Minggu, 30 Desember 2012
Perayaan Tahun Baru MUHARRAM dan HIJRIYAH
By : Rijal Muhammad
Senin, 03 Desember 2012
IBU Memang SEKOLAH Pertama
By : Rijal Muhammad
Ada sebuah pepatah Arab yang menyatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama. Sekolah pertama tentunya bagi anak-anaknya yang dirawat dan dididiknya hingga mereka betulan masuk ke sekolah formal. Judul tulisan ini memang terispirasi dari pengamatan sederhana penulis tentang prilaku beberapa anak, baik itu prilaku baik maupun buruknya, yang terpengaruh dengan pola asuh dalam lingkungan keluarganya. Keluarga yang harmonis, penuh dengan perhatian antara anak dengan orang tua begitu juga sebaliknya, serta kepedulian dan ketegasan orang tua menyangkut hak, kewajiban serta kebutuhan anak, akan memberikan dampak positif yang tidak diraih oleh keluarga yang mengabaikan point-point tersebut.
Jika ibu diibaratkan sekolah bagi putra putrinya, berarti ia merupakan wadah sekaligus guru (murabbiyah) bagi mereka. Istilah murabbiyah tidak hanya berkonotasi pada pengajaran hal-hal baru pada anak yang terkait dengan ilmu dan pengetahuan, namun lebih jauh dari itu seorang murabbiyah juga akan mengajarkan kepadanya hal-hal yang patut atau tidak, benar atau salah, memberikan pengarahan tentang apa yang wajar untuk dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan, meninggalkan untuk memberikan sesuatu yang baik buatnya karena belum tepat masanya. Intinya seorang murabbiyah akan berkonsentrasi pada pembimbingan moral, karakter, kepribadian positif pada putra putrinya yang diharapkan akan menjadi kebiasaan kemudian menjadi sifat yang terbentuk sejak dini dan pada akhirnya nanti akan lahir sosok-sosok pribadi yang unggul tidak hanya dalam pengetahuan namun juga moral, sosial, emosional serta spiritual yang baik. Generasi inilah sebetulnya yang sangat diharapkan oleh semua.
Kata "al-umm" yang berarti ibu seakar dengan kata "imam" yang pada mulanya berarti pihak yang harus diikuti dan diteladani. Seorang makmum haruslah mengikuti imam dengan benar jika tidak ingin batal dalam keikutsertaannya berjamaah. Seorang anak pun demikian, kepada al-umm atau ibunya melakukan hal yang sama seperti makmum sehingga nantinya akan menjadi "ummat" -masih seakar dengan kata al-umm dan imam- yang benar.
Jika demikian maka sudah bisa dibayangkan betapa besar dan beratnya tugas yang diemban seorang ibu atau al-umm itu. Seorang ibu tidak hanya bertugas menghidupi putra-dan putrinya saja, namun ia juga harus memiliki kompetensi-kompetensi yang disebutkan diatas sehingga ia mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Disamping memiliki kompetensi tersebut, hal yang tidak kalah pentingnya adalah ia sanggup menjadi teladan bagi anaknya terkait dengan semua hal yang diajarkan dan dididiknya. Karena itulah dalam bahasa Arab ibu berarti "ummun".
Namun demikian, banyak dan beratnya tugas yang diemban seorang ibu dalam mengurus, mengajarkan dan mendidik anak-anaknya merupakan jihad tersendiri buatnya, yang bisa jadi tidak dimiliki oleh seorang ayah. Keuletan, ketelatenan dan kesabarannya dalam mengurus anak bisa terlihat sangat jelas kualitasnya jika tugas tersebut dilimpahkan kepada seorang ayah. Hal ini memang merupakan fitrah yang Allah berikan kepada makhluk yang katanya lemah, padahal sebenarnya sangat "kuat", yaitu seorang wanita terutama yang telah menjadi ibu.
Namun jika kita melihat pada kondisi dan kehidupan para ibu saat ini, rasanya apa yang disampaikan diatas banyak yang tidak terlaksana bahkan cenderung terabaikan. Walhasil, muncullah sosok-sosok anak yang tidak stabil mental dan intelektualiasnya karena tidak tersentuh oleh kasih sayang, kepedulian, perhatian orang tuanya terutama ibu yang -sebetulnya- kuantitas waktunya untuk anak lebih banyak.
Penyebabnya pun bisa kita ketahui misalnya, rendahnya pendidikan sehingga ibu bisa jadi tidak mampu memberikan pengetahuan sehingga anak tak terbiasa menerima pengetahuan dari sejak kecil yang bisa jadi mempengaruhi kualiata pendidikannya di sekolah formal. Ada juga prilaku anak yang buruk dan salah karena orang tuanya baik ibu dan ayahnya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga lalai dalam memberikan hak-hak anak, minimnya kuantitas pertemuan yang mengakrabkan bahkan hilang tugas kontrolnya sebagai orang tua yang menyebabkan anak bebas mengerjakan apapun yang diinginkan tanpa diketahui. Dan yang menyedihkan adalah ketika kebebasan anak itu mengarah kepada hal-hal negatif dan membahayakan. Diantara penyebabnya juga adalah karena prilaku orang tuanya yang memiliki perangai buruk. Anak adalah apa yang dilihat dan didengar dari orang tuanya. Sifatnya yang buruk akan menafikan dirinya sebagai teladan bagi anak-anaknya. Anak dengan sendirinya akan meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Inilah barangkali hal terburuk yang mampu diturunkan orang tua kepada anaknya.
