan maka pernyataan Allah adalah taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosulullah (Muhammad saw). Sangat penting memang sehingga ALlah mengulang kata taat untuk Rosul-Nya itu. Penekanan kata taat itu bisa jadi mengindikasikan betapa urgennya -sebagai bentuk penguatan- untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rosul-Nya. Bisa juga mengandung pesan bahwa ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna tanpa taat kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam kedudukan maknanya, maka sudah tidak bisa disangsikan lagi bahwa kesempurnaan dan keagungan Islam tidak bisa dipisahkan lagi antara ajaran Allah dan Rosulullah. Allah adalah sumber sedangkan Rosulullah adalah yang bertugas menyampaikan dan mengejawantahkan semua ajaran Allah hingga kita bisa melaksnakannya sampai saat ini. Rosulullah adalah yang memperinci yang global yang ada di al-Quran. Beliau juga yang menjelaskan yang samar menjadi jelas. Maka karena beliaulah yang diutus dan dipercaya untuk menjadi "kepanjangan" ajaran Allah, tidak bisa tidak bahwa ketaatan haruslah memadupadankan antara ajaran Allah dalam al-Qur'an serta ajaran Rosulullah sebagai penyampai dan penjelas ajaran al-Qur'an.
2. Iman dan Amal Sholeh
Dua istilah ini memang telah sangat lazim sekali bagi kita pada saat membaca al-Qur'an dan menghayati maknanya. Pembahasannya juga acap kali kita dapat dari berbagai sumber. Hal ini memang sangat mengesankan kepada kita bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
Kalau kita bilang teori tidak akan lengkap dan sempurna tanpa adanya praktek maka iman pun tidak akan sempurna tanpa ada implementasinya. Keimanan yang dimiliki seorang muslim menuntut adanya bukti dari apa yang dia imani itu. Bukti itulah yang kemudian akan menjadi penentu bahwa seseorang itu benar-benar memiliki iman yang sesungguhnya atau hanya hiasan bibir saja saat dengan mudahnya diucapkan kata iman itu. Bukti itu juga lah yang akan menentukan kwalitas iman seseorang dihadapan Allah swt. Allah swt menegaskan pada kita bahwa orang yang beriman jangan mengira tak akan diberikan aneka ujian sebagai bukti ketangguhan imannya. Pada saat kita menyatakan diri kita sebagai orang yang beriman maka bersiaplah dengan melakukan aneka amal sholeh yang dituntunkan oleh-Nya seraya memiliki mental yang kuat dan sabar dalam menghadapi ujian-Nya sebagai evaluasi bagi keimanan kita.
Karena itulah tidak ada iman tanpa melakukan amal sholeh dan amal sholeh yang dilakukan tanpa didasari iman kepada-Nya hanya akan menjadi debu berhamburan yang sia-sia.
3. Sholat dan Zakat
Yang bisa kita renungi untuk dijadikan pelajaran dari sholat dan zakat adalah bahwa sholat merupakan lambang hubungan vertikal kepada Allah swt sedangkan zakat urgensinya langsung berdampak pada hubungan kita dengan sesama. Rupanya dengan sholat dan zakat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa hubungan kita sebagai manusia itu hanya bisa akan lengkap dan sempurna saat kita mempraktekkan keduanya bahkan tidak hanya dalam ritualnya saja, namun pada implementasinya dari makna dan hikmah yang bisa diambil dari kedua istilah itu.
Sholat dalam arti bahasanya berarti doa. Memang pada saat sholat yang kita baca adalah rangkaian doa atau komunikasi kepada-Nya yang penuh dengan pujian, pengakuan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Komunikasi intensif yang akan membentuk jiwa yang tawadhu, sadar akan kelemahan dan ketidakberdayaan bahwa semuanya ditetapkan yang terbaik oleh Allah. Zakat menurut bahasanya berarti bersih, bersih dari kotoran ruhani tepatnya. Memang, saat zakat dikeluarkan, diawali dengan timbulnya perasaaan enggan mengeluarkan, terasa berat diberikan karena ia merasa betapa susahnya mencari uang dan seterusnya. Tapi ia berhasil juga dengan mengeluarkannya setelah dorongan akal, perasaan, terutama ajaran agama mendominasinya hingga hatinya luluh untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi untuk kemanusiaan dan karena Allah swt.
4. Iman kepada Allah dan hari akhir
Disejumlah ayat dalam al-Qur'an pada saat menyebutkan objek rukun iman maka mesti yang tidak pernah tidak disebut adalah iman kepada Allah dan hari akhir. Demikian juga didalam banyak hadits maka yang selalu disebut oleh Rosulullah adalah iman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat. Misalnya saja, من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت dan hadits-hadits yang lain.
Kalau kita cermati, memang penggandengan antara iman kepada Allah dengan hari akhir bisa dilihat dari penekanan Agama ini terhadap adanya kehidupan setelah alam dunia berakhir. Inti yang ingin disampaikan bahwa kehidupan yang hakiki dengan segala konsekwensinya, baik kebahagiaan atau kesengsaraan, akan datang setelah semua kehidupan dunia berakhir. Maka untuk menyadarkan manusia demi menghantarkannya pada kebaikan dan kebahagiaan yang sempurna hendaklah mereka mengetahui, mengikuti, menaati, dan menjalani semua yang dititahkan Allah dalam ajaran agama-Nya yaitu Islam. Dalam ajaran-Nya, Allah memang sangat menitikberatkan segala aktifitas yang dilakukan selama didunia tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia tapi lebih dari itu mereka mampu mengarahkan aktifitas duniawinya menjadi amalan yang bersifat ukhrowi.
Manusia yang sadar akan ajaran itu, maka pasti akan mendedikasikan seluruh amal dan perbuatannya demi karena Allah, karena karena ia akan menemui kebenaran janji-Nya tentang kebahagiaan yang hakiki dan sempurna setelah semua kehidupan ini berakhir.
5. Jihad dengan AMWAL dan ANFUS
Jihad, memang sementara orang mengartikannya menjadi pengertian yang sempit. Dalam pandangan sempit itu,jihad lebih identik dengan perang, bahkan saat ini pengertiannya menjadi lebih "kabur" karena ada yang menafsirkannya dengan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad.
Jihad dalam pandangan penulis adalah sebuah upaya keras dan maksimal dalam mewujudkan sebuah obsesi sampai benar-benar terwujud. Pengertian ini memang sangat umum sekali, karena apapun yang diupayakan secara maksimal atas nama obsesi akan dinamakan jihad. Memang, pengertian itu didasari pada firman Allah yang selalu menggandengkan jihad dengan kata amwal dan anfus. Allah selalu mengawali kata jihad mesti dengan kata amwal baru kemudian anfus. Amwal berarti harta dan anfus berarti jiwa raga.
Berjihad dengan menggunakan harta dan jiwa raga tidak hanya terorientasi pada satu bidang saja, perang misalnya. Tapi justru akan sangat beragam sekali bidang objek yang akan dimasuki oleh kata jihad itu. Dengan harta, kita bisa berjihad untuk kemajuan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, bahkan membantu mengurangi kemiskinan yang metode serta caranya banyak diusung oleh macam-macam lembaga baik pemerintah atau swasta yang ada. Sedangkan jihad dengan jiwa raga atau pribadi secara fisik banyak sekali kondisi dan keadaanya tergantung dari kesediaan orang yang akan berjihad itu.
Ada yang menarik dari pernyataan firman Allah yang selalu mendahulukan kata amwal yang berarti harta baru kemudian anfus (jiwa raga). Barangkali pesan tersirat yang ingin disampaikan adalah bahwa jihad dengan menggunakan amwal akan sangat berarti lebih signifikan dan luas ketimbang anfus. Maka makna yang bisa dipetik adalah bahwa orang Islam mesti memiliki keluasan harta baik secara pribadi ataupun kolektif. Kekuatan ekonomi akan sangat menunjang sekali demi terwujudnya jihad yang diharapkan.
Demikian beberapa istilah yang selalu digandengkan penyebutannya dalam al-Qur'an. Kita tentunya meyakini dan menyadari bahwa Allah sebagai Yang Empunya al-Qur'an, memiliki maksud serta tujuan yang tersirat yang ingin disampaikan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Kesempurnaan al-Qur'an bisa kita lihat dari aneka pengetahuan dan informasi yang di sampaikan. Bahkan yang membuat kagum banyak pembacanya adalah menyampaikan informasi yang baru terjadi setelah sekian lama al-Qur'an itu diturunkan. Al-qur'an -sebagai kitab pedoman ummat Islam- memang memiliki keunikan tersendiri terkait dengan penyampaian pesan, perintah dan larangan, penyusunan redaksi dan kata-kata yang saling berkesesuaian, misalnya kata yaum (hari) didalamnya terdapat 365 kata sebanyak hari dalam setahun atau juga misalnya kata sahr (bulan) yang terulang hingga 12 kali sama dengan jumlah bulan-bulan dalam setahun.
Salah satu keunikan yang disampaikan oleh Allah swt dalam al-Qur'an adalah adanya penyebutan kata yang selalu bergandengan. Penyebutan kata yang bergandengan tersebut tentunya bukan hanya asal sebut, namun memiliki implikasi makna yang semestinya menjadi renungan bagi setiap muslim untuk menangkap makna tersirat yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Ini (penyebutan kata yang selalu bergandengan) juga bisa menjadi formula bagi kita, formula untuk berbuat berdasarkan petunjuk dan prioritas. Rasanya tak ada yang perlu disangsikan lagi bahwa cara Allah menyampaikan maksud-Nya dengan cara seperti ini karena sesuatu yang selalu digandengkan itu memiliki keterkaitan yang sangat erat untuk meraih kesempurnaan dan kebaikannya.
Diantara hal-hal yang selalu digandengkan oleh Allah dalam penyebutannya didalam al-Qura'an adalah :
1. Taat kepada Allah dan Taat kepada Rosulullah
Dalam beberapa redaksi ayat didalam al-Qur'an, ketika berbicara tentang ketaatan maka pernyataan Allah adalah taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosulullah (Muhammad saw). Sangat penting memang sehingga ALlah mengulang kata taat untuk Rosul-Nya itu. Penekanan kata taat itu bisa jadi mengindikasikan betapa urgennya -sebagai bentuk penguatan- untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rosul-Nya. Bisa juga mengandung pesan bahwa ketaatan kepada Allah tidak akan sempurna tanpa taat kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam kedudukan maknanya, maka sudah tidak bisa disangsikan lagi bahwa kesempurnaan dan keagungan Islam tidak bisa dipisahkan lagi antara ajaran Allah dan Rosulullah. Allah adalah sumber sedangkan Rosulullah adalah yang bertugas menyampaikan dan mengejawantahkan semua ajaran Allah hingga kita bisa melaksnakannya sampai saat ini. Rosulullah adalah yang memperinci yang global yang ada di al-Quran. Beliau juga yang menjelaskan yang samar menjadi jelas. Maka karena beliaulah yang diutus dan dipercaya untuk menjadi "kepanjangan" ajaran Allah, tidak bisa tidak bahwa ketaatan haruslah memadupadankan antara ajaran Allah dalam al-Qur'an serta ajaran Rosulullah sebagai penyampai dan penjelas ajaran al-Qur'an.
2. Iman dan Amal Sholeh
Dua istilah ini memang telah sangat lazim sekali bagi kita pada saat membaca al-Qur'an dan menghayati maknanya. Pembahasannya juga acap kali kita dapat dari berbagai sumber. Hal ini memang sangat mengesankan kepada kita bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
Kalau kita bilang teori tidak akan lengkap dan sempurna tanpa adanya praktek maka iman pun tidak akan sempurna tanpa ada implementasinya. Keimanan yang dimiliki seorang muslim menuntut adanya bukti dari apa yang dia imani itu. Bukti itulah yang kemudian akan menjadi penentu bahwa seseorang itu benar-benar memiliki iman yang sesungguhnya atau hanya hiasan bibir saja saat dengan mudahnya diucapkan kata iman itu. Bukti itu juga lah yang akan menentukan kwalitas iman seseorang dihadapan Allah swt. Allah swt menegaskan pada kita bahwa orang yang beriman jangan mengira tak akan diberikan aneka ujian sebagai bukti ketangguhan imannya. Pada saat kita menyatakan diri kita sebagai orang yang beriman maka bersiaplah dengan melakukan aneka amal sholeh yang dituntunkan oleh-Nya seraya memiliki mental yang kuat dan sabar dalam menghadapi ujian-Nya sebagai evaluasi bagi keimanan kita.
Karena itulah tidak ada iman tanpa melakukan amal sholeh dan amal sholeh yang dilakukan tanpa didasari iman kepada-Nya hanya akan menjadi debu berhamburan yang sia-sia.
3. Sholat dan Zakat
Yang bisa kita renungi untuk dijadikan pelajaran dari sholat dan zakat adalah bahwa sholat merupakan lambang hubungan vertikal kepada Allah swt sedangkan zakat urgensinya langsung berdampak pada hubungan kita dengan sesama. Rupanya dengan sholat dan zakat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa hubungan kita sebagai manusia itu hanya bisa akan lengkap dan sempurna saat kita mempraktekkan keduanya bahkan tidak hanya dalam ritualnya saja, namun pada implementasinya dari makna dan hikmah yang bisa diambil dari kedua istilah itu.
Sholat dalam arti bahasanya berarti doa. Memang pada saat sholat yang kita baca adalah rangkaian doa atau komunikasi kepada-Nya yang penuh dengan pujian, pengakuan akan kebesaran dan keagungan-Nya. Komunikasi intensif yang akan membentuk jiwa yang tawadhu, sadar akan kelemahan dan ketidakberdayaan bahwa semuanya ditetapkan yang terbaik oleh Allah. Zakat menurut bahasanya berarti bersih, bersih dari kotoran ruhani tepatnya. Memang, saat zakat dikeluarkan, diawali dengan timbulnya perasaaan enggan mengeluarkan, terasa berat diberikan karena ia merasa betapa susahnya mencari uang dan seterusnya. Tapi ia berhasil juga dengan mengeluarkannya setelah dorongan akal, perasaan, terutama ajaran agama mendominasinya hingga hatinya luluh untuk mengeluarkan sebagian hartanya demi untuk kemanusiaan dan karena Allah swt.
4. Iman kepada Allah dan hari akhir
Disejumlah ayat dalam al-Qur'an pada saat menyebutkan objek rukun iman maka mesti yang tidak pernah tidak disebut adalah iman kepada Allah dan hari akhir. Demikian juga didalam banyak hadits maka yang selalu disebut oleh Rosulullah adalah iman kepada Allah dan hari akhir atau kiamat. Misalnya saja, من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت dan hadits-hadits yang lain.
Kalau kita cermati, memang penggandengan antara iman kepada Allah dengan hari akhir bisa dilihat dari penekanan Agama ini terhadap adanya kehidupan setelah alam dunia berakhir. Inti yang ingin disampaikan bahwa kehidupan yang hakiki dengan segala konsekwensinya, baik kebahagiaan atau kesengsaraan, akan datang setelah semua kehidupan dunia berakhir. Maka untuk menyadarkan manusia demi menghantarkannya pada kebaikan dan kebahagiaan yang sempurna hendaklah mereka mengetahui, mengikuti, menaati, dan menjalani semua yang dititahkan Allah dalam ajaran agama-Nya yaitu Islam. Dalam ajaran-Nya, Allah memang sangat menitikberatkan segala aktifitas yang dilakukan selama didunia tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia tapi lebih dari itu mereka mampu mengarahkan aktifitas duniawinya menjadi amalan yang bersifat ukhrowi.
Manusia yang sadar akan ajaran itu, maka pasti akan mendedikasikan seluruh amal dan perbuatannya demi karena Allah, karena karena ia akan menemui kebenaran janji-Nya tentang kebahagiaan yang hakiki dan sempurna setelah semua kehidupan ini berakhir.
5. Jihad dengan AMWAL dan ANFUS
Jihad, memang sementara orang mengartikannya menjadi pengertian yang sempit. Dalam pandangan sempit itu,jihad lebih identik dengan perang, bahkan saat ini pengertiannya menjadi lebih "kabur" karena ada yang menafsirkannya dengan bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad.
Jihad dalam pandangan penulis adalah sebuah upaya keras dan maksimal dalam mewujudkan sebuah obsesi sampai benar-benar terwujud. Pengertian ini memang sangat umum sekali, karena apapun yang diupayakan secara maksimal atas nama obsesi akan dinamakan jihad. Memang, pengertian itu didasari pada firman Allah yang selalu menggandengkan jihad dengan kata amwal dan anfus. Allah selalu mengawali kata jihad mesti dengan kata amwal baru kemudian anfus. Amwal berarti harta dan anfus berarti jiwa raga.
Berjihad dengan menggunakan harta dan jiwa raga tidak hanya terorientasi pada satu bidang saja, perang misalnya. Tapi justru akan sangat beragam sekali bidang objek yang akan dimasuki oleh kata jihad itu. Dengan harta, kita bisa berjihad untuk kemajuan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, bahkan membantu mengurangi kemiskinan yang metode serta caranya banyak diusung oleh macam-macam lembaga baik pemerintah atau swasta yang ada. Sedangkan jihad dengan jiwa raga atau pribadi secara fisik banyak sekali kondisi dan keadaanya tergantung dari kesediaan orang yang akan berjihad itu.
Ada yang menarik dari pernyataan firman Allah yang selalu mendahulukan kata amwal yang berarti harta baru kemudian anfus (jiwa raga). Barangkali pesan tersirat yang ingin disampaikan adalah bahwa jihad dengan menggunakan amwal akan sangat berarti lebih signifikan dan luas ketimbang anfus. Maka makna yang bisa dipetik adalah bahwa orang Islam mesti memiliki keluasan harta baik secara pribadi ataupun kolektif. Kekuatan ekonomi akan sangat menunjang sekali demi terwujudnya jihad yang diharapkan.
Demikian beberapa istilah yang selalu digandengkan penyebutannya dalam al-Qur'an. Kita tentunya meyakini dan menyadari bahwa Allah sebagai Yang Empunya al-Qur'an, memiliki maksud serta tujuan yang tersirat yang ingin disampaikan. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.
Minggu, 06 Maret 2011
Kesan Tentang Qadha dan Qadar
By : Rijal Muhammad
Qadha dan qadar adalah masalah klasik yang mungkin Anda sudah tidak peduli lagi untuk membahas karena sudah sangat meyakini bahwa Allah telah menentukan semuanya untuk kita -makhluk-Nya-. Atau bisa jadi Anda terlalu "bebas" berfikir bahwa semuanya adalah kehendak manusia, mereka bebas memilih dan siap menerima segala konsekwensinya, Tuhan hanya mengarahkan dan menetapkan sunnah-Nya (baca: sunnatullah). Dalam tulisan inilah -yang lebih tepat disebut kesan- justru, kedua pendapat diatas yang menginspirasi lebih jauh tentang fakta yang dialami atas nama qadha dan qadar yang termasuk salah satu objek rukun iman.
Berawal dari sebuah pertanyaan, mengapa qadha dan qadar yang menjadi salah satu objek rukun iman tidak disebutkan secara eksplisit didalam al-Qur'an? Hal yang tidak terjadi pada saat menyebutkan rukun iman yang lain, misalnya iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi dan hari akhir yang semuanya disebutkan secara jelas dalam al-Qur'an. Inilah yang membuar saya berkesimpulan bahwa ada maksud dalam pernyataan Allah yang tekait denga qadha dan qadar ini. Allah tidaklah menyatakan sesuatu didalam al-Qur'an kecuali Ia ingin memberikan kesan tertentu agar kita sebagai hamba-Nya menarik hikmah dari kesan tersebut.
Banyak keterangan tentang sesuatu tertentu, misalnya jodoh, rezeki dan kematian adalah hak Tuhan dan Dia-lah yang sepenuhnya menentukan dan mengaturnya. Pemahaman banyak orang pun terlepas dari pemikiran mendalam, pengalaman atau menerima keterangan itu apa adanya, menjadi berbeda yang secara tidak langsung berpengaruh dalam aksinya saat menyikapi hal tersebut. Sebagian orang benar-benar pasrah dalam menerima kondisi yang dia terima dan rasakan terkait ketiga hal tersebut dan mempasrahkan semuanya bahwa Allah-lah yang memberinya itu semua. Sebagian yang lain pun menyatakan ada usaha manusia yang berperan dalam menentukan hasil akhirnya, sehingga dia akan menyatakan bahwa hasil yang tidak maksimal itu (kurang atau buruk) tidak akan disandarkan pada Tuhan.
Berawal dari obrolan iseng dan santai yang bertujuan untuk memahami kebesaran dan kuasa Allah dalam mengatur semua kehidupan. Tetang rizki, jodoh, umur dan lain lain yang memang telah banyak penjelasannya bahkan literatur keagamaannya. Namun jika kita merenung dan membandingkannya lebih jauh ada ssuatu yang sangat menarik terkait dengan cara seseorang mengusahakannya dan hasil yang diperolehnya. Ternyata.. sangat berbeda sekali yang diusahakan dan didapat oleh seseorang. Ya memang beda karena Allah akan menentukan sesuatu untuk masing masing hambanya berbeda dan tergantung kadar si hamba itu. Tapi maksud obrolan itu adalah ada seseorang yang berupaya untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan bahkan sunnah sunnahNya namun hasil yang terjadi mereka mendapatkan konsekwensi pengetahuan atau sunnatullah itu tidak semulus yang diharapkan meskipun pada kasus yang sama ada juga yang mendapatkan sesuai usahanya itu.
Untuk memperjelas pernyataan diatas misalnya, ada seorang artis tua kita sebut sajalah Ibu Titik Puspa, yang meskipun sudah berusia udzur namun masih terlihat sehat dan orang sekarang bilang awet muda. Padahal yang sebayanya jangankan terlihat segar dan sehat masih berumur panjang saja sudah jarang. Memang kalau mendengar sedikit pernyataannya bahwa beliau adalah yang sangat peduli dengan kesehatannya itu sehingga selalu mengantisipasi dengan upaya upaya kesehatan yang membuat dirinya bertahan hingga setua itu. Namun pada kasus yang lain tidak semua orang merasakan hal serupa meskipun usahanya juga sama.
Ada juga kisah yang pernah penulis alami sendiri saat berencana dengan pasangan penulis untuk berusaha mendapatkan anak laki-laki. Info yang penulis dapat bahwa jika ingin mendapatkan anak laki-laki maka bagi orang tua hendaknya memakan lebih banyak daging dan ikan-ikanan, sedangkan jika menginginkan perempuan lebih banyak memakan sayur-sayuran. Informasi ini memang penulis dan pasangan sangat perhatikan dan alhamdulillah jika memang semua ikhtiar itu benar, terjadi atas izin Allah swt.
Masih banyak contoh kasus yang serupa, tapi inti dari semua itu bahwa yang dilakukan oleh seseorang kemudian berhasil belum tentu juga akan berhasil jika dilakukan oleh orang lain. Betul memang Allah swt menerapkan sunnah-sunnahNya di dunia ini. Bahwa yang mengikuti sunnah atau hukum-Nya yang fitri akan merasakan kebenaran dari nilai-nilai fitri itu. Tapi faktanya...? Tidak semua merasakan dengan lancar dan sukses semua ikhtiar yang dilakukan sebagai bentuk pilihan takdirnya. Pada contoh seperti ini, bukan sunnatullah atau nilai-nilai fitri-Nya yang salah atau juga bukan karena orang tersebut yang salah memilih takdirnya, tapi sentuhan Tangan Allah rasasanya lebih kuat dan berpengaruh terhadap hasil dari ikhtiar yang dilakukan seseorang.
Apa makna sentuhan Tangan Allah itu. Bisa jadi pada saat kita berazam itu ada niat yang salah dan keliru sehingga Allah mengalihkan kepada hasil yang lain. Bisa jadi karena "syarat dan rukun" untuk mengerjakan sesuatu belum terpenuhi, sehingga sementara Allah membatalkannya. Bisa jadi ambisi yang terlalu kuat, sedangkan pengetahuan dan wawasan untuk mengelola dan mengurus ambisi itu belum dikuasai sehingga Allah mengulur waktunya. Bisa jadi yang kita harapkan itu bersifat sementara dan membahayakan sementara Allah menginginkan yang langgeng dan bermanfaat sehingga digagalkan harapan tersebut. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi atas apa yang kita usahakan namun hasil yang kita dapat tidak seperti apa yang kita mau.
Inilah yang terjadi pada saat kita memahami dan merenungi masalah taqdir. Rezki, jodoh, maut memang benar urusan Allah tapi manusia bukan tidak ada andil untuk melakukan pilihan taqdirnya. Saya akan menganggap sangat salah bahwa tiga hal tersebut mutlak di tangan-Nya tanpa harus melakukan usaha yang maksimal. Manusia sekali lagi punya andil yang cukup besar untuk melakukan sesuatu tapi pada saat bersamaan Allah juga memiliki hak yang mutlak dalam menentukan hasil yang diikhtiarkan hamba-Nya. Kenapa bisa begitu, karena sebagai orang yang beriman kepada Allah, tak ada yang lebih baik dari sesuatu yang dipilihkan Allah untuk kita. Cuma masalahnya, sudah layakkah kita mendapatkan pilihan yang yang sangat baik dan ideal disisinya. Allah akan menganugerahi kita sebatas kepantasan kita untuk mendapatkannya. Allah akan memberikan sesuatu kepada kita tergantung kualitas kepribadian dan jiwa kita. Karena Allah adalah Rabbuna, dzat yang memelihara, mendidik dan mengarahkan kita kepada sesuatu yang paling baik dan pas untuk kita.
Mengutip pendapat Bapak Mario Teguh, "tidak ada orang beragama yang lebih sesat selain dari yang salah memahami ajaran agamanya tersebut". Semoga kita termasuk orang yang bisa memahami ajaran Agama ini dengan baik, sehingga segala apa yang kita ucap dan perbuat sejalan dengan sunnatullah dan nilai-nilai fitri yang diterapkannya. Semakin kita mengetahui dan mengamalkan sunnah-Nya maka akan semakin layak bagi Allah untuk memberikan yang paling baik untu kita. Semoga, Wallahu a'lam.
Qadha dan qadar adalah masalah klasik yang mungkin Anda sudah tidak peduli lagi untuk membahas karena sudah sangat meyakini bahwa Allah telah menentukan semuanya untuk kita -makhluk-Nya-. Atau bisa jadi Anda terlalu "bebas" berfikir bahwa semuanya adalah kehendak manusia, mereka bebas memilih dan siap menerima segala konsekwensinya, Tuhan hanya mengarahkan dan menetapkan sunnah-Nya (baca: sunnatullah). Dalam tulisan inilah -yang lebih tepat disebut kesan- justru, kedua pendapat diatas yang menginspirasi lebih jauh tentang fakta yang dialami atas nama qadha dan qadar yang termasuk salah satu objek rukun iman.
Berawal dari sebuah pertanyaan, mengapa qadha dan qadar yang menjadi salah satu objek rukun iman tidak disebutkan secara eksplisit didalam al-Qur'an? Hal yang tidak terjadi pada saat menyebutkan rukun iman yang lain, misalnya iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi dan hari akhir yang semuanya disebutkan secara jelas dalam al-Qur'an. Inilah yang membuar saya berkesimpulan bahwa ada maksud dalam pernyataan Allah yang tekait denga qadha dan qadar ini. Allah tidaklah menyatakan sesuatu didalam al-Qur'an kecuali Ia ingin memberikan kesan tertentu agar kita sebagai hamba-Nya menarik hikmah dari kesan tersebut.
Banyak keterangan tentang sesuatu tertentu, misalnya jodoh, rezeki dan kematian adalah hak Tuhan dan Dia-lah yang sepenuhnya menentukan dan mengaturnya. Pemahaman banyak orang pun terlepas dari pemikiran mendalam, pengalaman atau menerima keterangan itu apa adanya, menjadi berbeda yang secara tidak langsung berpengaruh dalam aksinya saat menyikapi hal tersebut. Sebagian orang benar-benar pasrah dalam menerima kondisi yang dia terima dan rasakan terkait ketiga hal tersebut dan mempasrahkan semuanya bahwa Allah-lah yang memberinya itu semua. Sebagian yang lain pun menyatakan ada usaha manusia yang berperan dalam menentukan hasil akhirnya, sehingga dia akan menyatakan bahwa hasil yang tidak maksimal itu (kurang atau buruk) tidak akan disandarkan pada Tuhan.
Berawal dari obrolan iseng dan santai yang bertujuan untuk memahami kebesaran dan kuasa Allah dalam mengatur semua kehidupan. Tetang rizki, jodoh, umur dan lain lain yang memang telah banyak penjelasannya bahkan literatur keagamaannya. Namun jika kita merenung dan membandingkannya lebih jauh ada ssuatu yang sangat menarik terkait dengan cara seseorang mengusahakannya dan hasil yang diperolehnya. Ternyata.. sangat berbeda sekali yang diusahakan dan didapat oleh seseorang. Ya memang beda karena Allah akan menentukan sesuatu untuk masing masing hambanya berbeda dan tergantung kadar si hamba itu. Tapi maksud obrolan itu adalah ada seseorang yang berupaya untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan bahkan sunnah sunnahNya namun hasil yang terjadi mereka mendapatkan konsekwensi pengetahuan atau sunnatullah itu tidak semulus yang diharapkan meskipun pada kasus yang sama ada juga yang mendapatkan sesuai usahanya itu.
Untuk memperjelas pernyataan diatas misalnya, ada seorang artis tua kita sebut sajalah Ibu Titik Puspa, yang meskipun sudah berusia udzur namun masih terlihat sehat dan orang sekarang bilang awet muda. Padahal yang sebayanya jangankan terlihat segar dan sehat masih berumur panjang saja sudah jarang. Memang kalau mendengar sedikit pernyataannya bahwa beliau adalah yang sangat peduli dengan kesehatannya itu sehingga selalu mengantisipasi dengan upaya upaya kesehatan yang membuat dirinya bertahan hingga setua itu. Namun pada kasus yang lain tidak semua orang merasakan hal serupa meskipun usahanya juga sama.
Ada juga kisah yang pernah penulis alami sendiri saat berencana dengan pasangan penulis untuk berusaha mendapatkan anak laki-laki. Info yang penulis dapat bahwa jika ingin mendapatkan anak laki-laki maka bagi orang tua hendaknya memakan lebih banyak daging dan ikan-ikanan, sedangkan jika menginginkan perempuan lebih banyak memakan sayur-sayuran. Informasi ini memang penulis dan pasangan sangat perhatikan dan alhamdulillah jika memang semua ikhtiar itu benar, terjadi atas izin Allah swt.
Masih banyak contoh kasus yang serupa, tapi inti dari semua itu bahwa yang dilakukan oleh seseorang kemudian berhasil belum tentu juga akan berhasil jika dilakukan oleh orang lain. Betul memang Allah swt menerapkan sunnah-sunnahNya di dunia ini. Bahwa yang mengikuti sunnah atau hukum-Nya yang fitri akan merasakan kebenaran dari nilai-nilai fitri itu. Tapi faktanya...? Tidak semua merasakan dengan lancar dan sukses semua ikhtiar yang dilakukan sebagai bentuk pilihan takdirnya. Pada contoh seperti ini, bukan sunnatullah atau nilai-nilai fitri-Nya yang salah atau juga bukan karena orang tersebut yang salah memilih takdirnya, tapi sentuhan Tangan Allah rasasanya lebih kuat dan berpengaruh terhadap hasil dari ikhtiar yang dilakukan seseorang.
Apa makna sentuhan Tangan Allah itu. Bisa jadi pada saat kita berazam itu ada niat yang salah dan keliru sehingga Allah mengalihkan kepada hasil yang lain. Bisa jadi karena "syarat dan rukun" untuk mengerjakan sesuatu belum terpenuhi, sehingga sementara Allah membatalkannya. Bisa jadi ambisi yang terlalu kuat, sedangkan pengetahuan dan wawasan untuk mengelola dan mengurus ambisi itu belum dikuasai sehingga Allah mengulur waktunya. Bisa jadi yang kita harapkan itu bersifat sementara dan membahayakan sementara Allah menginginkan yang langgeng dan bermanfaat sehingga digagalkan harapan tersebut. Dan masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi atas apa yang kita usahakan namun hasil yang kita dapat tidak seperti apa yang kita mau.