Dari beberapa penyebab yang dipaparkan, bisa jadi yang terakhirlah yang sangat signifikan mencetak figur-figur anak yang kurang berkualitas. Kalau karena pendidikan orang tua, sebenarnya tidak sedikit juga orang tua yang tidak berpendidikan tinggi namun anaknya jauh melampauinya dan menjadi sukses. Ini bisa disebabkan karena motivasi dan arahan orang tuanya yang berkeinginan agar kekurangberhasilannya tidak menurun kepada generasinya, sehingga orang tua berupaya keras untuk menjadikan anak-anaknya lebih baik darinya. Kalau karena sifat workaholic nya orang tua, sebetulnya orang tua bisa memanfaatkan fasilitas modern berupa teknologi, untuk menjalin komunikasi yang aktif dan penuh keakraban. Fisik boleh berjauhan namun hubungan erat anak dan orang tua tetap dekat dihati. Mereka juga bisa mengintensifkan waktu libur untuk menjalin komunikasi serta hubungan yang berkualitas pada anak-anak mereka. Namun penyebab yang terakhir, yaitu perangai orang tua yang buruk, sekali lagi, bisa menjadi penyebab tersukses seorang anak mengikuti jejak buruknya. Bayangkan saja, orang tua yang tidak peduli melakukan keburukan yang dilihat oleh anak-anaknya, merupakan cerminan orang tua yang acuh terhadap perkembangan kepribadian positif seorang anak. Jika memang kondisinya demikian, maka bisa dipastikan seorang anak yang memiliki orang tua seperti itu tidak akan mendapatkan nilai-nilai positif bagi perkembangan intelektualnya, emosional, lebih-lebih spiritualnnya.
Jadi intinya, dari sekian penyebab munculnya sejumlah anak yang memiliki mental buruk disebabkan karena ketidakpedulian orang tua terutama ibu dalam mengurus, mengajar, mendidik serta menjadi teladan buat anak-anaknya. Dengan kata lain banyak dari para ibu yang mengabaikan fungsi dia sebagai al-umm seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Untuk itulah maka, bagi para wanita yang akan menjadi ibu hendaknya memahami dan menyadari tugas yang akan dia emban dengan baik. Keberhasilan seorang ibu akan sangat bergantung pada apa yang ia berikan buat anknya baik secara kuantitas maupun kualitas. Tidak bisa dipungkiri, seorang ibu yang mau mengurus dan mendidik anaknya secara penuh dan dengan komitmen yang tinggi, akan menuai hasil yang berbeda dengan seorang ibu yang hanya punya 1 hari untuk anaknya karena segudang kesibukan dan tugas yang dimilikinya. Tulisan ini bukan berarti menolak bahwa wanita tidak boleh berkarir diluar, namun sebagai penegasan bahwa kuantitas seorang ibu terhadap kepengurusan anaknya yang lebih sering pasti akan berbeda hasilnya dengan yang lebih sedikit.
Sebagai acuan dari penjelasan tadi lihatlah firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 33,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Ayat ini memang membicarakan tentang istri Nabi, namun bukan berarti tidak berlaku bagi wanita lain atau para ibu. Justru al-Qur'an itu merupakan petunjuk bagi semua kalangan tanpa batas. Dari sinilah idealnya, seorang ayahlah yang bertugas mencari nafkah dan istri memaksimalkan peran ibu dirumah dalam menyiapkan generasi muslim yang lebih tangguh dan unggul. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mampu menghadirkan seorang anak yang bisa berkontribusi besar bagi banyak pihak dan mampu meraih kesuksesannya untuk dunia dan akhirat.
Terkait dengan peran ibu dalam menyiapkan generasi emasnya, Muhammad Quthb dalam bukunya Ma’rakah At Taqalid menulis,
“Islam memperhatikan pria dan wanita karena mereka akan menjadi ibu-bapak produk baru. Tetapi Islam lebih memperhatikan wanita, karena wanitalah pembangun hakiki dari generasi. Sedangkan ayah baru menyusul kemudian. Mungkin ayah yang akan mendidik tapi itu nanti sesudah peranan sang ibu. Itulah sebabnya Islam mengusahakan terjaminnya belanja hidup sang ibu, agar ia tidak usah bekerja di luar rumah.”
Kebenaran Al Qur’an dan konsep Islam dalam mendudukkan perang seorang wanita menjadi ibu di rumah memang terbukti benar dalam serangkaian penelitian. Di Inggris kini telah terjadi tren dimana para wanita sudah terfikir meninggalkan karirnya dan memilih untuk berkonsentrasi di rumahnya.
Sebuah majalah wanita, Genius Beauty, memberitakan bahwa para psikolog dan sosiolog Inggris menemukan bahwa 70% wanita Inggris menginginkan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan pasangan mereka. Mereka memiliki kecendrungan untuk menjadi wanita yang lebih dekat kepada anaknya, ketimbang dengan “bos” nya.
Kembali kepada judul diatas, kalau seorang ibu dianalogikan dengan sekolah bagi anaknya, maka lihatlah, tidak semua sekolah mampu mencetak siswanya berhasil menjadi pribadi yang besar nan unggul. Hanya sekolah tertentu, dengan kualitas guru dan konsep pengajarannya yang benar serta komitmen kuat dari semua pihak untuk menjadikan anak didiknya berhasil dan unggul, maka seorang ibu pun mesti belajar dari situasi dan kondisi sebuah sekolah yang ada. Kalau ibu diibaratkan sekolah maka ayah merupakan pemilik sekolah tersebut. Sekolah tak akan bisa berkembang dan mencetak siswa yang sukses kalau pemilik sekolah tidak peduli dengan sekolah tersebut. Ibu berperan mengurus dan mendidik anak, ayah bertugas membiayai dan mengontrol perkembangan yang terjadi. Karena itu, ibu dan ayah harus bersinergi demi menghadirkan generasi yang unggul, mampu bersaing dan berkompetisi dengan tujuan bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi banyak orang yang dilandasi dengan emosional serta spiritual yang baik.
Selamat berjihad wahai para ibu, balasan baik dari Allah akan segera menanti.
Ada sebuah pepatah Arab yang menyatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama. Sekolah pertama tentunya bagi anak-anaknya yang dirawat dan dididiknya hingga mereka betulan masuk ke sekolah formal. Judul tulisan ini memang terispirasi dari pengamatan sederhana penulis tentang prilaku beberapa anak, baik itu prilaku baik maupun buruknya, yang terpengaruh dengan pola asuh dalam lingkungan keluarganya. Keluarga yang harmonis, penuh dengan perhatian antara anak dengan orang tua begitu juga sebaliknya, serta kepedulian dan ketegasan orang tua menyangkut hak, kewajiban serta kebutuhan anak, akan memberikan dampak positif yang tidak diraih oleh keluarga yang mengabaikan point-point tersebut.
Jika ibu diibaratkan sekolah bagi putra putrinya, berarti ia merupakan wadah sekaligus guru (murabbiyah) bagi mereka. Istilah murabbiyah tidak hanya berkonotasi pada pengajaran hal-hal baru pada anak yang terkait dengan ilmu dan pengetahuan, namun lebih jauh dari itu seorang murabbiyah juga akan mengajarkan kepadanya hal-hal yang patut atau tidak, benar atau salah, memberikan pengarahan tentang apa yang wajar untuk dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan, meninggalkan untuk memberikan sesuatu yang baik buatnya karena belum tepat masanya. Intinya seorang murabbiyah akan berkonsentrasi pada pembimbingan moral, karakter, kepribadian positif pada putra putrinya yang diharapkan akan menjadi kebiasaan kemudian menjadi sifat yang terbentuk sejak dini dan pada akhirnya nanti akan lahir sosok-sosok pribadi yang unggul tidak hanya dalam pengetahuan namun juga moral, sosial, emosional serta spiritual yang baik. Generasi inilah sebetulnya yang sangat diharapkan oleh semua.
Kata "al-umm" yang berarti ibu seakar dengan kata "imam" yang pada mulanya berarti pihak yang harus diikuti dan diteladani. Seorang makmum haruslah mengikuti imam dengan benar jika tidak ingin batal dalam keikutsertaannya berjamaah. Seorang anak pun demikian, kepada al-umm atau ibunya melakukan hal yang sama seperti makmum sehingga nantinya akan menjadi "ummat" -masih seakar dengan kata al-umm dan imam- yang benar.
Jika demikian maka sudah bisa dibayangkan betapa besar dan beratnya tugas yang diemban seorang ibu atau al-umm itu. Seorang ibu tidak hanya bertugas menghidupi putra-dan putrinya saja, namun ia juga harus memiliki kompetensi-kompetensi yang disebutkan diatas sehingga ia mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Disamping memiliki kompetensi tersebut, hal yang tidak kalah pentingnya adalah ia sanggup menjadi teladan bagi anaknya terkait dengan semua hal yang diajarkan dan dididiknya. Karena itulah dalam bahasa Arab ibu berarti "ummun".
Namun demikian, banyak dan beratnya tugas yang diemban seorang ibu dalam mengurus, mengajarkan dan mendidik anak-anaknya merupakan jihad tersendiri buatnya, yang bisa jadi tidak dimiliki oleh seorang ayah. Keuletan, ketelatenan dan kesabarannya dalam mengurus anak bisa terlihat sangat jelas kualitasnya jika tugas tersebut dilimpahkan kepada seorang ayah. Hal ini memang merupakan fitrah yang Allah berikan kepada makhluk yang katanya lemah, padahal sebenarnya sangat "kuat", yaitu seorang wanita terutama yang telah menjadi ibu.