Inilah yang terjadi pada saat kita memahami dan merenungi masalah taqdir. Rezki, jodoh, maut memang benar urusan Allah tapi manusia bukan tidak ada andil untuk melakukan pilihan taqdirnya. Saya akan menganggap sangat salah bahwa tiga hal tersebut mutlak di tangan-Nya tanpa harus melakukan usaha yang maksimal. Manusia sekali lagi punya andil yang cukup besar untuk melakukan sesuatu tapi pada saat bersamaan Allah juga memiliki hak yang mutlak dalam menentukan hasil yang diikhtiarkan hamba-Nya. Kenapa bisa begitu, karena sebagai orang yang beriman kepada Allah, tak ada yang lebih baik dari sesuatu yang dipilihkan Allah untuk kita. Cuma masalahnya, sudah layakkah kita mendapatkan pilihan yang yang sangat baik dan ideal disisinya. Allah akan menganugerahi kita sebatas kepantasan kita untuk mendapatkannya. Allah akan memberikan sesuatu kepada kita tergantung kualitas kepribadian dan jiwa kita. Karena Allah adalah Rabbuna, dzat yang memelihara, mendidik dan mengarahkan kita kepada sesuatu yang paling baik dan pas untuk kita.
Mengutip pendapat Bapak Mario Teguh, "tidak ada orang beragama yang lebih sesat selain dari yang salah memahami ajaran agamanya tersebut". Semoga kita termasuk orang yang bisa memahami ajaran Agama ini dengan baik, sehingga segala apa yang kita ucap dan perbuat sejalan dengan sunnatullah dan nilai-nilai fitri yang diterapkannya. Semakin kita mengetahui dan mengamalkan sunnah-Nya maka akan semakin layak bagi Allah untuk memberikan yang paling baik untu kita. Semoga, Wallahu a'lam.
Sabtu, 01 Januari 2011
Mengenal diri melalui hakikat ibadah
By : Rijal Muhammad
Ada kisah seseorang pada saat ia menghadapi sakratul maut, seolah ia berada didepan sebuah pintu gerbang. Ia ingin masuk kedalam pintu dengan mengetuk pintu gerbang itu. Kemudian setelah itu ada suara dari dalam sambil bertanya ..
"Siapa kamu ?", "Saya udin tuan ". sahut orang ini
Apa itu nama kamu? " Iya tuan, itu nama saya ".
Maaf saya tidak bertanya nama kamu siapa, yang saya tanya " kamu siapa ?"
" Oh... saya anak lurah tuan " jawab lagi orang ini.
Maaf.. Saya engga tanya kamu anak siapa.. yang saya tanya kamu siapa?
Lagi-lagi orang ini menjawab, " oh... saya seorang insinyur tuan ".
Maaf, saya juga tidak bertanya gelar atau titel kamu apa.. yang saya tanya " siapa kamu ?".
Berfikir lagi orang ini sambil agak kebingungan, karena setiap jawaban yang diberikan selalu salah. Merenung sejenak kemudian dia memberikan jawaban yang agak sedikit religius. " Oh saya ini muslim tuan, saya pengikut Nabi Muhammad saw ". dijawab sama orang yang ada dalam pintu gerbang itu, " sekali lagi maaf, saya pun tidak bertanya kamu agama apa dan kamu pengikut nabi siapa, yang saya tanya kamu itu siapa?". Lagi-lagi dibuat bingung orang ini sambil dia berfikir lagi dan memberikan jawaban pamungkas, " saya ini manusia tuan, saya ini sering melakukan sholat, zakat, sedekah saya pun sudah berhaji ". Dijawab sama orang yang ad dalam pintu gerbang, " maaf sekali lagi maaf saya pun tidak tidak bertanya kamu dari jenis apa dan amalan kamu apa, yang saya tanya kamu itu siapa? ". Pergilah orang ini sambil tetap merasa kebingungan, dia terjegal dipintu pertama karena tidak bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
Siapa kamu? siapa kita? Pertanyaan singkat dan sederhana namun tidak sesederhana untuk dijawab. Pertanyaan ini mengingatkan kita kepada salah satu hikmah " Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu ", siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Sebuah pertanyaan yang ingin mengungkap siapa sejatinya kita sebagai manusia. Kisah tersebut menjadi pelajaran sekaligus gambaran umum kita sebagai manusia. Biasanya kita pada saat mengidentifkasi diri kita selalu menjawab dengan hal-hal yang serupa pada cerita diatas. Kita lebih tertarik untuk menjelaskan diri kita dengan nama besar, titel atau gelar, profesi, karya atau aktifitas-aktifitas kita. Jawaban-jawaban tersebut ternyata tidak bisa menggambarkan keutuhan atau paling tidak hakikat kita sebagai manusia.
Alangkah naifnya kita memang kalau tidak mengenal diri. Coba bayangkan jika ada seseorang tamu masuk ke sebuah kantor, didalam kantor kemudian melakukan prilaku tak beretika seperti berkata keras atau kasar,tolak pinggang saat berjalan dan tidak pernah permisi dalam melakukan sesuatu didalamnya, maka bagaimanakah reaksi pegawai resmi dalam kantor itu? Marah, kesel, membentak bahkan sampai mengusir. Kalau kita sepakat untuk mengatakan bahwa pegawai kantor itu wajar marah melihat tingkah laku kurang ajar tamu yang tidak tahu diri itu, maka analogikanlah dengan kita yang berada dialam dunia yang diciptakan oleh Allah ini, tapi kita berprilaku "sakarepe dewek", tidak kenal aturan, hukum, melakukan sesuatu atas dasar kepentingan nafsu demi ambisi pribadi, intinya karena kita tidak tahu diri dialam ini, wajarkah kalau Allah memberikan pelajaran -kalau enggan menyebut-Nya marah-kepada kita misalnya dengan menurunkan adzab? Ya... kalau kasusnya sama dengan tamu yang tidak tahu diri itu maka kita juga akan berkata ya.. untuk Allah yang memberikan peringatan kepada kita yang tidak tahu diri ini.
Tahu diri konteksnya antara kita dengan Allah itu sangat penting dalam membentuk pribadi yang sholeh spiritual, emosional dan intelektual. Bagaimana tidak, karena terbentuknya keharmonisan dialam tergantung juga pada seberapa tahu kita tentang diri yang menggabungkan ketiga kesholehan tersebut tadi.Tidak terlalu mudah memang untuk mengidentifikasi sejatinya diri kita, karena bisa jadi setiap individu yang konsen untuk mencari jawaban yang serupa terhadap pertanyaan ini, akan menjumpai dan menemukan cara serta jawaban yang beragam. Namun, pada tulisan ini hanya ingin mengulas tentang makna ibadah yang korelasinya dengan pengejawantahan diri dalam bersikap, berprilaku, bertutur dan lain-lain dalam kehidupan ini.
Berawal dari sebuah kisah seorang tua bernama Unwan yang datang kepada salah seorang zahid imam Ja'far Ashodiq sambil bertanya, " hai Imam, sudikah kiranya engkau jelaskan apa hakikat ibadah itu?". Sang imam menjawab," pertama, dia tidak mengakui apa yang ada dalam genggamannya sebagai miliknya tapi milik Tuhannya. Kedua, perbuatan yang dilakukan hanya berkisar pada menjalankan apa yang diperintahkan Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dia tidak akan memastikan untuk melakukan sesuatu kecuali setelah ia meminta izin dari Tuhannya ".
Jawaban ini menegaskan tentang posisi atau kedudukan kita yang tak lain sebagai pesuruh-Nya yang memiliki porsi tertentu, dalam menjadi wakil-Nya didunia sebagai kepanjangan tangan dari-Nya. Dalam pertanyaan tersebut dijelaskan tentang hakikat ibadah. Ibadah terambil dari kata dasar 'abada yang memiliki arti taat, menurut, mengikut dan sebagainya. Kita sering menterjemahkannya dengan kata menyembah. 'Abid adalah orang yang menyembah, ma'bud yang disembah. Masih dari akar yang sama abdun berarti hamba semua maknanya akan berkisar pada makna dasar diatas.
Abdun atau 'abd sering kita artikan hamba. Dalam bahasa kita tedapat padanan kata yang menyerupai seperti budak, pesuruh, pembantu, atau yang lebih kasar dari itu jongos. Tidak sepenuhnnya tepat mengartikan kata 'abd dengan padanan kata-kata tersebut karena masing-masing ada kata yang lebih pas dan mendekati maknanya. Namun, semangat kata-kata tersebut yang ingin diungkap pada tulisan ini. Kita memang semua disebut hamba, hamba Allah. Kita rasanya juga pantas untuk menyebut diri kita sebagai "pembantu Allah", "pesuruh Allah", "jongosnya Allah". Tidak perlu malu dan gengsi untuk mengakui itu, karena fakta dan hakikatnya kita sebetulnya seperti itu. Jadi pada saat kita melakukan ibadah, maka sudah tergambar jelas dalam benak dan pikiran kita tentang apa yang kita kerjakan, kenapa kita mengerjakan karena kita sadar siapa kita yang mengerjakan ibadah itu.
Kembali pada jawaban sang Imam tentang perincian hakikat ibadah. Yang pertama beliau menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah tidak mengakui apa yang ada dalam genggamannya sebagai miliknya, tapi milik pihak yang kepadanya dia mengabdi. Seorang hamba memang harus memahami dan menyadari itu dengan baik. Dia akan salah kalau menyatakan bahwa semua yang dipunyai sebagai miliknya. Karena bagaimana mungkin, seorang pembantu yang diserahi rumah, mobil, dan barang-barang yang lain oleh majikannya sebagai miliknya. Dia -pembantu itu- hanya kedapatan memiliki karena dititipi untuk dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Seorang hamba Allah pun demikian, semua yang dia miliki entah berbentuk harta, istri & anak, jabatan jika ia mendudukinya, kendaraan dan lain sebagainya pada hakikatnya adalah sebagai titipan yang seharusnya menjadi mediator yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah swt. Jika tidak menyadari itu, maka bersiaplah karena semua yang "dianggap miliknya itu" akan menjadi ujian berat atau bahkan fitnah untuknya.
Allah swt menegaskan bahwa semua yang ada dilangit dan dibumi adalah milik-Nya. Meskipun kita berdalih bahwa semua itu kita dapat karena kita upayakan, namun semua itu terjadi juga atas izin-Nya, kita tidak bisa menisbatkannya mutlak pada diri kita. Pemahaman ini sangat perlu, karena terkadang buat sebagian besar kita, sangat tidak siap terutama secara mental pada saat sesuatu yang dia anggap "miliknya" hilang karena sebab tertentu mislanya. Ada yang tidak siap saat terjadi kematian anak atau istri tercintanya. Ada yang menjadi stres berat karena hartanya yang dicari puluhan tahun misalnya habis dirampok. Ada yang menjadi depresi karena tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai orang penting dipemerintahan. Hal-hal senada semacam ini akan menjangkit siapapun yang tidak menyadari bahwa semuanya milik Allah, Allah bisa kapan saja mengambil jika Dia mau dan semuanya hanya akan kembali kepada-Nya.
Pemahaman yang baik tentang kenyataan bahwa semua yang kita miliki hakikatnya adalah milik Allah swt, akan menumbuhkan beberapa sikap positif diantaranya ; tidak sombong, karena bagaimana dia sombong padahal semuanya adalah milik-Nya. Seorang pembantu sopir bagaimana dia merasa sombong dengan mobil yang dkendarai, padahal mobil itu milik najikannya. Amanah, seorang hambapun akan berlaku amanah -semestinya- terhadap semua yang dia miliki. Tanggung jawab, menjaga, merawat dan memanfaatkannya sesuai dengan instruksi yang diberikan. Dia enggan lepas tanggung jawab (khiyanat) dari semua beban yang dimilikinya itu. Ikhlas, kalau suatu saat dia harus berpisah atau kehilangan "miliknya" itu, maka diapun rela dan menerima semuanya terjadi, karena dia meyakini betul bahwa semuanya berasal dari-Nya dan akan kembali hanya kepada-Nya. Ibarat seorang sopir yang rela saat meajikannya ingin memakai atau mengambil mobil yang setiap hari digunakan olehnya.
Point kedua dari hakikat ibadah, yaitu hanya menjalankan apa yang diperintahnkan dan menjauhi semua yang dilarang, juga akan meneguhkan prinsip sang hamba bahwa dia tidak akan membuang waktu sia-sia karena dia memiliki job description yang jelas tentang apa yang patut dikerjakan dan yang tidak. Sedangkan point yang ketiga, yaitu tidak pernah memastikan untuk meminta atau mengerjakan sesuatu kecuali setelah ia mendapatkan izin dari majikannya, akan membuat seorang hamba akan bijaksana dalam menentukan dan mengambil sebuah keputusan. Seorang pembantu yang baik tidak akan pergi dari rumah majikannya kecuali setelah dia memastikan bahwa dia telah dizinkan keluar. Demikian juga seorang hamba, semua pernyataannya, ketetapannya selalu dikaitkan dengan Tuhannya seraya mengucap INSYAALLAH, bahwa semua terjadi atas izin-Nya.
Ada pelajaran penting bagi hamba terkait dengan point ketiga ini. Banyak yang secara sengaja (dengan keangkuhannya) atau tanpa disengaja untuk memastikan terjadinya sesuatu dengan bangganya. " Baiklah besok pasti akan selesai", "tenang saja semua saya yang atur besok", " ah itu si hal sepele biar saya yang akan tanggulangi", ucapan-ucapan yang sudah lazim ini sebetulnya secara tidak langsung telah mendahului izin Tuhan, karena siapa yang bisa memastikan bahwa esok hari yang berkata seperi itu amsih hidup atau tidak. Firman Allah menyatakan ولا تقولن لشيئ إنى فاعل ذلك غدا jangan sekali-kali kamu berkata sayalah yang akan mengerjakannya besok. Seorang hamba akan berupaya bijak dalam menyikapi hal-hal seperti ini, karena penyakit kemanusiaan yang akan segera diberikan pelajaran langsung dari Allah adalah kesombongan.
Dalam akhir tulisan ini, berdasarkan pemaparan yang sederhana, patut kiranya bagi kita untuk mengejawantahkan prinsip demikian karena fakta serta keadaannya mengharuskan kita untuk seperti itu. Tidak malu untuk menyebut diri kita sebagai hamba, budak atau pembantu Allah yang senantiasa bertugas (beramal) demi karena-Nya karena Ia telah bebrbuat baik kepada kita. Karena itu, kita juga harus menjunjung tinggi sifat profesionalitas kehambaan kita disisi-Nya dengan cara :
1. Mengetahui semua tugas dan kewajiban kita dengan baik agar kita tahu bagaimana kita berbuat.
2. Melakukan tugas dan kewajiban itu dengan penuh tanggung jawab (amanah, tidak pernah melalaikan dan menyianyiakannya.
3. Siap mempertanggungjwabkan semua perbuatan yang telah kita lakukan, sebagai bukti bahwa kita telah mempersembahkan yang terbaik.
Demikian semoga menggugah kita untuk selalu lebih baik...
Ada kisah seseorang pada saat ia menghadapi sakratul maut, seolah ia berada didepan sebuah pintu gerbang. Ia ingin masuk kedalam pintu dengan mengetuk pintu gerbang itu. Kemudian setelah itu ada suara dari dalam sambil bertanya ..
"Siapa kamu ?", "Saya udin tuan ". sahut orang ini
Apa itu nama kamu? " Iya tuan, itu nama saya ".
Maaf saya tidak bertanya nama kamu siapa, yang saya tanya " kamu siapa ?"
" Oh... saya anak lurah tuan " jawab lagi orang ini.
Maaf.. Saya engga tanya kamu anak siapa.. yang saya tanya kamu siapa?
Lagi-lagi orang ini menjawab, " oh... saya seorang insinyur tuan ".
Maaf, saya juga tidak bertanya gelar atau titel kamu apa.. yang saya tanya " siapa kamu ?".
Berfikir lagi orang ini sambil agak kebingungan, karena setiap jawaban yang diberikan selalu salah. Merenung sejenak kemudian dia memberikan jawaban yang agak sedikit religius. " Oh saya ini muslim tuan, saya pengikut Nabi Muhammad saw ". dijawab sama orang yang ada dalam pintu gerbang itu, " sekali lagi maaf, saya pun tidak bertanya kamu agama apa dan kamu pengikut nabi siapa, yang saya tanya kamu itu siapa?". Lagi-lagi dibuat bingung orang ini sambil dia berfikir lagi dan memberikan jawaban pamungkas, " saya ini manusia tuan, saya ini sering melakukan sholat, zakat, sedekah saya pun sudah berhaji ". Dijawab sama orang yang ad dalam pintu gerbang, " maaf sekali lagi maaf saya pun tidak tidak bertanya kamu dari jenis apa dan amalan kamu apa, yang saya tanya kamu itu siapa? ". Pergilah orang ini sambil tetap merasa kebingungan, dia terjegal dipintu pertama karena tidak bisa menjawab pertanyaan singkat itu.