Namun jika kita melihat pada kondisi dan kehidupan para ibu saat ini, rasanya apa yang disampaikan diatas banyak yang tidak terlaksana bahkan cenderung terabaikan. Walhasil, muncullah sosok-sosok anak yang tidak stabil mental dan intelektualiasnya karena tidak tersentuh oleh kasih sayang, kepedulian, perhatian orang tuanya terutama ibu yang -sebetulnya- kuantitas waktunya untuk anak lebih banyak.
Penyebabnya pun bisa kita ketahui misalnya, rendahnya pendidikan sehingga ibu bisa jadi tidak mampu memberikan pengetahuan sehingga anak tak terbiasa menerima pengetahuan dari sejak kecil yang bisa jadi mempengaruhi kualiata pendidikannya di sekolah formal. Ada juga prilaku anak yang buruk dan salah karena orang tuanya baik ibu dan ayahnya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga lalai dalam memberikan hak-hak anak, minimnya kuantitas pertemuan yang mengakrabkan bahkan hilang tugas kontrolnya sebagai orang tua yang menyebabkan anak bebas mengerjakan apapun yang diinginkan tanpa diketahui. Dan yang menyedihkan adalah ketika kebebasan anak itu mengarah kepada hal-hal negatif dan membahayakan. Diantara penyebabnya juga adalah karena prilaku orang tuanya yang memiliki perangai buruk. Anak adalah apa yang dilihat dan didengar dari orang tuanya. Sifatnya yang buruk akan menafikan dirinya sebagai teladan bagi anak-anaknya. Anak dengan sendirinya akan meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Inilah barangkali hal terburuk yang mampu diturunkan orang tua kepada anaknya.
Dari beberapa penyebab yang dipaparkan, bisa jadi yang terakhirlah yang sangat signifikan mencetak figur-figur anak yang kurang berkualitas. Kalau karena pendidikan orang tua, sebenarnya tidak sedikit juga orang tua yang tidak berpendidikan tinggi namun anaknya jauh melampauinya dan menjadi sukses. Ini bisa disebabkan karena motivasi dan arahan orang tuanya yang berkeinginan agar kekurangberhasilannya tidak menurun kepada generasinya, sehingga orang tua berupaya keras untuk menjadikan anak-anaknya lebih baik darinya. Kalau karena sifat workaholic nya orang tua, sebetulnya orang tua bisa memanfaatkan fasilitas modern berupa teknologi, untuk menjalin komunikasi yang aktif dan penuh keakraban. Fisik boleh berjauhan namun hubungan erat anak dan orang tua tetap dekat dihati. Mereka juga bisa mengintensifkan waktu libur untuk menjalin komunikasi serta hubungan yang berkualitas pada anak-anak mereka. Namun penyebab yang terakhir, yaitu perangai orang tua yang buruk, sekali lagi, bisa menjadi penyebab tersukses seorang anak mengikuti jejak buruknya. Bayangkan saja, orang tua yang tidak peduli melakukan keburukan yang dilihat oleh anak-anaknya, merupakan cerminan orang tua yang acuh terhadap perkembangan kepribadian positif seorang anak. Jika memang kondisinya demikian, maka bisa dipastikan seorang anak yang memiliki orang tua seperti itu tidak akan mendapatkan nilai-nilai positif bagi perkembangan intelektualnya, emosional, lebih-lebih spiritualnnya.
Jadi intinya, dari sekian penyebab munculnya sejumlah anak yang memiliki mental buruk disebabkan karena ketidakpedulian orang tua terutama ibu dalam mengurus, mengajar, mendidik serta menjadi teladan buat anak-anaknya. Dengan kata lain banyak dari para ibu yang mengabaikan fungsi dia sebagai al-umm seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Untuk itulah maka, bagi para wanita yang akan menjadi ibu hendaknya memahami dan menyadari tugas yang akan dia emban dengan baik. Keberhasilan seorang ibu akan sangat bergantung pada apa yang ia berikan buat anknya baik secara kuantitas maupun kualitas. Tidak bisa dipungkiri, seorang ibu yang mau mengurus dan mendidik anaknya secara penuh dan dengan komitmen yang tinggi, akan menuai hasil yang berbeda dengan seorang ibu yang hanya punya 1 hari untuk anaknya karena segudang kesibukan dan tugas yang dimilikinya. Tulisan ini bukan berarti menolak bahwa wanita tidak boleh berkarir diluar, namun sebagai penegasan bahwa kuantitas seorang ibu terhadap kepengurusan anaknya yang lebih sering pasti akan berbeda hasilnya dengan yang lebih sedikit.
Sebagai acuan dari penjelasan tadi lihatlah firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 33,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Ayat ini memang membicarakan tentang istri Nabi, namun bukan berarti tidak berlaku bagi wanita lain atau para ibu. Justru al-Qur'an itu merupakan petunjuk bagi semua kalangan tanpa batas. Dari sinilah idealnya, seorang ayahlah yang bertugas mencari nafkah dan istri memaksimalkan peran ibu dirumah dalam menyiapkan generasi muslim yang lebih tangguh dan unggul. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain mampu menghadirkan seorang anak yang bisa berkontribusi besar bagi banyak pihak dan mampu meraih kesuksesannya untuk dunia dan akhirat.
Terkait dengan peran ibu dalam menyiapkan generasi emasnya, Muhammad Quthb dalam bukunya Ma’rakah At Taqalid menulis,
“Islam memperhatikan pria dan wanita karena mereka akan menjadi ibu-bapak produk baru. Tetapi Islam lebih memperhatikan wanita, karena wanitalah pembangun hakiki dari generasi. Sedangkan ayah baru menyusul kemudian. Mungkin ayah yang akan mendidik tapi itu nanti sesudah peranan sang ibu. Itulah sebabnya Islam mengusahakan terjaminnya belanja hidup sang ibu, agar ia tidak usah bekerja di luar rumah.”
Kebenaran Al Qur’an dan konsep Islam dalam mendudukkan perang seorang wanita menjadi ibu di rumah memang terbukti benar dalam serangkaian penelitian. Di Inggris kini telah terjadi tren dimana para wanita sudah terfikir meninggalkan karirnya dan memilih untuk berkonsentrasi di rumahnya.
Sebuah majalah wanita, Genius Beauty, memberitakan bahwa para psikolog dan sosiolog Inggris menemukan bahwa 70% wanita Inggris menginginkan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan pasangan mereka. Mereka memiliki kecendrungan untuk menjadi wanita yang lebih dekat kepada anaknya, ketimbang dengan “bos” nya.
Kembali kepada judul diatas, kalau seorang ibu dianalogikan dengan sekolah bagi anaknya, maka lihatlah, tidak semua sekolah mampu mencetak siswanya berhasil menjadi pribadi yang besar nan unggul. Hanya sekolah tertentu, dengan kualitas guru dan konsep pengajarannya yang benar serta komitmen kuat dari semua pihak untuk menjadikan anak didiknya berhasil dan unggul, maka seorang ibu pun mesti belajar dari situasi dan kondisi sebuah sekolah yang ada. Kalau ibu diibaratkan sekolah maka ayah merupakan pemilik sekolah tersebut. Sekolah tak akan bisa berkembang dan mencetak siswa yang sukses kalau pemilik sekolah tidak peduli dengan sekolah tersebut. Ibu berperan mengurus dan mendidik anak, ayah bertugas membiayai dan mengontrol perkembangan yang terjadi. Karena itu, ibu dan ayah harus bersinergi demi menghadirkan generasi yang unggul, mampu bersaing dan berkompetisi dengan tujuan bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi banyak orang yang dilandasi dengan emosional serta spiritual yang baik.
Selamat berjihad wahai para ibu, balasan baik dari Allah akan segera menanti.
Selasa, 13 November 2012
Jumat, 09 November 2012
ARRAHMAN dan ARRAHIM Kunci Sukses Seorang Pemimpin
By : Rijal Muhammad
Selasa, 30 Oktober 2012
Kamis, 25 Oktober 2012
Tugas Ibadah untuk Kelas VIII SMP ALBESD
By : Rijal Muhammad
Jawablah pertanyaan berikut kemudian masukkan setiap jawaban kedalam slide power point.
1. Arti puasa menurut bahasa dan istilah
2. Sebutkan rukun-rukun puasa
3. Sebutkan dan jelaskan macam-macam puasa wajib
4. Sebutkan dan jelaskan syarat wajib puasa
5. Sebutkan dan jelaskan syarat sah puasa
6. Sebutkan hal-hal yang membatalkan puasa
7. Sebutkan beberapa ayat dan surat tentang puasa wajib
8. Sebutkan beberapa hal yang menyebabkan seorang melakukan puasa kifarat
Masing-masing dari pertanyaan tersebut kamu cari jawabannya dan masukkan jawaban tersebut kedalam power point. Setiap satu soal satu slide sehingga keseluruhannya ada 8 slide.
Untuk melengkapi jawaban silahkan cari sumber jawaban dari internet dan buku manapun. Buatlah sebaik-baiknya. Hasil karya siswa yang terbaik akan dipresentasikan dikelas.
Untuk penilaian, jika kamu kirim jawabannya malam ini hingga pukul 24.00 maka jika benar akan dapat nilai 100. Jika hingga pukul 24.00 besoknya maka nilai akan berkurang 10 point dan seterusnya. Batas terakhir pengiriman hingga minggu malam.
Selamat mengerjakan... salam sukses
Nb. Kirim jawabannya ke al_chiner29@yahoo.com
jangan lupa cantumkan nama dan kelas..
Jawablah pertanyaan berikut kemudian masukkan setiap jawaban kedalam slide power point.
1. Arti puasa menurut bahasa dan istilah
2. Sebutkan rukun-rukun puasa
3. Sebutkan dan jelaskan macam-macam puasa wajib
4. Sebutkan dan jelaskan syarat wajib puasa
5. Sebutkan dan jelaskan syarat sah puasa
6. Sebutkan hal-hal yang membatalkan puasa
7. Sebutkan beberapa ayat dan surat tentang puasa wajib
8. Sebutkan beberapa hal yang menyebabkan seorang melakukan puasa kifarat
Masing-masing dari pertanyaan tersebut kamu cari jawabannya dan masukkan jawaban tersebut kedalam power point. Setiap satu soal satu slide sehingga keseluruhannya ada 8 slide.