Siapa kamu? siapa kita? Pertanyaan singkat dan sederhana namun tidak sesederhana untuk dijawab. Pertanyaan ini mengingatkan kita kepada salah satu hikmah " Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu ", siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Sebuah pertanyaan yang ingin mengungkap siapa sejatinya kita sebagai manusia. Kisah tersebut menjadi pelajaran sekaligus gambaran umum kita sebagai manusia. Biasanya kita pada saat mengidentifkasi diri kita selalu menjawab dengan hal-hal yang serupa pada cerita diatas. Kita lebih tertarik untuk menjelaskan diri kita dengan nama besar, titel atau gelar, profesi, karya atau aktifitas-aktifitas kita. Jawaban-jawaban tersebut ternyata tidak bisa menggambarkan keutuhan atau paling tidak hakikat kita sebagai manusia.
Alangkah naifnya kita memang kalau tidak mengenal diri. Coba bayangkan jika ada seseorang tamu masuk ke sebuah kantor, didalam kantor kemudian melakukan prilaku tak beretika seperti berkata keras atau kasar,tolak pinggang saat berjalan dan tidak pernah permisi dalam melakukan sesuatu didalamnya, maka bagaimanakah reaksi pegawai resmi dalam kantor itu? Marah, kesel, membentak bahkan sampai mengusir. Kalau kita sepakat untuk mengatakan bahwa pegawai kantor itu wajar marah melihat tingkah laku kurang ajar tamu yang tidak tahu diri itu, maka analogikanlah dengan kita yang berada dialam dunia yang diciptakan oleh Allah ini, tapi kita berprilaku "sakarepe dewek", tidak kenal aturan, hukum, melakukan sesuatu atas dasar kepentingan nafsu demi ambisi pribadi, intinya karena kita tidak tahu diri dialam ini, wajarkah kalau Allah memberikan pelajaran -kalau enggan menyebut-Nya marah-kepada kita misalnya dengan menurunkan adzab? Ya... kalau kasusnya sama dengan tamu yang tidak tahu diri itu maka kita juga akan berkata ya.. untuk Allah yang memberikan peringatan kepada kita yang tidak tahu diri ini.
Tahu diri konteksnya antara kita dengan Allah itu sangat penting dalam membentuk pribadi yang sholeh spiritual, emosional dan intelektual. Bagaimana tidak, karena terbentuknya keharmonisan dialam tergantung juga pada seberapa tahu kita tentang diri yang menggabungkan ketiga kesholehan tersebut tadi.Tidak terlalu mudah memang untuk mengidentifikasi sejatinya diri kita, karena bisa jadi setiap individu yang konsen untuk mencari jawaban yang serupa terhadap pertanyaan ini, akan menjumpai dan menemukan cara serta jawaban yang beragam. Namun, pada tulisan ini hanya ingin mengulas tentang makna ibadah yang korelasinya dengan pengejawantahan diri dalam bersikap, berprilaku, bertutur dan lain-lain dalam kehidupan ini.
Berawal dari sebuah kisah seorang tua bernama Unwan yang datang kepada salah seorang zahid imam Ja'far Ashodiq sambil bertanya, " hai Imam, sudikah kiranya engkau jelaskan apa hakikat ibadah itu?". Sang imam menjawab," pertama, dia tidak mengakui apa yang ada dalam genggamannya sebagai miliknya tapi milik Tuhannya. Kedua, perbuatan yang dilakukan hanya berkisar pada menjalankan apa yang diperintahkan Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dia tidak akan memastikan untuk melakukan sesuatu kecuali setelah ia meminta izin dari Tuhannya ".
Jawaban ini menegaskan tentang posisi atau kedudukan kita yang tak lain sebagai pesuruh-Nya yang memiliki porsi tertentu, dalam menjadi wakil-Nya didunia sebagai kepanjangan tangan dari-Nya. Dalam pertanyaan tersebut dijelaskan tentang hakikat ibadah. Ibadah terambil dari kata dasar 'abada yang memiliki arti taat, menurut, mengikut dan sebagainya. Kita sering menterjemahkannya dengan kata menyembah. 'Abid adalah orang yang menyembah, ma'bud yang disembah. Masih dari akar yang sama abdun berarti hamba semua maknanya akan berkisar pada makna dasar diatas.
Abdun atau 'abd sering kita artikan hamba. Dalam bahasa kita tedapat padanan kata yang menyerupai seperti budak, pesuruh, pembantu, atau yang lebih kasar dari itu jongos. Tidak sepenuhnnya tepat mengartikan kata 'abd dengan padanan kata-kata tersebut karena masing-masing ada kata yang lebih pas dan mendekati maknanya. Namun, semangat kata-kata tersebut yang ingin diungkap pada tulisan ini. Kita memang semua disebut hamba, hamba Allah. Kita rasanya juga pantas untuk menyebut diri kita sebagai "pembantu Allah", "pesuruh Allah", "jongosnya Allah". Tidak perlu malu dan gengsi untuk mengakui itu, karena fakta dan hakikatnya kita sebetulnya seperti itu. Jadi pada saat kita melakukan ibadah, maka sudah tergambar jelas dalam benak dan pikiran kita tentang apa yang kita kerjakan, kenapa kita mengerjakan karena kita sadar siapa kita yang mengerjakan ibadah itu.
Kembali pada jawaban sang Imam tentang perincian hakikat ibadah. Yang pertama beliau menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah tidak mengakui apa yang ada dalam genggamannya sebagai miliknya, tapi milik pihak yang kepadanya dia mengabdi. Seorang hamba memang harus memahami dan menyadari itu dengan baik. Dia akan salah kalau menyatakan bahwa semua yang dipunyai sebagai miliknya. Karena bagaimana mungkin, seorang pembantu yang diserahi rumah, mobil, dan barang-barang yang lain oleh majikannya sebagai miliknya. Dia -pembantu itu- hanya kedapatan memiliki karena dititipi untuk dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Seorang hamba Allah pun demikian, semua yang dia miliki entah berbentuk harta, istri & anak, jabatan jika ia mendudukinya, kendaraan dan lain sebagainya pada hakikatnya adalah sebagai titipan yang seharusnya menjadi mediator yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah swt. Jika tidak menyadari itu, maka bersiaplah karena semua yang "dianggap miliknya itu" akan menjadi ujian berat atau bahkan fitnah untuknya.
Allah swt menegaskan bahwa semua yang ada dilangit dan dibumi adalah milik-Nya. Meskipun kita berdalih bahwa semua itu kita dapat karena kita upayakan, namun semua itu terjadi juga atas izin-Nya, kita tidak bisa menisbatkannya mutlak pada diri kita. Pemahaman ini sangat perlu, karena terkadang buat sebagian besar kita, sangat tidak siap terutama secara mental pada saat sesuatu yang dia anggap "miliknya" hilang karena sebab tertentu mislanya. Ada yang tidak siap saat terjadi kematian anak atau istri tercintanya. Ada yang menjadi stres berat karena hartanya yang dicari puluhan tahun misalnya habis dirampok. Ada yang menjadi depresi karena tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai orang penting dipemerintahan. Hal-hal senada semacam ini akan menjangkit siapapun yang tidak menyadari bahwa semuanya milik Allah, Allah bisa kapan saja mengambil jika Dia mau dan semuanya hanya akan kembali kepada-Nya.
Pemahaman yang baik tentang kenyataan bahwa semua yang kita miliki hakikatnya adalah milik Allah swt, akan menumbuhkan beberapa sikap positif diantaranya ; tidak sombong, karena bagaimana dia sombong padahal semuanya adalah milik-Nya. Seorang pembantu sopir bagaimana dia merasa sombong dengan mobil yang dkendarai, padahal mobil itu milik najikannya. Amanah, seorang hambapun akan berlaku amanah -semestinya- terhadap semua yang dia miliki. Tanggung jawab, menjaga, merawat dan memanfaatkannya sesuai dengan instruksi yang diberikan. Dia enggan lepas tanggung jawab (khiyanat) dari semua beban yang dimilikinya itu. Ikhlas, kalau suatu saat dia harus berpisah atau kehilangan "miliknya" itu, maka diapun rela dan menerima semuanya terjadi, karena dia meyakini betul bahwa semuanya berasal dari-Nya dan akan kembali hanya kepada-Nya. Ibarat seorang sopir yang rela saat meajikannya ingin memakai atau mengambil mobil yang setiap hari digunakan olehnya.
Point kedua dari hakikat ibadah, yaitu hanya menjalankan apa yang diperintahnkan dan menjauhi semua yang dilarang, juga akan meneguhkan prinsip sang hamba bahwa dia tidak akan membuang waktu sia-sia karena dia memiliki job description yang jelas tentang apa yang patut dikerjakan dan yang tidak. Sedangkan point yang ketiga, yaitu tidak pernah memastikan untuk meminta atau mengerjakan sesuatu kecuali setelah ia mendapatkan izin dari majikannya, akan membuat seorang hamba akan bijaksana dalam menentukan dan mengambil sebuah keputusan. Seorang pembantu yang baik tidak akan pergi dari rumah majikannya kecuali setelah dia memastikan bahwa dia telah dizinkan keluar. Demikian juga seorang hamba, semua pernyataannya, ketetapannya selalu dikaitkan dengan Tuhannya seraya mengucap INSYAALLAH, bahwa semua terjadi atas izin-Nya.
Ada pelajaran penting bagi hamba terkait dengan point ketiga ini. Banyak yang secara sengaja (dengan keangkuhannya) atau tanpa disengaja untuk memastikan terjadinya sesuatu dengan bangganya. " Baiklah besok pasti akan selesai", "tenang saja semua saya yang atur besok", " ah itu si hal sepele biar saya yang akan tanggulangi", ucapan-ucapan yang sudah lazim ini sebetulnya secara tidak langsung telah mendahului izin Tuhan, karena siapa yang bisa memastikan bahwa esok hari yang berkata seperi itu amsih hidup atau tidak. Firman Allah menyatakan ولا تقولن لشيئ إنى فاعل ذلك غدا jangan sekali-kali kamu berkata sayalah yang akan mengerjakannya besok. Seorang hamba akan berupaya bijak dalam menyikapi hal-hal seperti ini, karena penyakit kemanusiaan yang akan segera diberikan pelajaran langsung dari Allah adalah kesombongan.
Dalam akhir tulisan ini, berdasarkan pemaparan yang sederhana, patut kiranya bagi kita untuk mengejawantahkan prinsip demikian karena fakta serta keadaannya mengharuskan kita untuk seperti itu. Tidak malu untuk menyebut diri kita sebagai hamba, budak atau pembantu Allah yang senantiasa bertugas (beramal) demi karena-Nya karena Ia telah bebrbuat baik kepada kita. Karena itu, kita juga harus menjunjung tinggi sifat profesionalitas kehambaan kita disisi-Nya dengan cara :
1. Mengetahui semua tugas dan kewajiban kita dengan baik agar kita tahu bagaimana kita berbuat.
2. Melakukan tugas dan kewajiban itu dengan penuh tanggung jawab (amanah, tidak pernah melalaikan dan menyianyiakannya.
3. Siap mempertanggungjwabkan semua perbuatan yang telah kita lakukan, sebagai bukti bahwa kita telah mempersembahkan yang terbaik.
Demikian semoga menggugah kita untuk selalu lebih baik...
Rabu, 29 Desember 2010
Iman dulu baru Islam... Tapi... IQRA...
Sejak kecil kita diajarkan lebih tepatnya diperkenalkan tentang RUKUN IMAN dan RUKUN ISLAM. Rukun berarti sendi. Semuanya tak akan berdiri tanpa memiliki sendi yang kokoh. Pertanyaannya sekarang adalah kalau Iman dan Islam itu adalah sendi kita, sudahkah kita -sebagai hamba Allah- mampu berdiri dan dan tegar dengan kedua sendi tersebut?.....
Kebanyakan dari kita memiliki atau beragama Islam atas dasar keturunan. Kalau orang tua kita Muslim lazimnya kita pun akan menjadi Muslim. Kondisi seperti ini tidaklah sepenuhnya menjamin bahwa ia akan menjadi muslim yang baik dan ideal. Kondisi ini juga seperti menyatakan bahwa ber-Islam seakan "taken for granted" bagi pribadi tersebut yang -parahnya- Islam dianggap sebagai pelengkap kehidupan yang bisa dibilang hanya sekedar formalitas.
Anda tidak percaya? Coba jawab pertanyaan ini " Apakah Anda beragama Islam?", jawabanya tentu "Ya". Tapi kalau pertanyaan itu dikembangkan," Apakah Anda betul-betul muslim/Islam?", maka jawabannya belum tentu ya, karena betulkah faktanya kita ber-Islam atau menjadi muslim sebenarnya. Pertanyaan ini yang akan coba kita ungkap demi memahami rukun Islam dan Iman yang kita telah hafal sejak kecil, tapi yang lebih patut dan wajib untuk kita ketahui adalah makna hakiki dan pengamalannya dalam kehidupan.
Dalam pernyataan diatas bukan bermaksud untuk menjeneralisir bahwa yang terlahir dari orang tua yang muslim akan menjadi muslim yang tidak baik atau ideal, tentunya tidak sepenuhnya betul. Penekanannya adalah pada individu yang terlena tanpa melakukan evaluasi mendalam tentang kehadiran dan keberadaannya dalam kehidupan dengan membawa titel muslim itu. Ada hal menarik yang patut kita perhatikan dan bandingkan kala ada orang yang non muslim kemudian menjadi muslim yang pemikiran dan pemahaman ke-Islamannya justru lebih baik bagi sementara orang Islam yang sudah terlahir muslim. Sekali lagi bahwa dalam tulisan ini bukan ingin membandingkan kualitas ke-Islaman antara yang terlahir dari orang tua yang sudah muslim dengan kaum muslim yang menemukan Islam berasal dari kalangan non-muslim. Fokusnya adalah bagaimana kita -terlepas dari latar belakang apapun- bisa memahami dengan baik makna Islam dan menampilkan sosok yang betul-betul muslim sesuai dengan petunjuk al-Qur'an.
Uraian singkatnya adalah bahwa sebelum islam adalah iman. Apa alasannya?... Allah swt menciptakan banyak hal untuk semua makhluknya dengan kadar yang berbeda. Manusia, hewan, pepohonan dan makhluk lain memiliki batasan-batasan tertentu dalam penciptaannya. Namun demikian, bagi kita manusia, ada hal-hal yang diberikan oleh Allah yang tidak diberikan oleh makhluk lain yaitu AKAL. Akal itulah yang membedakan kita dengan makhluk yang lain. Dengan akal itu juga lah kita bisa menangkap, memahami, dan melakukan sesuatu serta mampu membedakan hal yang baik dan buruk.
Akal.. demikianlah anugerah terbesar yang diciptakan Allah bagi kita. Akal inilah yang menjadi entripoint sebelum kita mengetahui dan merasakan hakikat iman dan islam. Masih ingatkah kisah dan sejarahnya Nabi Ibrahim dalam mengenal Tuhannya? Ya.. Nabi yang satu ini berbeda dengan nabi-nabi yang lain. Dia disebut sebagai bapak tauihid atau monotheisme karena keberhasilannya dalam mengenal dan menemukan Tuhannya dengan menggunakan kekuatan akal dan hatinya. Kalau kita merasakan manfaat yang besar dengan penemuan listrik, alat-alat elektronik dan lain-lain, namun rasanya tidak sebanding dengan penemuan manusia akan Tuhannya.
Nabi Ibrahim menemukan dan mengenal Tuhannya dengan menggunakan akalnya. Dia melihat bintang, bulan tapi tidak berkeyakinan kalau itu adalah tuhannya, karena tidak masuk diakal sesuatu yang timbul tenggelam sebagai tuhan (Inni laa uhibbul aafilin). Dilihatnya juga matahari sambil berfikir ini barangkali tuhannya karena terlihat lebih besar, namun ia menyangkal itu semua sebagai tuhannya. Ia meyakini justru ada kekuatan maha besar yang mengendalikan benda-benda itu semua.