Untuk melengkapi jawaban silahkan cari sumber jawaban dari internet dan buku manapun. Buatlah sebaik-baiknya. Hasil karya siswa yang terbaik akan dipresentasikan dikelas.
Untuk penilaian, jika kamu kirim jawabannya malam ini hingga pukul 24.00 maka jika benar akan dapat nilai 100. Jika hingga pukul 24.00 besoknya maka nilai akan berkurang 10 point dan seterusnya. Batas terakhir pengiriman hingga minggu malam.
Selamat mengerjakan... salam sukses
Nb. Kirim jawabannya ke al_chiner29@yahoo.com
jangan lupa cantumkan nama dan kelas..
Jumat, 05 Oktober 2012
Seberapa MUNAFIK kah kita?
By : Rijal Muhammad
Judul tulisan ini memang agak menuduh Anda -termasuk Saya-, seolah sifat tersebut telah mengikat kita sehingga siapapun tidak bisa terlepas darinya. Besar atau kecil, sering atau jarang, dilakukan dengan penuh "penjiwaan" atau hanya sebatas berpura-pura atau acting, paling tidak kualitas inilah yang membedakan kita dengan yang lain terkait dengan pengamalan sifat munafik tersebut.
Dari segi etimologi, kata munafik itu seakar dengan kata yang berarti terowongan, dan dari akarnya, lahir kata nafiqa, yaitu sejenis tikus. Ini karena biasanya tikus bersembunyi dalam terowongan. Ia memiliki dua jalan masuk dan keluar, yaitu mulut terowongan yang ada pada dua ujungnya. Apabila ditemukan pada mulut terowongan ini, ia bersembunyi dan lari ke arah mulut terowongan yang itu. Perumpamaan kebahasaan ini memang menggambarkan keadaan orang munafik yang memiliki paham dualisme. Jika tidak A maka B, jika ucapannya C saat ini maka bisa jadi D esok hari, tergantung kapan dibutuhkannya sifat tersebut untuk mencari kenyamanannya dalam bertindak. Karena itu, dalam keseharian orang munafik disebut seperti orang memiliki 2 muka. Kalau dalam Agama, munafik adalah seseorang yang menampakkan keimanan padahal hatinya tidak beriman.
Untuk mengetahui atau mengecek seberapa munafik kita, cobalah dijawab dengan jujur beberapa pertanyaan berikut yang dinuqil dari beberapa ayat al-Qur'an, Hadits Nabi juga beberapa keterangan para ulama. Diantaranya ;
1. Apakah Anda suka berbohong?
2. Apakah Anda sering berjanji pada seseorang untuk dilakukan atau diselesaikan tapi akhirnya malah tidak dikerjakan?
3. Apakah Anda jika diberi amanah untuk dilaksanakan kemudian tidak terlalu peduli untuk melaksanakannya?
4. Apakah Anda malas untuk melakukan shalat terutama jika sendiri?
5. Apakah Anda berat untuk melakukan shalat isya dan subuh?
6. Apakah Anda saat shalat, sedekah atau ibadah lainnya masih perlu untuk dikomentari oleh orang rain?
7. Apakah jika Anda melakukan ibadah, akan lebih semangat jika dilihat atau berada ditengah-tengah orang lain?
8. Apakah Anda jarang berdzikir, mengingat kebesaran Allah apalagi saat malam hari?
9. Apakah jika Anda memusuhi saudara se-Muslim kemudian tega untuk melakukan aneka kedzoliman dan kedurhakaan padanya?
10. Apakah Anda jika ingin melakukan sesuatu membiasakan diri dengan bersumpah?
11. Apakah Anda merasa berat jika mengeluarkan infaq atau sedekah?
12. Apakah saat mendengar ayat-ayat Allah atau Hadits Rasul-Nya Anda meremehkan atau bahkan memperolok-oloknya?
13. Apakah Anda merasa tidak memiliki keteguhan antara zahir dan bathin Anda sehingga merasa seperti terombang-ambing?
14. Apakah Anda senang jika melihat saudara atau tetangga atau teman yang sedang mendapatkan musibah?
15. Apakah Anda tidak ragu untuk memerintahkan kemunkaran dan melarang kebaikan?
16. Apakah Anda tidak merasa bersalah atau berdosa saat melakukan keburukan atau larangan?
Jika jawaban Anda "Ya" pada semua pertanyaan-pertanyaan diatas maka Anda betul-betul mengidap sifat munafik tersebut. Jika Anda hanya menjawab "Ya" pada sebagian pertanyaan dan "tidak" pada sebagian yang lain, maka sejujurnya sifat munafik itu tetap ada meski kadar untuk setiap orang berbeda. Inilah yang saya maksud dengan judul tulisan ini.
Sebagian ulama, seperti Ibnu Katsir misalnya, membagi sifat munafik ini menjadi 2 bagian. Ada yang sifatnya I'tiqadiy yaitu, kemunafikan yang terkait dengan masalah aqidah dan keimanan. Dia mengaku beriman padahal sebetulnya tidak. Dan prilakunya pun tidak mencerminkan bahwa dia sebagai orang yang beriman. Andai melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang betul-betul beriman pun, hanyalah sebuah kamuflase untuk mengelabui yang lain bahwa dia pun sebetulnya berada pada golongan mereka. Golongan munafik yang seperti inilah yang akan dipersiapkan oleh Allah singgasana Jahannam seperti yang dinyatakan oleh beberapa ayat dalam al-Qur'an.
Ada juga sifat munafik yang disebut Amaliy, yaitu kemunafikan yang terjadi pada tataran perbuatan seperti berbohong, riya, menyalahi janji, sumpah palsu dan lain-lain. Pada tingkatan ini, rasanya banyak orang yang dihinggapi sifat ini. Namun demikian, Ulama tersebut tidak mengkalim yang melakukan kemunafikan pada tingkatan ini akan masuk ke singgasana Jahannam karena Allah masih memberikan kesempatan pada orang-orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya dengan taubat.
Tapi apapun jenisnya, kemunafikan itu merupakan penyakit kejiwaan yang salah, tidak sehat bahkan bodoh. Salah karena memang semua tindakan orang yang munafik itu tidak akan dibenarkan oleh siapapun dan dengan logika apapun. Tidak sehat karena memang kemunafikan itu akan mengantarkan orang pada "sakit" yang bisa menggerogoti kejiwaannya dari mulai ragu-ragu, bimbang hingga penipuan yang bisa mencelakakan diri dan jiwa pelakunya. Sedangkan bodoh, sebenarnya, orang yang munafik itu baik sadar atau tidak sadar sedang melakukan penipuan baik pada dirinya maupun pada Tuhannya. Sayangnya, yang terjadi bukan dia yang menipu atau mempermainkan Tuhannya, justru Dialah yang mempermainkannya. Ketidaktahuannya inilah yang membuatnya bodoh karena sebenarya Tuhannya Maha Melihat segala yang dia ucapkan dan lakukan.
Dari segi keberadaannya, orang munafik -terutama pada tingkatan i'tiqadiy- akan menjadi lebih berbahaya, karena ia seperti penyelinap atau musuh yang berkumpul bersama dengan orang-orang yang normal pada umumnya. Dia diibaratkan seperti musuh dalam selimut, yang sewaktu-waktu bisa menyerang (baca: mempengaruhi) orang sekitarnya supaya bisa ikut bersamanya.
Ingatlah, bahwa dalam Agama albasyar atau manusia itu hanyalah ada mu'min, kafir dan munafik. Allah hanyalah menetapkan sunnah-sunnah, petunjuk-Nya pada orang yang beriman. Orang-orang kafir juga yang munafik adalah yang telah keluar dari koridor petunjuk-Nya sehingga adzab serta konsekwensi perbuatannya akan dibalas dihari pembalasan nanti. Pantaslah bahwa Allah menyatakan akan menghimpun orang munafik dan kafir dalam satu singgasana neraka-Nya. Wal iyadzu billah.
Judul tulisan ini memang agak menuduh Anda -termasuk Saya-, seolah sifat tersebut telah mengikat kita sehingga siapapun tidak bisa terlepas darinya. Besar atau kecil, sering atau jarang, dilakukan dengan penuh "penjiwaan" atau hanya sebatas berpura-pura atau acting, paling tidak kualitas inilah yang membedakan kita dengan yang lain terkait dengan pengamalan sifat munafik tersebut.
Dari segi etimologi, kata munafik itu seakar dengan kata yang berarti terowongan, dan dari akarnya, lahir kata nafiqa, yaitu sejenis tikus. Ini karena biasanya tikus bersembunyi dalam terowongan. Ia memiliki dua jalan masuk dan keluar, yaitu mulut terowongan yang ada pada dua ujungnya. Apabila ditemukan pada mulut terowongan ini, ia bersembunyi dan lari ke arah mulut terowongan yang itu. Perumpamaan kebahasaan ini memang menggambarkan keadaan orang munafik yang memiliki paham dualisme. Jika tidak A maka B, jika ucapannya C saat ini maka bisa jadi D esok hari, tergantung kapan dibutuhkannya sifat tersebut untuk mencari kenyamanannya dalam bertindak. Karena itu, dalam keseharian orang munafik disebut seperti orang memiliki 2 muka. Kalau dalam Agama, munafik adalah seseorang yang menampakkan keimanan padahal hatinya tidak beriman.