Demikianlah semestinya kita sebagai manusia terutama kaum muslim meniru cara nabi Ibrahim dalam mengenal Tuhannya. Dia memaksimalkan potensi otak untuk berfikir dan merenung dalam mengenal dan mengetahui Dzat Maha Besar yang selalu ia sembah. Dalam ilmu tauhid juga ditekankan bahwa mengenal Allah swt sebagai Tuhan adalah perkara awal yang harus didahulukan. Upaya mengenal Allah sebagai Tuhan yang kita sembah adalah bukan hal kecil dan sederhana. Perlu usaha keras untuk mengenalnya meski bukan mengenal dzat-Nya, tapi merasakan keberadaan dan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita adalah bagian dari cara kita meyakini adanya Allah yang senantiasa melihat, memantau dan mendengar segala tingkah laku kita. Karena cara inipun akan mempengaruhi kita dari mulai berfikir hingga prilaku kita.
Upaya untuk mengenal serta merasakan adanya Allah dikehidupan kita -seperti kisahnya nabi Ibrahim- adalah dengan memaksimalkan potensi akal. Akal kita gunakan untuk "IQRA" atau kegiatan yang kita lakukan dengan cara membaca. Membaca banyak sekali objeknya. Ada al-Qur'an yang jelas sekali menjadi objek bacaan yang sempurna yang mencakup keterangan, penjelasan yang menyatakan bahwa Allah betul-betul ada dan dekat sekali dengan hambanya. Ada objek bacaan juga berupa alam semesta beserta segala hamparan benda-bendanya, termasuk juga tubuh kita, situasi dan kondisi serta masih banyak objek bacaan yang bisa menyimpulkan tentang adanya Allah swt Tuhan kita yang mengatur semua perputaran dan kehidupan dialam.
Sekali lagi penegasan ini perlu agar kita senantiasa merasakan kehadiran Tuhan yang selalu ada dan melihat kita dan secara konsekwensi logis akan membuat segala perbuatan kita akan berorientasi hanya pada-Nya.
IQRA tidak hanya dimaksudkan dengan kegiatan membaca. Berfikir, merenung, menganalisis, observasi dan semua kegiatan yang menggunakan potensi akal termasuk kedalam kategori iqra. Sebagai contoh penerapan iqra terhadap tubuh misalnya, pernahkah kita memikirkan tentang pertumbuhan gigi yang pertumbuhannya tidak seperti kuku atau rambut? Anda bisa membayangkan bagaimana kalau pertumbuhan gigi seperti kuku yang perlahan tapi memanjang... Pernahkah juga Anda membayangkan lubang hidung kita arahnya kebawah? Bayangkan kalau arahnya keatas, apa yang terjadi jika Anda diluar kemudian terjadi hujan lebat... Pernahkah Anda membayangkan jari tangan Anda ada lima? Bayangkan jika cuma satu atau lebih dari lima... akan menyusahkan atau merepotkan bukan.. Pernahkah juga Anda memikirkan kotoran telinga Anda itu pahit -tapi bukan karena pernah merasakan lo-, itu terbukti karena pada saat tidur tidak ada semut yang masuk ke telinga Anda.. bayangkan jika manis... masih terlalu banyak yang akan kita pikirkan tentang keadaan-keadaan serupa yang intinya akan menimbulkan satu pertanyaan besar, "apakah itu terjadi dengan sendirinya atau hanya kebetulan? Rasanya mustahil itu terjadi dengan sendirinya, apalagi dalam Islam juga tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua terjadi karena diciptakan oleh Allah swt. Itulah tujuan akhir dari cara kita membaca tubuh untuk memberikan keyakinan pada hati kita berdasarkan penalaran yang logis dan sederhana bahwa Allah itu ada dan mengkreasi segala ciptaan-Nya. Sekali lagi, ini hanyalah contoh sederhana dalam berupaya memahami bahwa Allah itu ada.
Jika semua objek telah Anda lakukan pastinya akan memberikan keyakinan yang sangat besar terhadap adanya Allah swt dan pada saat itulah Anda sudah memasuki wilayah keimanan. Iman berarti percaya. Kalau kita percaya pada sesuatu mestinya bukan karena kita belum tahu malah sebaliknya karena kita telah tahu. Contoh, saya percaya kalau mesjid Kubah Emas ada di daerah Cinere Meruyung, karena saya telah mengetahui dan mendatanghinya secara langsung. Percaya atau iman menuntut adanya bukti. Jika Anda bilang bahwa Allah itu ada, buktikan dengan hasil IQRA Anda bahwa keberadaan-Nya bisa diketahui dengan cara yang Anda ketahui itu. Jika Anda beriman kepada rosul, hari akhir, buktikan dengan hasil IQRA Anda terhadap kebenarannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan keyakinan yang mendalam tentang apa yang kita imani itu. Ini mengindikasikan bahwa orang yang beriman adalah orang yang aktif, aktif bertanya, aktif menggunakan akal dan hatinya untuk menemukan hakikat yang diimaninya itu. Pencarian bukti bagi orang yang beriman tentang hakikat yang dimaninya itu akan mempengaruhi tingkat keimanan yang dimilikinya. Semakin maksimal menggunakan IQRA dan semakin berhasil menemukan jawaban dari proses itu iqra itu maka akan semakin berkualitas pula tingkat keimanannya.
Jika seseorang telah sampai pada level iman, yang telah membuktikan segala objek yang dimaninya itu dengan penuh pengetahuan dan penjiwaan maka sungguh dia telah memasuki wilayah ISLAM. Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh atau pasrah. Pada kata-kata tersebut terselip makna ketidakberdayaan dan ketaatan. Memang demikianlah hakikat keadaan seorang muslim dihadapan Allah swt. Sebagai contoh kalau ada seorang polisi yang menodongkan pistolnya kepada seseorang karena kesalahan orang itu misalnya, maka yang akan dilakukan adalah mengangkat kedua tangan tanda pasrah. Kalau ada seorang majikan yang menyuruh pembantunya untuk membersihkan lantai mislanya, maka pembantu itu langsung mengerjakannya sebagai bukti kepatuhannya. Demikian juga semestinya keadaan seorang muslim -sekali lagi- dihadapan Allahswt. Jangan pernah tidak mengangkat tangan jika polisi menodongkan pistonya kepada Anda karena Anda bersalah misalnya, Anda akan tahu apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh polisi itu. Jangan pernah juga sang pembantu untuk membantah perintah majikannya, kalau tidak ingin menerima kemungkinan konsekwensi yang akan diberikan. Ini perumpamaan sederhana yang menggambarkan bagaimana semestinya sikap seorang muslim dihadapan Tuhannya Allah swt.
Yang menarik untuk diungkap disini adalah, apa yang menyebabkan seorang itu tunduk, patuh dan pasrah. Kalau seorang mengangkat tangan saat ditodongkan pistol oleh polisi, itu menandakan bahwa orang itu menyatakan dirinya sebagai orang yang lemah dan menerima segala apa yang akan diberikan sekaligus pengakuan bahwa polisi itu adalah tokoh yang kuat dan memiliki power untuk membuat Anda pasrah, karena tidak mungkin bukan, Anda akan mengangkat tangan kepada seorang anak kecil yang menodongkan pistol mainan kepada Anda. Seorang pembantu juga yang patuh dan pasrah melaksanakan perintah majikannya, mengindikasikan bahwa dia merasa orang yang lebih rendah dari sisi keadaan keuangannya sehingga ia mau melakukan perintahnya agar dia memilki uang itu, karena itulah dia membutuhkan majikan. Kalau kita bisa memahami perumpamaan ini dengan sepenuh kesadaran, rasanya akan memperbaiki kualitas keIslaman kita dihadapan Allah swt.
Muslim berarti orang yang patuh, tunduk dan pasrah dihadapan Allah swt dan mengakui tentang posisinya yang lemah dihadapan-Nya serta karena ia butuh dengan-Nya. Ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan hanya akan bisa dicapai kalau ia benar-benar telah "beyond" dari keimanan yang telah dibicarakan sebelumnya. Kaitannya adalah bahwa orang yang beriman adalah orang yang aktif mencari pengetahuan dan atau bukti tentang segala objek yang ia diperintahkan untuk mengimaninya. Pada saat seseorang telah berhasil menguak objek keimanan yang diperintahkan itu maka orang tersebut akan menjadikan Allah sebagai otoritas tunggal yang patut, layak, wajib disembah dan dipatuhi segala perintah-Nya dan dijauhi segala larangan-Nya. Semua perintah yang dia lakukan dan semua larangan yang dia tinggalkan berdasar karena pengetahuan yang benar dan meyakinkan dan karena keyakinan bahwa yang memerintahkannya adalah Dzat yang memiliki wewenang kuat. Jadi seorang muslim itu pasrah melaksanakan segala kewajiban itu bukan karena keterpaksaan atau ikut-ikutan tapi berdasarkan pemahaman dan kesadaran.
Akal ---> IQRA atau Deep Thinking ( membaca, menganalisis, merenung, berfikir, observasi dll ) ---> IMAN (Percaya yang menjadikannya aktif melakukan pemahaman terhadap objek yang diimani) ---> ISLAM ( Tunduk, patuh dan pasrah kerena telah meyakini adanya otoritas tunggal yang berhak untuk disembah dipatuhi ajaran-Nya dan dihindari larangan-Nya ).
Demikian alur tulisan sederhana pada kajian ini, semoga akal yang kita gunakan untuk melakukan IQRA akan menyampaikan kita pada kekuatan iman menuju kualitas Islam. Allahumanshurna Amin.. Wallahu a'lamu bishowab.
Kebanyakan dari kita memiliki atau beragama Islam atas dasar keturunan. Kalau orang tua kita Muslim lazimnya kita pun akan menjadi Muslim. Kondisi seperti ini tidaklah sepenuhnya menjamin bahwa ia akan menjadi muslim yang baik dan ideal. Kondisi ini juga seperti menyatakan bahwa ber-Islam seakan "taken for granted" bagi pribadi tersebut yang -parahnya- Islam dianggap sebagai pelengkap kehidupan yang bisa dibilang hanya sekedar formalitas.
Anda tidak percaya? Coba jawab pertanyaan ini " Apakah Anda beragama Islam?", jawabanya tentu "Ya". Tapi kalau pertanyaan itu dikembangkan," Apakah Anda betul-betul muslim/Islam?", maka jawabannya belum tentu ya, karena betulkah faktanya kita ber-Islam atau menjadi muslim sebenarnya. Pertanyaan ini yang akan coba kita ungkap demi memahami rukun Islam dan Iman yang kita telah hafal sejak kecil, tapi yang lebih patut dan wajib untuk kita ketahui adalah makna hakiki dan pengamalannya dalam kehidupan.
Dalam pernyataan diatas bukan bermaksud untuk menjeneralisir bahwa yang terlahir dari orang tua yang muslim akan menjadi muslim yang tidak baik atau ideal, tentunya tidak sepenuhnya betul. Penekanannya adalah pada individu yang terlena tanpa melakukan evaluasi mendalam tentang kehadiran dan keberadaannya dalam kehidupan dengan membawa titel muslim itu. Ada hal menarik yang patut kita perhatikan dan bandingkan kala ada orang yang non muslim kemudian menjadi muslim yang pemikiran dan pemahaman ke-Islamannya justru lebih baik bagi sementara orang Islam yang sudah terlahir muslim. Sekali lagi bahwa dalam tulisan ini bukan ingin membandingkan kualitas ke-Islaman antara yang terlahir dari orang tua yang sudah muslim dengan kaum muslim yang menemukan Islam berasal dari kalangan non-muslim. Fokusnya adalah bagaimana kita -terlepas dari latar belakang apapun- bisa memahami dengan baik makna Islam dan menampilkan sosok yang betul-betul muslim sesuai dengan petunjuk al-Qur'an.
Uraian singkatnya adalah bahwa sebelum islam adalah iman. Apa alasannya?... Allah swt menciptakan banyak hal untuk semua makhluknya dengan kadar yang berbeda. Manusia, hewan, pepohonan dan makhluk lain memiliki batasan-batasan tertentu dalam penciptaannya. Namun demikian, bagi kita manusia, ada hal-hal yang diberikan oleh Allah yang tidak diberikan oleh makhluk lain yaitu AKAL. Akal itulah yang membedakan kita dengan makhluk yang lain. Dengan akal itu juga lah kita bisa menangkap, memahami, dan melakukan sesuatu serta mampu membedakan hal yang baik dan buruk.
Akal.. demikianlah anugerah terbesar yang diciptakan Allah bagi kita. Akal inilah yang menjadi entripoint sebelum kita mengetahui dan merasakan hakikat iman dan islam. Masih ingatkah kisah dan sejarahnya Nabi Ibrahim dalam mengenal Tuhannya? Ya.. Nabi yang satu ini berbeda dengan nabi-nabi yang lain. Dia disebut sebagai bapak tauihid atau monotheisme karena keberhasilannya dalam mengenal dan menemukan Tuhannya dengan menggunakan kekuatan akal dan hatinya. Kalau kita merasakan manfaat yang besar dengan penemuan listrik, alat-alat elektronik dan lain-lain, namun rasanya tidak sebanding dengan penemuan manusia akan Tuhannya.
Nabi Ibrahim menemukan dan mengenal Tuhannya dengan menggunakan akalnya. Dia melihat bintang, bulan tapi tidak berkeyakinan kalau itu adalah tuhannya, karena tidak masuk diakal sesuatu yang timbul tenggelam sebagai tuhan (Inni laa uhibbul aafilin). Dilihatnya juga matahari sambil berfikir ini barangkali tuhannya karena terlihat lebih besar, namun ia menyangkal itu semua sebagai tuhannya. Ia meyakini justru ada kekuatan maha besar yang mengendalikan benda-benda itu semua.
Demikianlah semestinya kita sebagai manusia terutama kaum muslim meniru cara nabi Ibrahim dalam mengenal Tuhannya. Dia memaksimalkan potensi otak untuk berfikir dan merenung dalam mengenal dan mengetahui Dzat Maha Besar yang selalu ia sembah. Dalam ilmu tauhid juga ditekankan bahwa mengenal Allah swt sebagai Tuhan adalah perkara awal yang harus didahulukan. Upaya mengenal Allah sebagai Tuhan yang kita sembah adalah bukan hal kecil dan sederhana. Perlu usaha keras untuk mengenalnya meski bukan mengenal dzat-Nya, tapi merasakan keberadaan dan kehadiran-Nya dalam kehidupan kita adalah bagian dari cara kita meyakini adanya Allah yang senantiasa melihat, memantau dan mendengar segala tingkah laku kita. Karena cara inipun akan mempengaruhi kita dari mulai berfikir hingga prilaku kita.
Upaya untuk mengenal serta merasakan adanya Allah dikehidupan kita -seperti kisahnya nabi Ibrahim- adalah dengan memaksimalkan potensi akal. Akal kita gunakan untuk "IQRA" atau kegiatan yang kita lakukan dengan cara membaca. Membaca banyak sekali objeknya. Ada al-Qur'an yang jelas sekali menjadi objek bacaan yang sempurna yang mencakup keterangan, penjelasan yang menyatakan bahwa Allah betul-betul ada dan dekat sekali dengan hambanya. Ada objek bacaan juga berupa alam semesta beserta segala hamparan benda-bendanya, termasuk juga tubuh kita, situasi dan kondisi serta masih banyak objek bacaan yang bisa menyimpulkan tentang adanya Allah swt Tuhan kita yang mengatur semua perputaran dan kehidupan dialam.
Sekali lagi penegasan ini perlu agar kita senantiasa merasakan kehadiran Tuhan yang selalu ada dan melihat kita dan secara konsekwensi logis akan membuat segala perbuatan kita akan berorientasi hanya pada-Nya.
IQRA tidak hanya dimaksudkan dengan kegiatan membaca. Berfikir, merenung, menganalisis, observasi dan semua kegiatan yang menggunakan potensi akal termasuk kedalam kategori iqra. Sebagai contoh penerapan iqra terhadap tubuh misalnya, pernahkah kita memikirkan tentang pertumbuhan gigi yang pertumbuhannya tidak seperti kuku atau rambut? Anda bisa membayangkan bagaimana kalau pertumbuhan gigi seperti kuku yang perlahan tapi memanjang... Pernahkah juga Anda membayangkan lubang hidung kita arahnya kebawah? Bayangkan kalau arahnya keatas, apa yang terjadi jika Anda diluar kemudian terjadi hujan lebat... Pernahkah Anda membayangkan jari tangan Anda ada lima? Bayangkan jika cuma satu atau lebih dari lima... akan menyusahkan atau merepotkan bukan.. Pernahkah juga Anda memikirkan kotoran telinga Anda itu pahit -tapi bukan karena pernah merasakan lo-, itu terbukti karena pada saat tidur tidak ada semut yang masuk ke telinga Anda.. bayangkan jika manis... masih terlalu banyak yang akan kita pikirkan tentang keadaan-keadaan serupa yang intinya akan menimbulkan satu pertanyaan besar, "apakah itu terjadi dengan sendirinya atau hanya kebetulan? Rasanya mustahil itu terjadi dengan sendirinya, apalagi dalam Islam juga tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua terjadi karena diciptakan oleh Allah swt. Itulah tujuan akhir dari cara kita membaca tubuh untuk memberikan keyakinan pada hati kita berdasarkan penalaran yang logis dan sederhana bahwa Allah itu ada dan mengkreasi segala ciptaan-Nya. Sekali lagi, ini hanyalah contoh sederhana dalam berupaya memahami bahwa Allah itu ada.