Untuk mengetahui atau mengecek seberapa munafik kita, cobalah dijawab dengan jujur beberapa pertanyaan berikut yang dinuqil dari beberapa ayat al-Qur'an, Hadits Nabi juga beberapa keterangan para ulama. Diantaranya ;
1. Apakah Anda suka berbohong?
2. Apakah Anda sering berjanji pada seseorang untuk dilakukan atau diselesaikan tapi akhirnya malah tidak dikerjakan?
3. Apakah Anda jika diberi amanah untuk dilaksanakan kemudian tidak terlalu peduli untuk melaksanakannya?
4. Apakah Anda malas untuk melakukan shalat terutama jika sendiri?
5. Apakah Anda berat untuk melakukan shalat isya dan subuh?
6. Apakah Anda saat shalat, sedekah atau ibadah lainnya masih perlu untuk dikomentari oleh orang rain?
7. Apakah jika Anda melakukan ibadah, akan lebih semangat jika dilihat atau berada ditengah-tengah orang lain?
8. Apakah Anda jarang berdzikir, mengingat kebesaran Allah apalagi saat malam hari?
9. Apakah jika Anda memusuhi saudara se-Muslim kemudian tega untuk melakukan aneka kedzoliman dan kedurhakaan padanya?
10. Apakah Anda jika ingin melakukan sesuatu membiasakan diri dengan bersumpah?
11. Apakah Anda merasa berat jika mengeluarkan infaq atau sedekah?
12. Apakah saat mendengar ayat-ayat Allah atau Hadits Rasul-Nya Anda meremehkan atau bahkan memperolok-oloknya?
13. Apakah Anda merasa tidak memiliki keteguhan antara zahir dan bathin Anda sehingga merasa seperti terombang-ambing?
14. Apakah Anda senang jika melihat saudara atau tetangga atau teman yang sedang mendapatkan musibah?
15. Apakah Anda tidak ragu untuk memerintahkan kemunkaran dan melarang kebaikan?
16. Apakah Anda tidak merasa bersalah atau berdosa saat melakukan keburukan atau larangan?
Jika jawaban Anda "Ya" pada semua pertanyaan-pertanyaan diatas maka Anda betul-betul mengidap sifat munafik tersebut. Jika Anda hanya menjawab "Ya" pada sebagian pertanyaan dan "tidak" pada sebagian yang lain, maka sejujurnya sifat munafik itu tetap ada meski kadar untuk setiap orang berbeda. Inilah yang saya maksud dengan judul tulisan ini.
Sebagian ulama, seperti Ibnu Katsir misalnya, membagi sifat munafik ini menjadi 2 bagian. Ada yang sifatnya I'tiqadiy yaitu, kemunafikan yang terkait dengan masalah aqidah dan keimanan. Dia mengaku beriman padahal sebetulnya tidak. Dan prilakunya pun tidak mencerminkan bahwa dia sebagai orang yang beriman. Andai melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang betul-betul beriman pun, hanyalah sebuah kamuflase untuk mengelabui yang lain bahwa dia pun sebetulnya berada pada golongan mereka. Golongan munafik yang seperti inilah yang akan dipersiapkan oleh Allah singgasana Jahannam seperti yang dinyatakan oleh beberapa ayat dalam al-Qur'an.
Ada juga sifat munafik yang disebut Amaliy, yaitu kemunafikan yang terjadi pada tataran perbuatan seperti berbohong, riya, menyalahi janji, sumpah palsu dan lain-lain. Pada tingkatan ini, rasanya banyak orang yang dihinggapi sifat ini. Namun demikian, Ulama tersebut tidak mengkalim yang melakukan kemunafikan pada tingkatan ini akan masuk ke singgasana Jahannam karena Allah masih memberikan kesempatan pada orang-orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya dengan taubat.
Tapi apapun jenisnya, kemunafikan itu merupakan penyakit kejiwaan yang salah, tidak sehat bahkan bodoh. Salah karena memang semua tindakan orang yang munafik itu tidak akan dibenarkan oleh siapapun dan dengan logika apapun. Tidak sehat karena memang kemunafikan itu akan mengantarkan orang pada "sakit" yang bisa menggerogoti kejiwaannya dari mulai ragu-ragu, bimbang hingga penipuan yang bisa mencelakakan diri dan jiwa pelakunya. Sedangkan bodoh, sebenarnya, orang yang munafik itu baik sadar atau tidak sadar sedang melakukan penipuan baik pada dirinya maupun pada Tuhannya. Sayangnya, yang terjadi bukan dia yang menipu atau mempermainkan Tuhannya, justru Dialah yang mempermainkannya. Ketidaktahuannya inilah yang membuatnya bodoh karena sebenarya Tuhannya Maha Melihat segala yang dia ucapkan dan lakukan.
Dari segi keberadaannya, orang munafik -terutama pada tingkatan i'tiqadiy- akan menjadi lebih berbahaya, karena ia seperti penyelinap atau musuh yang berkumpul bersama dengan orang-orang yang normal pada umumnya. Dia diibaratkan seperti musuh dalam selimut, yang sewaktu-waktu bisa menyerang (baca: mempengaruhi) orang sekitarnya supaya bisa ikut bersamanya.
Ingatlah, bahwa dalam Agama albasyar atau manusia itu hanyalah ada mu'min, kafir dan munafik. Allah hanyalah menetapkan sunnah-sunnah, petunjuk-Nya pada orang yang beriman. Orang-orang kafir juga yang munafik adalah yang telah keluar dari koridor petunjuk-Nya sehingga adzab serta konsekwensi perbuatannya akan dibalas dihari pembalasan nanti. Pantaslah bahwa Allah menyatakan akan menghimpun orang munafik dan kafir dalam satu singgasana neraka-Nya. Wal iyadzu billah.
Langganan:
Postingan (Atom)