Jika semua objek telah Anda lakukan pastinya akan memberikan keyakinan yang sangat besar terhadap adanya Allah swt dan pada saat itulah Anda sudah memasuki wilayah keimanan. Iman berarti percaya. Kalau kita percaya pada sesuatu mestinya bukan karena kita belum tahu malah sebaliknya karena kita telah tahu. Contoh, saya percaya kalau mesjid Kubah Emas ada di daerah Cinere Meruyung, karena saya telah mengetahui dan mendatanghinya secara langsung. Percaya atau iman menuntut adanya bukti. Jika Anda bilang bahwa Allah itu ada, buktikan dengan hasil IQRA Anda bahwa keberadaan-Nya bisa diketahui dengan cara yang Anda ketahui itu. Jika Anda beriman kepada rosul, hari akhir, buktikan dengan hasil IQRA Anda terhadap kebenarannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan keyakinan yang mendalam tentang apa yang kita imani itu. Ini mengindikasikan bahwa orang yang beriman adalah orang yang aktif, aktif bertanya, aktif menggunakan akal dan hatinya untuk menemukan hakikat yang diimaninya itu. Pencarian bukti bagi orang yang beriman tentang hakikat yang dimaninya itu akan mempengaruhi tingkat keimanan yang dimilikinya. Semakin maksimal menggunakan IQRA dan semakin berhasil menemukan jawaban dari proses itu iqra itu maka akan semakin berkualitas pula tingkat keimanannya.
Jika seseorang telah sampai pada level iman, yang telah membuktikan segala objek yang dimaninya itu dengan penuh pengetahuan dan penjiwaan maka sungguh dia telah memasuki wilayah ISLAM. Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh atau pasrah. Pada kata-kata tersebut terselip makna ketidakberdayaan dan ketaatan. Memang demikianlah hakikat keadaan seorang muslim dihadapan Allah swt. Sebagai contoh kalau ada seorang polisi yang menodongkan pistolnya kepada seseorang karena kesalahan orang itu misalnya, maka yang akan dilakukan adalah mengangkat kedua tangan tanda pasrah. Kalau ada seorang majikan yang menyuruh pembantunya untuk membersihkan lantai mislanya, maka pembantu itu langsung mengerjakannya sebagai bukti kepatuhannya. Demikian juga semestinya keadaan seorang muslim -sekali lagi- dihadapan Allahswt. Jangan pernah tidak mengangkat tangan jika polisi menodongkan pistonya kepada Anda karena Anda bersalah misalnya, Anda akan tahu apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh polisi itu. Jangan pernah juga sang pembantu untuk membantah perintah majikannya, kalau tidak ingin menerima kemungkinan konsekwensi yang akan diberikan. Ini perumpamaan sederhana yang menggambarkan bagaimana semestinya sikap seorang muslim dihadapan Tuhannya Allah swt.
Yang menarik untuk diungkap disini adalah, apa yang menyebabkan seorang itu tunduk, patuh dan pasrah. Kalau seorang mengangkat tangan saat ditodongkan pistol oleh polisi, itu menandakan bahwa orang itu menyatakan dirinya sebagai orang yang lemah dan menerima segala apa yang akan diberikan sekaligus pengakuan bahwa polisi itu adalah tokoh yang kuat dan memiliki power untuk membuat Anda pasrah, karena tidak mungkin bukan, Anda akan mengangkat tangan kepada seorang anak kecil yang menodongkan pistol mainan kepada Anda. Seorang pembantu juga yang patuh dan pasrah melaksanakan perintah majikannya, mengindikasikan bahwa dia merasa orang yang lebih rendah dari sisi keadaan keuangannya sehingga ia mau melakukan perintahnya agar dia memilki uang itu, karena itulah dia membutuhkan majikan. Kalau kita bisa memahami perumpamaan ini dengan sepenuh kesadaran, rasanya akan memperbaiki kualitas keIslaman kita dihadapan Allah swt.
Muslim berarti orang yang patuh, tunduk dan pasrah dihadapan Allah swt dan mengakui tentang posisinya yang lemah dihadapan-Nya serta karena ia butuh dengan-Nya. Ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan hanya akan bisa dicapai kalau ia benar-benar telah "beyond" dari keimanan yang telah dibicarakan sebelumnya. Kaitannya adalah bahwa orang yang beriman adalah orang yang aktif mencari pengetahuan dan atau bukti tentang segala objek yang ia diperintahkan untuk mengimaninya. Pada saat seseorang telah berhasil menguak objek keimanan yang diperintahkan itu maka orang tersebut akan menjadikan Allah sebagai otoritas tunggal yang patut, layak, wajib disembah dan dipatuhi segala perintah-Nya dan dijauhi segala larangan-Nya. Semua perintah yang dia lakukan dan semua larangan yang dia tinggalkan berdasar karena pengetahuan yang benar dan meyakinkan dan karena keyakinan bahwa yang memerintahkannya adalah Dzat yang memiliki wewenang kuat. Jadi seorang muslim itu pasrah melaksanakan segala kewajiban itu bukan karena keterpaksaan atau ikut-ikutan tapi berdasarkan pemahaman dan kesadaran.
Akal ---> IQRA atau Deep Thinking ( membaca, menganalisis, merenung, berfikir, observasi dll ) ---> IMAN (Percaya yang menjadikannya aktif melakukan pemahaman terhadap objek yang diimani) ---> ISLAM ( Tunduk, patuh dan pasrah kerena telah meyakini adanya otoritas tunggal yang berhak untuk disembah dipatuhi ajaran-Nya dan dihindari larangan-Nya ).
Demikian alur tulisan sederhana pada kajian ini, semoga akal yang kita gunakan untuk melakukan IQRA akan menyampaikan kita pada kekuatan iman menuju kualitas Islam. Allahumanshurna Amin.. Wallahu a'lamu bishowab.
Selasa, 28 Desember 2010
Hablum Minallah dan Minannas ( Vertical and Horizontal Oriented)
By : Rijal Muhammad
Dalam surat Saba ayat 46, Allah menegaskan satu hal maha penting namun mencakup dua hal, Pertama, perintah untuk melaksanakan ibadah hanya untuk-Nya, kedua, berfikir. Dua hal tapi Allah nyatakan sebagai satu. Itu karena antara ibadah dan berfikir tak lain merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Beribadah misalnya, akan terasa hampa dan tak bermakna kalau yang melakukannya tidak tau kenapa,bagaimana dan untuk apa perintah itu dilakukan. Faktanya, nyaris banyak orang melakukan ibadah tapi sedikitpun mempengaruhi gaya hidupnya (ucapannya, tindakannya, pola pikirnya dll.).
Salah satu yang perlu untuk ditegaskan pada pernyataan seperti itu adalah upaya untuk memahami dengan baik hal-hal yang tersurat dan yang tersirat dari semua yang kita bisa baca (IQRA) dialam yang tercpta ini. Rasanya Allah swt sangat kreatif untuk menyatakan maksud dari semua titah dan ajaran-Nya tidak terbatas hanya pada yang terlihat saja.
Dalam tulisan ini, akan ditampilkan beberapa hal tersirat yang bisa diungkap dalam memhami kreasi Allah dalam menerapkan ajaran dan syariat-Nya. Apa yang diungkap ini adalah kesan yang sangat mendalam tentang upaya mensinergikan antara ibadah yang kita lakukan yang bersifat HABLUM MINALLAH (Vertical Oriented) dan HABLUM MINANNAS (Horizontal Oriented). Dua untaian sikap yang tidak bisa dipilih salahsatunya, namun harus dilaksanakan keduanya secara beriringan dan bersamaan.
Kesan-kesan yang bisa diungkap adalah :
1. Dalam al-Qur'an setiap pernyataan Keimanan selalu digandengkan dengan Amal Sholeh. Contoh, اللذين أمنوا selalu digandengkan عملوا الصالحات atau misalnya sapaan kepada orang beriman seperti ياأيها الذين أمنوا dilanjutkan dengan perintah tertentu yang notabenenya sebagai bentuk amal sholeh. Kita sudah maklum, bahwa ada maksud Allah yang bisa kita pelajari kalau setiap pernyataan itu selalu digandengkan dua hal yang tidak terpisah. Iman erat kaitannya dengan upaya merangkai hubungan mesra kita dengan-Nya sedangkan amal sholeh meski semua dilakukan demi dan karena-Nya namun tak bisa dipungkiri manfaatnya juga akan berimbas pada upaya menjalin keakraban dengan manusia. Iman kita perkuat sebagai vertical oriented kita dan amal sholeh sebagai horizontal oriented kita.
2. Masih dalam al-Qur'an. Setiap ada pernyataan perintah sholat selalu saja digandengkan dengan zakat. أقيموا الصلاة وأتوا الزكاة laksanakanlah sholat secara benar dan berkesinambungan dan hantarkanlah zakatnya. Sholat merupakan ibadah yang kita lakukan sebagai cara yang mesra untuk membangun kedekatan dan komunikasi yang intens dengan-Nya, orientasinya sangat erat sekali untuk membangun hubungan (vertical oriented) dengan-Nya. Sedangkan zakat sudah sangat jelas sekali orientasinya untuk membangun hubungan sosial yang dengan sesama manusia (horizontal oriented). Tak dinyana lagi bahwa Allah ingin agar kita mesra dengan-Nya dan akrab serta damai dengan sesama.
3. Belajar dari sholat. Sholat yang kita laksanakan itu sangat berbeda sekali dengan sholat yang dilaksanakan oleh ummat-ummat terdahulu. Lebih lengkap tepatnya. Rasanya ibadah yang satu ini akan tidak fair sekali kalau kita melihatnya sepi makna, terlebih itu -sholat- dilegalisasi melalui sebuah moment akbar yaitu Isra dan Mikraj. Hal kecil yang bisa diungkap terkait dengan masalah ini adalah bahwa sholat secara definisi berarti kegiatan berupa ucapan atau gerakan yang diawali dengan niat dan diakhiri dengan salam. Tidakkah kita memperhatikan, saat kita melakukan niat dibarengi dengan takbiratul ihram kita mengucap lafadz ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar) dengan sepenuhnya mengahadirkan jiwa serta pikiran kita kepada-Nya, konsentrasi dan khusyu' karena kita sedang akan berdialog dengan-Nya, saat itulah kita sedang merangkai HABLUM MNALLAH mengeratkan hubungan dengan-Nya. Sedangkan pada saat diakhir sholat, kita mengucapkan salam dengan menoleh kekanan dan kiri. ASSALAMU 'ALAIKUM semoga keselamatan dan kedamaian menyertaimu selalu. Ini bukan ucapan kosong belaka, Allah tidak perlu ucapan itu. Ucapan atau doa itu pasti diarahkan kepada sesama kita, minimal sekali kita memberikan doa keselamatan dan kedamaian kepada sesama. Praktek sholat seperti ini lagi-lagi mengajarkan kepada kita bahwa disamping kita menyerahkan kepasrahan untuk beribadah hanya kepada-Nya namun juga jangan melupakan untuk menimbulkan kepedulian secara aktif dengan sesama, karena kita tak bisa hidup sendiri dan butuh kebersamaan.
4. Isra dan Mi'raj. Isra artinya melakukan perjalanan dimalam hari sedangkan mi'raj berarti naik. Dipoint 3 telah disinggung bahwa moment isra mi'raj adalah moment dilegalkannya perintah sholat. Ternyata, dalam moment itupun, Allah SWT menyinggung dan menyiratkan tentang upaya menjalin Hablum Minallah dan Minannas. Saat isra dilakukan nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-aqsha. Pertanyaan yang tidak berlebihan juga untuk kita sampaikan, kenapa si tidak langsung saja naik menuju-Nya?. Ya.. kita bisa mengaitkan dengan pembahasan ini, bahwa disamping ada kebahagian yang maha tak terkira dengan terjadinya perjumpaan pemimpin agung Muhammad SAW dengan Allah Yang Maha Agung, ada juga keharusan berbagi kebahagiaan dengan sesama kita, keluarga, kerabat, tetangga dan mereka yang menjadi saudara kita seagama termasuk juga yang tidak seagama. Isra jelas kiranya sebagai bentuk kepedulian kita untuk menjalin kebahagiaan dengan sesama sedangkan mi'raj kesempatan maha besar bagi Muhammad SAW meraih kebahagiaan menjumpai Tuhan-nya. Itulah makna yang bisa dipetik dari pembahasan ini. Adalagi bukti yang ditunukkan oleh Muhammad SAW dalam mengajarkan kita tentang pembahasan ini, hablum minnnas terutama, kesediannya untuk turun dan menceritakan yang beliau dapat dan rasakan kepada ummat. Karena pertanyaan subjektif bisa saja kita katakan, untuk apa Muhammad SAW turun lagi kedunia kalau kenikmatan tertinggi telah diraih? Ah... rasanya karna Pemimpin agung itu ingin berbagi kebahagiaan dengan kita sebagai ummatnya.
5. Qurban. Adalagi yang kita bisa tangkap dari perintah melakukan qurban. Qurban berasal dari kata qaraba yang berarti dekat. menggunakan wazan FU'LAN memiliki makna kedekatan yang sempurna. Sama seperti kata QUR'AN yang berarti bacaan yang sempurna, SUBHAN kesucian yang sempurna. Kata sempurna yang menempel pada kata dekat -qurban- memiliki makna bahwa pada saat kita melakukan ibadah itu memiliki kesempurnaan dalam merangkai HABLUM MINALLAH antara kita (hamba) dengan Allah dan HABLUM MINANNAS antar seama. Dimana letaknya... saat kita menyemblih hewan kurban yang akan sampai kepada-Nya adalah bukan darah atau daging kurban itu tapi dasar ketaqwaan kita yang kita persembahkan. Allah itu maha suci (fitrah). Manusia terlahir dalam kondisi fitrah, tugas terberatnya adalah menjaga, melakukan amalan yang fitri dan mempertahankannya hingga mautnya datang. Saat manusia mempertahankan nilai-nilai fitrinya seperti belas kasih dengan sesama bahkan kesemua alam, membumikan kebenaran, kejujuran, keadilan dan sterusnya maka sifat-sifat itulah yang melandasi kita disbut taqwa. Maka pada saat kita berkurban kita sedang memperjuankan sifat itu sekaligus menyemblih antonim dari sifat itu, kebohongan, keangkuhan, kedzoliman dan sterusnya. Maka qurban tak lain dari pengejawantahan sifat dan sikap kita dalam membina kedekatan dengan Allah SWT (vertical oriented). Adapun sisi horizontal orientednya sudah tidak bisa disangsikan lagi, karena daging serta semua sesemblihan kurban itu akan didistribusikan untuk semua saudara kita, saudara seagama dan saudara sekemanusiaan.
Rasanya banyak sekali yang bisa kita paparkan dalam mengungkap pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah dan hubungan dengan manusia dengan aneka bentuk amal dan kepedulian. Bahkan nyaris semua bentuk ibadah yang kita lakukan memilki filosofi yang sama dengan 5 point pembahasan diatas. Inilah pentingnya bagi kita untuk memahami, menghayati dan tentunya mengamalkan kandungan hikmah tersebut. Allah menyatakan dalam surat Ali Imran ayat 112 bahwa yang tidak melaksanakan kedua hal tersebut -HABLUM MINALLAH & MINANNAS- akan merasakan dua hal ; DZILLAH (kehinaan) dan MASKANAH (kemiskinan/kekurangan). Dengan ini, Allah SWT ingin menajdikan kita sebagai pribadi yang sholeh ritual dan soleh sosial. Semoga...
Dalam surat Saba ayat 46, Allah menegaskan satu hal maha penting namun mencakup dua hal, Pertama, perintah untuk melaksanakan ibadah hanya untuk-Nya, kedua, berfikir. Dua hal tapi Allah nyatakan sebagai satu. Itu karena antara ibadah dan berfikir tak lain merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah. Beribadah misalnya, akan terasa hampa dan tak bermakna kalau yang melakukannya tidak tau kenapa,bagaimana dan untuk apa perintah itu dilakukan. Faktanya, nyaris banyak orang melakukan ibadah tapi sedikitpun mempengaruhi gaya hidupnya (ucapannya, tindakannya, pola pikirnya dll.).
Salah satu yang perlu untuk ditegaskan pada pernyataan seperti itu adalah upaya untuk memahami dengan baik hal-hal yang tersurat dan yang tersirat dari semua yang kita bisa baca (IQRA) dialam yang tercpta ini. Rasanya Allah swt sangat kreatif untuk menyatakan maksud dari semua titah dan ajaran-Nya tidak terbatas hanya pada yang terlihat saja.
Dalam tulisan ini, akan ditampilkan beberapa hal tersirat yang bisa diungkap dalam memhami kreasi Allah dalam menerapkan ajaran dan syariat-Nya. Apa yang diungkap ini adalah kesan yang sangat mendalam tentang upaya mensinergikan antara ibadah yang kita lakukan yang bersifat HABLUM MINALLAH (Vertical Oriented) dan HABLUM MINANNAS (Horizontal Oriented). Dua untaian sikap yang tidak bisa dipilih salahsatunya, namun harus dilaksanakan keduanya secara beriringan dan bersamaan.
Kesan-kesan yang bisa diungkap adalah :
1. Dalam al-Qur'an setiap pernyataan Keimanan selalu digandengkan dengan Amal Sholeh. Contoh, اللذين أمنوا selalu digandengkan عملوا الصالحات atau misalnya sapaan kepada orang beriman seperti ياأيها الذين أمنوا dilanjutkan dengan perintah tertentu yang notabenenya sebagai bentuk amal sholeh. Kita sudah maklum, bahwa ada maksud Allah yang bisa kita pelajari kalau setiap pernyataan itu selalu digandengkan dua hal yang tidak terpisah. Iman erat kaitannya dengan upaya merangkai hubungan mesra kita dengan-Nya sedangkan amal sholeh meski semua dilakukan demi dan karena-Nya namun tak bisa dipungkiri manfaatnya juga akan berimbas pada upaya menjalin keakraban dengan manusia. Iman kita perkuat sebagai vertical oriented kita dan amal sholeh sebagai horizontal oriented kita.
2. Masih dalam al-Qur'an. Setiap ada pernyataan perintah sholat selalu saja digandengkan dengan zakat. أقيموا الصلاة وأتوا الزكاة laksanakanlah sholat secara benar dan berkesinambungan dan hantarkanlah zakatnya. Sholat merupakan ibadah yang kita lakukan sebagai cara yang mesra untuk membangun kedekatan dan komunikasi yang intens dengan-Nya, orientasinya sangat erat sekali untuk membangun hubungan (vertical oriented) dengan-Nya. Sedangkan zakat sudah sangat jelas sekali orientasinya untuk membangun hubungan sosial yang dengan sesama manusia (horizontal oriented). Tak dinyana lagi bahwa Allah ingin agar kita mesra dengan-Nya dan akrab serta damai dengan sesama.
3. Belajar dari sholat. Sholat yang kita laksanakan itu sangat berbeda sekali dengan sholat yang dilaksanakan oleh ummat-ummat terdahulu. Lebih lengkap tepatnya. Rasanya ibadah yang satu ini akan tidak fair sekali kalau kita melihatnya sepi makna, terlebih itu -sholat- dilegalisasi melalui sebuah moment akbar yaitu Isra dan Mikraj. Hal kecil yang bisa diungkap terkait dengan masalah ini adalah bahwa sholat secara definisi berarti kegiatan berupa ucapan atau gerakan yang diawali dengan niat dan diakhiri dengan salam. Tidakkah kita memperhatikan, saat kita melakukan niat dibarengi dengan takbiratul ihram kita mengucap lafadz ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar) dengan sepenuhnya mengahadirkan jiwa serta pikiran kita kepada-Nya, konsentrasi dan khusyu' karena kita sedang akan berdialog dengan-Nya, saat itulah kita sedang merangkai HABLUM MNALLAH mengeratkan hubungan dengan-Nya. Sedangkan pada saat diakhir sholat, kita mengucapkan salam dengan menoleh kekanan dan kiri. ASSALAMU 'ALAIKUM semoga keselamatan dan kedamaian menyertaimu selalu. Ini bukan ucapan kosong belaka, Allah tidak perlu ucapan itu. Ucapan atau doa itu pasti diarahkan kepada sesama kita, minimal sekali kita memberikan doa keselamatan dan kedamaian kepada sesama. Praktek sholat seperti ini lagi-lagi mengajarkan kepada kita bahwa disamping kita menyerahkan kepasrahan untuk beribadah hanya kepada-Nya namun juga jangan melupakan untuk menimbulkan kepedulian secara aktif dengan sesama, karena kita tak bisa hidup sendiri dan butuh kebersamaan.
4. Isra dan Mi'raj. Isra artinya melakukan perjalanan dimalam hari sedangkan mi'raj berarti naik. Dipoint 3 telah disinggung bahwa moment isra mi'raj adalah moment dilegalkannya perintah sholat. Ternyata, dalam moment itupun, Allah SWT menyinggung dan menyiratkan tentang upaya menjalin Hablum Minallah dan Minannas. Saat isra dilakukan nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-aqsha. Pertanyaan yang tidak berlebihan juga untuk kita sampaikan, kenapa si tidak langsung saja naik menuju-Nya?. Ya.. kita bisa mengaitkan dengan pembahasan ini, bahwa disamping ada kebahagian yang maha tak terkira dengan terjadinya perjumpaan pemimpin agung Muhammad SAW dengan Allah Yang Maha Agung, ada juga keharusan berbagi kebahagiaan dengan sesama kita, keluarga, kerabat, tetangga dan mereka yang menjadi saudara kita seagama termasuk juga yang tidak seagama. Isra jelas kiranya sebagai bentuk kepedulian kita untuk menjalin kebahagiaan dengan sesama sedangkan mi'raj kesempatan maha besar bagi Muhammad SAW meraih kebahagiaan menjumpai Tuhan-nya. Itulah makna yang bisa dipetik dari pembahasan ini. Adalagi bukti yang ditunukkan oleh Muhammad SAW dalam mengajarkan kita tentang pembahasan ini, hablum minnnas terutama, kesediannya untuk turun dan menceritakan yang beliau dapat dan rasakan kepada ummat. Karena pertanyaan subjektif bisa saja kita katakan, untuk apa Muhammad SAW turun lagi kedunia kalau kenikmatan tertinggi telah diraih? Ah... rasanya karna Pemimpin agung itu ingin berbagi kebahagiaan dengan kita sebagai ummatnya.
5. Qurban. Adalagi yang kita bisa tangkap dari perintah melakukan qurban. Qurban berasal dari kata qaraba yang berarti dekat. menggunakan wazan FU'LAN memiliki makna kedekatan yang sempurna. Sama seperti kata QUR'AN yang berarti bacaan yang sempurna, SUBHAN kesucian yang sempurna. Kata sempurna yang menempel pada kata dekat -qurban- memiliki makna bahwa pada saat kita melakukan ibadah itu memiliki kesempurnaan dalam merangkai HABLUM MINALLAH antara kita (hamba) dengan Allah dan HABLUM MINANNAS antar seama. Dimana letaknya... saat kita menyemblih hewan kurban yang akan sampai kepada-Nya adalah bukan darah atau daging kurban itu tapi dasar ketaqwaan kita yang kita persembahkan. Allah itu maha suci (fitrah). Manusia terlahir dalam kondisi fitrah, tugas terberatnya adalah menjaga, melakukan amalan yang fitri dan mempertahankannya hingga mautnya datang. Saat manusia mempertahankan nilai-nilai fitrinya seperti belas kasih dengan sesama bahkan kesemua alam, membumikan kebenaran, kejujuran, keadilan dan sterusnya maka sifat-sifat itulah yang melandasi kita disbut taqwa. Maka pada saat kita berkurban kita sedang memperjuankan sifat itu sekaligus menyemblih antonim dari sifat itu, kebohongan, keangkuhan, kedzoliman dan sterusnya. Maka qurban tak lain dari pengejawantahan sifat dan sikap kita dalam membina kedekatan dengan Allah SWT (vertical oriented). Adapun sisi horizontal orientednya sudah tidak bisa disangsikan lagi, karena daging serta semua sesemblihan kurban itu akan didistribusikan untuk semua saudara kita, saudara seagama dan saudara sekemanusiaan.
Rasanya banyak sekali yang bisa kita paparkan dalam mengungkap pentingnya membangun hubungan dengan Allah melalui ibadah dan hubungan dengan manusia dengan aneka bentuk amal dan kepedulian. Bahkan nyaris semua bentuk ibadah yang kita lakukan memilki filosofi yang sama dengan 5 point pembahasan diatas. Inilah pentingnya bagi kita untuk memahami, menghayati dan tentunya mengamalkan kandungan hikmah tersebut. Allah menyatakan dalam surat Ali Imran ayat 112 bahwa yang tidak melaksanakan kedua hal tersebut -HABLUM MINALLAH & MINANNAS- akan merasakan dua hal ; DZILLAH (kehinaan) dan MASKANAH (kemiskinan/kekurangan). Dengan ini, Allah SWT ingin menajdikan kita sebagai pribadi yang sholeh ritual dan soleh sosial. Semoga...
Senin, 06 September 2010
Keberpasangan (Jodoh) 2
Subhananllah.. Demikian memang yang bisa diucapkan kalau sudah berbicara tentang jodoh. Jodoh -sekali lagi- tidak berformula sebagai idealisme kita juga tidak bisa dirasionalisasi. Jodoh adalah sesuatu yang PAS dan berkesesuaian dengan pribadi kita.
Banyak sahabat yang memiliki jalan beragam dan unik dalam menemukan belahan jiwanya itu. Dari yang sangat mudah hingga yang sangat berliku dan panjang, dari cara yang sederhana dan tidak diduga hingga ada yang prustasi sehingga "banting harga" dan beragam cara unik lainnya yang Dia kreasi secara berbeda bagi setiap hamba-Nya.
Berikut ini adalah sepenggal kisah anak manusia dalam upaya memaparkan rencana-Nya yang terkait dengan perjalanan panjangnya menemukan belahan jiwanya..
Dia terlahir dari keluarga yang religius. Dari lahir hingga besar berada pada lingkungan yang semakin mengokohkan jiwa dan prinsip keagamaannya. Ada satu kondisi yang dia tidak manfaatkan lazimnya remaja dan pemuda seusianya. Nongkrong, pacaran, clubbing, ngetrek, nonton dibioskop dan sejenisnyalah.. hingga satu saat dimana ia sudah merasa perlu dan butuh untuk memiliki pasangan hidupnya, dia mulai agak kesulitan dari mana mulainya karena dia tidak banyak memiliki refrensi kawan perempuannya.
Berfikirlah dia untuk mulai menjalin sosialisasi yang lebih luas sambil berharap semoga bisa menemukannya seiring dengan berjalannya waktu. Tibalah dia pada pelajaran pertama saat seorang kawan beruasaha ingin mempertemukan dengan seorang gadis. Perempuan yang sebaya dengannya, satu profesi penganbdian, berasal dari keluarga yang harmonis. Tapi.. entahlah apa ini yang disebut naif, katro atau apalah.. sang perjaka tak bersambut aktif padahal hati kecilnya bilang " sepertinya yang ini ndak masalah ". Mungkin sang perjaka masih belum "panas" untuk bergaul dengan lawan jenisnya apalagi kalau udah bicara rencana berumah tangga. Hingga suatu saat- setelah berselang sekian lama- ada keberanian yang timbul untuk mengungkapkan perasaan yang ada dan berupaya menindaklanjut informasi kawannya itu. Namun siapa nyangka kalau sang gadis baru saja didatengi lelaki lain yang sudah siap untuk menikahinya. Apa yang terjadi.. sebuah kondisi yang tidak siap dia alami karena belum memiliki kesiapan mental yang cukup sampai menelantarkan hak-hak tubuhnya. Dalam kegelisahan dan kegamangannya dia berusaha untuk menenagkan diri dan berusaha mencari hikmah dibalik semua itu.
Pelajaran kedua terjadi disaat berupaya untuk melupakan dan mengubur kejadian itu, dengan mengirimkan sebuah surat pernyataan keseriusan pada seorang wanita masih dengan profesi yang sama, kepribadian yang bersahaja dan dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi siapa yang bisa menduga kalau kejadian pertama nyaris terulang kembali.. ternyata sang gadis pun baru saja didatengi oleh sang lelaki yang siap menikahinya. Ohh,, pelajaran yang sangat mirip dalam jangka waktu yang tidak lama. Kondisi ini membuat dirinya seperti kejadian pertama namun sudah lebih "tahan" karena pernah mengalaminya.
Pelajaran ketiga pun dimulai dengan semangat hijrah memperbaiki keadaan. Tersebutlah seorang wanita yang menurut informasinya adalah seorang yang perfect. Berwajah ayu, tubuh semampai, prilaku yang istiqomah pada nilai-nilai luhur. Tapi data itu dia dapet melalui dengar bukan karena dia sudah tahu. Mulailah perkenalan terjadi dibantu seorang kawan untuk menjadi penghubungnya. Komunikasi pun terjadi meski hanya melalui sms. Saat keduanya sudah mulai menjalin asa, terciumlah gelagat hubungan ini oleh kakak sang perempuan yang berprofesi sebagai seorang polisi. Sang kakak berasumsi bahwa hubungan itu tidak layak diteruskan karena menurut pandangannya sudah ada yang salah diawalnya. Keduanyapun akhirnya tanpa ada keputusan mengakhiri komunikasi tanpa ada kejelasan. Upaya untuk mempertemukannyapun dilakukan namun tida pernah terlihat titik terangnya sehingga hubungan itupun kandas begitu saja. Lagi... lagi dan lagi kejadian gagal menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Entahlah apa yang ada dalam pikiran sang perjaka. Tapi dari tingkah dan ucapannya dia pernah membawa-bawa nama Tuhan dengan melontarkan pertanyaan " Apa si yang Tuhan mau untuk saya? ", '" Ko engga tega-teganya Dia memberikan pelajaran seperti ini berturut-turut dan berkali-kali ? ", " mao sampe berapa kali Dia akan memberi ujian seperti ini lagi..?. Demikian nada protes dan pertanyaan yang menohok yang dikhitabkan kepada Tuhannya.
Sambil merenung, dia berupaya memahami mungkin harus mencari sosok perempuan dari kepribadian yang berbeda yang tidak se profesi. Pelajaran yang keempat pun datang. Dia ditawari oleh sang guru seorang perempuan -masih familinya- yang berbeda profesi, latar belakang keluarga juga pendidikannya. Terjadilah pertemuan keduanya. Obrolan panjang lebar pun terjadi, namun chemistry belum terasa terutama bagi sang perjaka. Entah apa lagi yang dia rasakan dalam hatinya sehingga belum mempunyai rasa dengan wanita itu.. ternyata hanya kekurangpercayaan dirinya karena sang wanita tampak sangat dewasa. Dia cuma merasa khawatir tidak bisa menjadi imam yang baik karena sang wanita tampil lebih dewasa. Sudah bisa menerka kan apa yang terjadi? Ya... hubungan itu pun tak berlanjut dengan kondisi yang membuat semua pihak jadi merasa bersalah.
Sang perjaka tak henti-hentinya menganalisa kejadian-demi kejadian yang dialaminya. Masih tetap mempertanyakan Tuhannya, dia pun kembali ubah orientasi dan cara berpijaknya. Dia lebih mendekatkan dirinya pada Tuhannya, istikharah pun dilakukan. Dalam upaya beristikharah itu, dia merasa ada sosok seorang perempuan yang begitu kuat yang terbayang dalam hati dan pikirannya. Dia pun mulai menganggap bahwa mungkin wanita ini adalah yang Tuhan ciptakan untuknya. Tapi dia merasa begitu tidak percayanya, karena wanita tersebut tak lain adalah siswi didiknya. Semua pikiran yang menghadanyanya pun ditepisnya dengan dalih ini yang ditentukan Tuhan untuknya. Seorang wanita yatim dengan postur tubuh agak bongsor, berkepribadian pendiam, keras bahkan sulit ditebak jalan pikirannya. Dia berasal dari keluarga sangat sederhana tinggal bersama seorang ibu, adik dan beberapa kakak yang berasal dari lain ayah. Maju.. demikian tindakan yang dia lakukan untuk mendapatkannya. Datanglah dia menemui ibunya untuk memohon restu agar dizinkan menjalin hubungan dengan anaknya. Meski ada sifat terkejut tapi sang ibu berusaha memahami maksud baik sang perjaka sehingga restupun diperolehnya. Berlanjutlah dia pada bagaimana menyampaikan maksud kepada wanita itu yang notabenenya sebagi murid. Niatpun disampaikan, reaksi kaget tak percaya dirasakan oleh sang wanita. Tapi dari awal reaksi dan pernyataannyapun tidak memberikan jawaban yang diharapkan sang perjaka. Dia tetap berusaha untuk mendapatkannya. Langkah ekstrimpun dilakukan dengan melamarnya dan mengikatnya dengan sebuah cincin. Namun bukan kedekatan dan keakraban yang terjadi, malah konflik dan masalah yang datang bertubi-tubi. Sang wanita tidak merasa nyaman kalau masa remajanya dikungkung dengan sebuah ikatan. Upaya pun dilakukan agar meredam problema yang timbul setelah proses lamaran itu dengan tujuan menjaga nama baik keluarga masing-masing. Namun semakin lama semakin tidak jelas bahkan saat memasuki masa kelulusannya pun belum ada jawaban pasti yang diberikannya. Sang perjaka habis sudah terkuras tenaga, pikirannya karena menunggu sesuatu yang tidak pasti. Hubunganpun putus...
Dalam pada itu, lagi-lagi dia mempertanyakan secara keras bahwa " Tuhan maunya apa si, sampai istikarah yang menjadi syariat-Nya pun tidak menjamin keberhasilan dalam menemukan pasangan hidupnya..". sebuah keadaan yang bisa dibilang membuat sang perjaka kehilangan gairah untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Diapun akhirnya hanya pasrah sambil berharap semoga Tuhan mau berbelas kasih.
Pelajaran selanjutnya pun terjadi. Setelah tidak berlanjut dengan sang murid, ada bagian dari keluarga menginformasikan tentang seorang wanita yang sedang mencari pendamping hidup. Proses perkenalanpun terjadi. Namun hanya berselang dua hari disaat sang pria ingin mengkonfirmasi, sang wanitapun memberi khabar bahwa ada seorang lelaki yang pernah datang melakukan taaruf dengannya dan esoknya berencana untuk melamarnya. Perasaan sedih dan terpukul kembali menghantam hati dan jiwa sang perjaka. Dia berfikir sampai kondisi pasrah pun masih salah dalam mencari pasangan.
Dengan kondisi yang sangat tidak menentu, datanglah seorang pemuka yang ingin menawarkan seorang wanita yang menurutnya memiliki kafaah dari sisi pendidikannya. Singkat cerita, terjadilah komunikasi. Kedua belah pihak keluargapun tak ada yang tidak menyetujui hubungan itu. Tapi dibalik kebahagiaan dua keluarga itu ada masalah krusial yang menghadang... yaitu bahwa sang wanita dengan alasan yang tak jelas tidak bisa menerima maksud dan tujuan sang perjaka. Sehingga komunikasipun tak berlanjut masih dengan meninggalkan kesan merasa bersalah bagi masing-masing keluarga.
Usia mulai masuk kepala tiga... ekspektasi dan obsesi melewat jauh.. tapi masih tetap ada asa untuk kembali menemukan siapa sebetulnya wanita yang betul-betuldiciptakan Tuhan untuknya. Biarlah asa berjalan seiring berputarnya waktu. Hingga suatu waktu, ada seorang sahabat yang berusaha merekayasa fakta dan berita bahwa sang perjaka ingin melamar anak dari salah seorang keluarga sahabat itu. Tak ayal lagi, informasi rekayasa itu langsung disampaikan kepada yang terkait, dan tanpa panjang cerita, sang wanita yang menjadi Korban Informasi itu berhusnudzon dengan menerima perjaka itu. Sang perjaka hanya geleng kepala, ko bisa terjadi keadaan seperti itu.
Akhirnya hubungan antara sang perjaka dengan siwanita pun berlangsung, bahkan pembicaraanpu menjurus ke hal-hal yang lebih serius dan endingnya mereka menetukan hari kebahagiaan mereka dengan situasi yang sebetulnya menimbulkan banyak tanda tanya. Ko bisa si?
Demikian sepenggal kisah kehidupan seorang anak manusia yang bergelut dengan pemikiran, kenyataan hidup, namun tetap melibatkan Tuhannya dalam mencari dan menemukan pasangan hidupnya, belahan jiwanya yang akan berbagi dalam suasana senang dan susah. Tuhan memang sangat kaya dengan cara-Nya mempertemukan dua lawa jenis yang ingin bersatu dalam kebersaman dengan naungan ridho dan rahmat-Nya. Subhanallah, DiaYang Maha Memberi Pelajaran bagi setiap hamba-Nya yang mau berfikir.
Banyak sahabat yang memiliki jalan beragam dan unik dalam menemukan belahan jiwanya itu. Dari yang sangat mudah hingga yang sangat berliku dan panjang, dari cara yang sederhana dan tidak diduga hingga ada yang prustasi sehingga "banting harga" dan beragam cara unik lainnya yang Dia kreasi secara berbeda bagi setiap hamba-Nya.
Berikut ini adalah sepenggal kisah anak manusia dalam upaya memaparkan rencana-Nya yang terkait dengan perjalanan panjangnya menemukan belahan jiwanya..
Dia terlahir dari keluarga yang religius. Dari lahir hingga besar berada pada lingkungan yang semakin mengokohkan jiwa dan prinsip keagamaannya. Ada satu kondisi yang dia tidak manfaatkan lazimnya remaja dan pemuda seusianya. Nongkrong, pacaran, clubbing, ngetrek, nonton dibioskop dan sejenisnyalah.. hingga satu saat dimana ia sudah merasa perlu dan butuh untuk memiliki pasangan hidupnya, dia mulai agak kesulitan dari mana mulainya karena dia tidak banyak memiliki refrensi kawan perempuannya.
Berfikirlah dia untuk mulai menjalin sosialisasi yang lebih luas sambil berharap semoga bisa menemukannya seiring dengan berjalannya waktu. Tibalah dia pada pelajaran pertama saat seorang kawan beruasaha ingin mempertemukan dengan seorang gadis. Perempuan yang sebaya dengannya, satu profesi penganbdian, berasal dari keluarga yang harmonis. Tapi.. entahlah apa ini yang disebut naif, katro atau apalah.. sang perjaka tak bersambut aktif padahal hati kecilnya bilang " sepertinya yang ini ndak masalah ". Mungkin sang perjaka masih belum "panas" untuk bergaul dengan lawan jenisnya apalagi kalau udah bicara rencana berumah tangga. Hingga suatu saat- setelah berselang sekian lama- ada keberanian yang timbul untuk mengungkapkan perasaan yang ada dan berupaya menindaklanjut informasi kawannya itu. Namun siapa nyangka kalau sang gadis baru saja didatengi lelaki lain yang sudah siap untuk menikahinya. Apa yang terjadi.. sebuah kondisi yang tidak siap dia alami karena belum memiliki kesiapan mental yang cukup sampai menelantarkan hak-hak tubuhnya. Dalam kegelisahan dan kegamangannya dia berusaha untuk menenagkan diri dan berusaha mencari hikmah dibalik semua itu.
Pelajaran kedua terjadi disaat berupaya untuk melupakan dan mengubur kejadian itu, dengan mengirimkan sebuah surat pernyataan keseriusan pada seorang wanita masih dengan profesi yang sama, kepribadian yang bersahaja dan dari keluarga yang sangat sederhana. Tapi siapa yang bisa menduga kalau kejadian pertama nyaris terulang kembali.. ternyata sang gadis pun baru saja didatengi oleh sang lelaki yang siap menikahinya. Ohh,, pelajaran yang sangat mirip dalam jangka waktu yang tidak lama. Kondisi ini membuat dirinya seperti kejadian pertama namun sudah lebih "tahan" karena pernah mengalaminya.
Pelajaran ketiga pun dimulai dengan semangat hijrah memperbaiki keadaan. Tersebutlah seorang wanita yang menurut informasinya adalah seorang yang perfect. Berwajah ayu, tubuh semampai, prilaku yang istiqomah pada nilai-nilai luhur. Tapi data itu dia dapet melalui dengar bukan karena dia sudah tahu. Mulailah perkenalan terjadi dibantu seorang kawan untuk menjadi penghubungnya. Komunikasi pun terjadi meski hanya melalui sms. Saat keduanya sudah mulai menjalin asa, terciumlah gelagat hubungan ini oleh kakak sang perempuan yang berprofesi sebagai seorang polisi. Sang kakak berasumsi bahwa hubungan itu tidak layak diteruskan karena menurut pandangannya sudah ada yang salah diawalnya. Keduanyapun akhirnya tanpa ada keputusan mengakhiri komunikasi tanpa ada kejelasan. Upaya untuk mempertemukannyapun dilakukan namun tida pernah terlihat titik terangnya sehingga hubungan itupun kandas begitu saja. Lagi... lagi dan lagi kejadian gagal menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Entahlah apa yang ada dalam pikiran sang perjaka. Tapi dari tingkah dan ucapannya dia pernah membawa-bawa nama Tuhan dengan melontarkan pertanyaan " Apa si yang Tuhan mau untuk saya? ", '" Ko engga tega-teganya Dia memberikan pelajaran seperti ini berturut-turut dan berkali-kali ? ", " mao sampe berapa kali Dia akan memberi ujian seperti ini lagi..?. Demikian nada protes dan pertanyaan yang menohok yang dikhitabkan kepada Tuhannya.
Sambil merenung, dia berupaya memahami mungkin harus mencari sosok perempuan dari kepribadian yang berbeda yang tidak se profesi. Pelajaran yang keempat pun datang. Dia ditawari oleh sang guru seorang perempuan -masih familinya- yang berbeda profesi, latar belakang keluarga juga pendidikannya. Terjadilah pertemuan keduanya. Obrolan panjang lebar pun terjadi, namun chemistry belum terasa terutama bagi sang perjaka. Entah apa lagi yang dia rasakan dalam hatinya sehingga belum mempunyai rasa dengan wanita itu.. ternyata hanya kekurangpercayaan dirinya karena sang wanita tampak sangat dewasa. Dia cuma merasa khawatir tidak bisa menjadi imam yang baik karena sang wanita tampil lebih dewasa. Sudah bisa menerka kan apa yang terjadi? Ya... hubungan itu pun tak berlanjut dengan kondisi yang membuat semua pihak jadi merasa bersalah.
Sang perjaka tak henti-hentinya menganalisa kejadian-demi kejadian yang dialaminya. Masih tetap mempertanyakan Tuhannya, dia pun kembali ubah orientasi dan cara berpijaknya. Dia lebih mendekatkan dirinya pada Tuhannya, istikharah pun dilakukan. Dalam upaya beristikharah itu, dia merasa ada sosok seorang perempuan yang begitu kuat yang terbayang dalam hati dan pikirannya. Dia pun mulai menganggap bahwa mungkin wanita ini adalah yang Tuhan ciptakan untuknya. Tapi dia merasa begitu tidak percayanya, karena wanita tersebut tak lain adalah siswi didiknya. Semua pikiran yang menghadanyanya pun ditepisnya dengan dalih ini yang ditentukan Tuhan untuknya. Seorang wanita yatim dengan postur tubuh agak bongsor, berkepribadian pendiam, keras bahkan sulit ditebak jalan pikirannya. Dia berasal dari keluarga sangat sederhana tinggal bersama seorang ibu, adik dan beberapa kakak yang berasal dari lain ayah. Maju.. demikian tindakan yang dia lakukan untuk mendapatkannya. Datanglah dia menemui ibunya untuk memohon restu agar dizinkan menjalin hubungan dengan anaknya. Meski ada sifat terkejut tapi sang ibu berusaha memahami maksud baik sang perjaka sehingga restupun diperolehnya. Berlanjutlah dia pada bagaimana menyampaikan maksud kepada wanita itu yang notabenenya sebagi murid. Niatpun disampaikan, reaksi kaget tak percaya dirasakan oleh sang wanita. Tapi dari awal reaksi dan pernyataannyapun tidak memberikan jawaban yang diharapkan sang perjaka. Dia tetap berusaha untuk mendapatkannya. Langkah ekstrimpun dilakukan dengan melamarnya dan mengikatnya dengan sebuah cincin. Namun bukan kedekatan dan keakraban yang terjadi, malah konflik dan masalah yang datang bertubi-tubi. Sang wanita tidak merasa nyaman kalau masa remajanya dikungkung dengan sebuah ikatan. Upaya pun dilakukan agar meredam problema yang timbul setelah proses lamaran itu dengan tujuan menjaga nama baik keluarga masing-masing. Namun semakin lama semakin tidak jelas bahkan saat memasuki masa kelulusannya pun belum ada jawaban pasti yang diberikannya. Sang perjaka habis sudah terkuras tenaga, pikirannya karena menunggu sesuatu yang tidak pasti. Hubunganpun putus...
Dalam pada itu, lagi-lagi dia mempertanyakan secara keras bahwa " Tuhan maunya apa si, sampai istikarah yang menjadi syariat-Nya pun tidak menjamin keberhasilan dalam menemukan pasangan hidupnya..". sebuah keadaan yang bisa dibilang membuat sang perjaka kehilangan gairah untuk menjalin hubungan dengan perempuan. Diapun akhirnya hanya pasrah sambil berharap semoga Tuhan mau berbelas kasih.
Pelajaran selanjutnya pun terjadi. Setelah tidak berlanjut dengan sang murid, ada bagian dari keluarga menginformasikan tentang seorang wanita yang sedang mencari pendamping hidup. Proses perkenalanpun terjadi. Namun hanya berselang dua hari disaat sang pria ingin mengkonfirmasi, sang wanitapun memberi khabar bahwa ada seorang lelaki yang pernah datang melakukan taaruf dengannya dan esoknya berencana untuk melamarnya. Perasaan sedih dan terpukul kembali menghantam hati dan jiwa sang perjaka. Dia berfikir sampai kondisi pasrah pun masih salah dalam mencari pasangan.
Dengan kondisi yang sangat tidak menentu, datanglah seorang pemuka yang ingin menawarkan seorang wanita yang menurutnya memiliki kafaah dari sisi pendidikannya. Singkat cerita, terjadilah komunikasi. Kedua belah pihak keluargapun tak ada yang tidak menyetujui hubungan itu. Tapi dibalik kebahagiaan dua keluarga itu ada masalah krusial yang menghadang... yaitu bahwa sang wanita dengan alasan yang tak jelas tidak bisa menerima maksud dan tujuan sang perjaka. Sehingga komunikasipun tak berlanjut masih dengan meninggalkan kesan merasa bersalah bagi masing-masing keluarga.
Usia mulai masuk kepala tiga... ekspektasi dan obsesi melewat jauh.. tapi masih tetap ada asa untuk kembali menemukan siapa sebetulnya wanita yang betul-betuldiciptakan Tuhan untuknya. Biarlah asa berjalan seiring berputarnya waktu. Hingga suatu waktu, ada seorang sahabat yang berusaha merekayasa fakta dan berita bahwa sang perjaka ingin melamar anak dari salah seorang keluarga sahabat itu. Tak ayal lagi, informasi rekayasa itu langsung disampaikan kepada yang terkait, dan tanpa panjang cerita, sang wanita yang menjadi Korban Informasi itu berhusnudzon dengan menerima perjaka itu. Sang perjaka hanya geleng kepala, ko bisa terjadi keadaan seperti itu.
Akhirnya hubungan antara sang perjaka dengan siwanita pun berlangsung, bahkan pembicaraanpu menjurus ke hal-hal yang lebih serius dan endingnya mereka menetukan hari kebahagiaan mereka dengan situasi yang sebetulnya menimbulkan banyak tanda tanya. Ko bisa si?
Demikian sepenggal kisah kehidupan seorang anak manusia yang bergelut dengan pemikiran, kenyataan hidup, namun tetap melibatkan Tuhannya dalam mencari dan menemukan pasangan hidupnya, belahan jiwanya yang akan berbagi dalam suasana senang dan susah. Tuhan memang sangat kaya dengan cara-Nya mempertemukan dua lawa jenis yang ingin bersatu dalam kebersaman dengan naungan ridho dan rahmat-Nya. Subhanallah, DiaYang Maha Memberi Pelajaran bagi setiap hamba-Nya yang mau berfikir.
Langganan:
Postingan (Atom)
